Ditulis Oleh: Anthony Budiawan
Rektor – Kwik Kian Gie School of Business
Sering kali, para pejabat kita berbicara, atau membuat pernyataan, tanpa makna dan tanpa bisa dimengerti sama sekali. Sebagai contoh, mari kita simak Siaran Pers Bank Indonesia pada 12 Desember 2013 yang saya kutip di bawah ini.
“ …….. Bank Indonesia menilai tren perlambatan ekonomi domestik sejalan dengan arah kebijakan stabilisasi Pemerintah dan Bank Indonesia dalam membawa pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih sehat dan seimbang.”
Kalimat ini sungguh membuat alis kita berkerut karena tidak mengerti apa yang ingin dijelaskan oleh Bank Indonesia. Bagaimana perlambatan ekonomi domestik dapat membawa pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih sehat dan seimbang? Apakah selama ini pertumbuhan ekonomi kita tidak sehat dan tidak seimbang, dan, oleh karena itu, harus diperlambat agar lebih sehat dan seimbang? Apa yang dimaksud dengan “sehat” dan “seimbang”? Apa kriterianya? Apakah karena neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan mengalami defisit berkepanjangan sehingga pertumbuhan ekonomi kita dikategorikan tidak sehat dan tidak seimbang? Apabila benar demikian, apakah kebijakan memperlambat pertumbuhan ekonomi yang dimaksud di atas (misalnya, melalui penaikan BI rate) dapat membuat pertumbuhan ekonomi kita ke arah yang lebih “sehat”. Dengan kata lain, apakah kebijakan menaikkan BI rate dapat mengurangi defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan? Bagaimana mencapai pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih “seimbang”? Pernyataan seperti ini jelas tidak bermakna dan tidak dapat dimengerti sama sekali. Seyogyanya, Bank Indonesia sebagai otoritas moneter membuat pernyataan yang jauh lebih berkualitas, tegas dan jelas, daripada kalimat yang tidak dapat ditangkap isinya seperti di atas. Lanjutkan membaca Pernyataan Tidak Bermakna Bank Indonesia →