{"id":889,"date":"2014-12-30T11:18:15","date_gmt":"2014-12-30T04:18:15","guid":{"rendered":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/?p=889"},"modified":"2014-12-30T11:20:22","modified_gmt":"2014-12-30T04:20:22","slug":"pemerintah-bingung-konglomerat-mungkin-untung-rakyat-buntung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/2014\/12\/pemerintah-bingung-konglomerat-mungkin-untung-rakyat-buntung\/","title":{"rendered":"PEMERINTAH BINGUNG, KONGLOMERAT MUNGKIN UNTUNG, RAKYAT BUNTUNG"},"content":{"rendered":"<p align=\"center\"><strong>Oleh  Kwik Kian Gie<\/strong><\/p>\n<div align = \"justify\">\n<p>Masyarakat mendapat  kesan bahwa Pemerintah kebingungan dalam mengambil kebijakan tentang harga  bensin, terutama bensin premium. Faktor terpenting dari kebingungan adalah  kenaikan harga bensin premium dari Rp. 6.500 per liter menjadi <strong>Rp. 8.500<\/strong> dilakukan ketika harga minyak  mentah di pasar internasional sekitar USD 80 per barrel, yang ekivalen dengan  harga bensin sebesar <strong>Rp. 6.038<\/strong> (80 :  159 x 12.000 + Rp. 755) per liter.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p>Sepanjang masa  sebelumnya dikatakan bahwa harga bensin harus didasarkan atas harga minyak  mentah yang ditentukan oleh NYMEX, walaupun minyak mentahnya miliknya sendiri.  Kalau lebih rendah, selisihnya disebut &ldquo;subsidi&rdquo;. Lantas kata &ldquo;subsidi&rdquo;  ditafsirkan sebagai uang tunai yang benar-benar dikeluarkan, dan angkanya  digembar-gemborkan sebagai faktor yang membuat APBN jebol.<\/p>\n<p>Logika matematik anak  SMA akan mengatakan kok aneh ? Untuk minyak mentah yang oleh Pemerintah disedot  dari perut bumi Indonesia kan tidak perlu dibayar ? Uang tunai yang dikeluarkan  untuk <em>lifting, refining<\/em> dan <em>transporting<\/em> kalau kita anggap yang  paling boros sebesar USD 10 per barrel, atau per liternya sama dengan (10 : 159  x Rp. 12.000) = Rp. 755 per liter. Kalau dijual dengan harga Rp. 4.500 saja,  Pemerintah sudah kelebihan uang tunai sebesar Rp. 4.500 \u2013 Rp. 755 = Rp. 3.745  per liternya. Maka dengan harga sebelumnya yang Rp. 6.500 per liter, untuk  bensin premium yang berasal dari minyak mentah dari dalam perut bumi Indonesia  sendiri, Pemerintah sudah kelebihan uang tunai sebesar Rp. 5.745 per liternya.  Kabinet Kerja menaikkannya menjadi Rp. 8.500 per liter, sehingga kelebihan uang  tunainya menjadi Rp. 8.500 \u2013 Rp. 755 = Rp. 7.745 per liter.<\/p>\n<p>Kalau berpegang pada  prinsip bensin yang berasal dari perut bumi Indonesia harus dijual dengan nilai  atau harga keekonomian, yang ketika itu USD 80 per barrel, atau per liternya =  (80 : 159 x 12.000) = Rp. 6.038 seperti yang telah dihitung diatas.<\/p>\n<p>Setelah itu segera  saja harga minyak mentah NYMEX turun terus yang saat ini sudah di bawah USD 65  per barrel. Katakanlah bahwa Indonesia harus membeli dengan harga USD 75 CIF,  maka harga minyak mentah CIF Indonesia yang dibeli dari mana saja dengan harga  NYMEX per liternya sebesar (75 : 159 x 12.000) = Rp. 5.660. Ditambah dengan  biaya-biaya <em>refining<\/em> dan <em>transporting<\/em> yang Rp. 755 per liter,  uang tunai yang harus dikeluarkan untuk menyediakan bensin premium kepada  rakyat Indonesia sama dengan Rp. 5.660 + Rp. 755 = Rp. 6.415. Dijual dengan  harga Rp. 8.500, sehingga kelebihan uang tunai per liternya untuk penjualan  bensin premium sama dengan Rp. 8.500 \u2013 Rp. 6.415 = Rp. 2.085.<\/p>\n<p>Apa artinya ini buat  pengusaha minyak swasta ? Andaikan saya pengusaha besar yang punya banyak modal.  Saya bisa mengadakan bensin premium dengan harga Rp. 8.000 per liter, dan masih  untung Rp. 8.000 \u2013 Rp. 6.415 = Rp. 1.585 per liternya. <\/p>\n<p>Konsumsi bensin  premium Indonesia diperkirakan 90% dari 70 juta kiloliter atau 63 juta  kiloliter per tahun. Per harinya sama dengan 63.000.000.000 liter : 365 = 173  juta liter per hari.<\/p>\n<p>Konon kabarnya ada 10  konglomerat yang berperan besar dalam memenangkan Bapak Ir. Jokowi menjadi  Presiden RI. Kalau saja mereka diberi imbalan menjual bensin premium kepada  Pemerintah dengan harga miring sebesar Rp. 8.000 per liter versus Rp. 8.500 per  liter, masing-masing dari 10 konglomerat itu akan untung 17.300.000 liter x Rp.  1.585 = Rp. 27 milyar per hari.<\/p>\n<p>Maka seandainya Pemerintah  membeli seluruh kebutuhan bensin premium yang 17,3 juta liter per harinya itu  dari 10 konglomerat sebagai imbalan atas jasa-jasanya memenangkan Jokowi,  Pemerintah untung Rp. 500 x 173.000.000 = Rp. 86,5 per harinya atau Rp. 52  trilyun per tahun. 10 konglomerat itu masing-masing akan untung Rp. 27 milyar  per hari atau Rp. 10 trilyun per tahun (Rp. 27 milyar x 365).<\/p>\n<p>Karena Pemerintah  tidak perlu lagi memproses minyak mentah yang disedot dari perut bumi Indonesia  untuk dijadikan bensin premium, minyak mentahnya dijual dengan harga USD 75 CIF  per barrel. Per hari mendapat uang tunai sebesar (75 x 320.000 x 12.000)= Rp.  288 milyar atau per tahunnya Rp. 105 trilyun. Jumlah perolehan uang tunai dari  bensin premium Pemerintah per tahunnya sebesar Rp. 105 trilyun + Rp. 32 trilyun  = Rp. 137 trilyun.<\/p>\n<p>  <strong>Rangkumannya per  hari sebagai berikut.<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Lifting  800.000 barrel\/hari.<\/li>\n<li>Hak  Indonesia 40% = 320.000 barrel\/hari<\/li>\n<li>Ini  dijual di pasar internasional dengan harga <br \/>\n    USD 75\/barrel.<br \/>\n    Hasil Penjualannya per hari : <br \/>\n    (320.000 x 75 x 12.000) = Rp. 288 milyar atau <br \/>\n    per tahun = Rp. 288 x 365 = Rp.  105 trilyun<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Karena tidak  punya minyak mentah lagi, bensin premium dibeli dari 10 konglomerat dengan harga Rp. 8.000 per liter, dijual dengan harga Rp. 8.500. Untungnya Rp. 500\/liter.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<table width=\"803\" height=\"194\" border=\"0\">\n<tr>\n<td width=\"384\">\n<li>Konsumsi bensin premium 90%  dari 70 juta <br \/>\nkiloliter \/tahun = 63 juta kiloliter. <\/li>\n<\/td>\n<td width=\"387\">&nbsp;<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<li>Keuntungan dari pembelian  dari 10 konglomerat = <br \/>\n63 juta kiloliter\u00a0 x Rp. 500 = <\/li>\n<\/td>\n<td><u>\u00a0\u00a0\u00a0 32 trilyun <\/u><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Pemerintah mendapat keuntungan  dalam bentuk kelebihan<br \/>\nuang tunai sebesar <\/td>\n<td>Rp. 137 trilyun<br \/>\n    ==========<\/td>\n<\/tr>\n<\/table>\n<p><\/p>\n<p><strong>KEUNTUNGAN  10 KONGLOMERAT<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Konsumsi bensin premium : 90% dari 70  juta kiloliter\/tahun = 63 juta kiloliter\/tahun.<\/li>\n<li>Konsumsi per hari : (63 juta kiloliter  : 365) = 173.000.000 liter.<\/li>\n<li>Keuntungan per liter Rp. 1.585 (lihat  atas).<\/li>\n<li>Keuntungan buat 10 konglomerat  (173.000.000 x Rp. 1.585) = Rp. 274 milyar per hari.<\/li>\n<li>Keuntungan setiap konglomerat per hari  : 274 milyar : 10 = Rp. 27 milyar per hari.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Dengan keuntungan  tunai sebesar ini, para konglomerat telah dibayar sangat mahal untuk  jasa-jasanya.<\/p>\n<p>  Perlu saya tegaskan bahwa kesemuanya ini dengan asumsi <strong>&lsquo;SEANDAINYA<\/strong>&rdquo;<\/p>\n<p>  <strong>RAKYAT BUNTUNG<\/strong><\/p>\n<p>Dengan kenaikan harga  bensin premium yang demikian drastisnya, yaitu dengan Rp. 2.000 atau 31 %,  rakyat banyak sangat merasakan dampak negatifnya. Ini disebabkan karena bensin  adalah barang yang strategis dalam arti bahwa dampaknya menjangkau sangat  banyak (kalau tidak semua) sekor kehidupan. Rincian intinya sebagai berikut:<\/p>\n<ul>\n<li>Biaya angkutan, termasuk angkutan sembako  meningkat, yang meningkatkan harga, sehingga daya beli masyarakat menyusut.<\/li>\n<li>Imbalan dalam bentuk 3 jenis kartu  tidak dinikmati oleh banyak orang yang terkena dampak kenaikan hampir semua  barang dan jasa yang dibutuhkan. Tidak semua orang sakit sehingga membutuhkan  pengobatan dengan kartu sehat, tetapi semua orang kena dampak kenaikan harga  dan penurunan daya beli.<\/li>\n<li>Dalam penggunaan kelebihan uang tunai  dalam Kas Negara yang disebabkan oleh kenaikan harga bensin premium,  perbandingannya tidak jelas antara 3 kartu dan infra struktur. Infra struktur  apa dan di mana juga tidak jelas.<\/li>\n<li>Kenaikan harga bensin premium yang  menjadikan nilai keekonomiannya menjadi lebih rendah dari harga yang dikenakan  pada konsumen premium jelas tidak adil.<br \/>\n    <strong><\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Koreksi<\/strong><\/p>\n<p>\nSemuanya  bisa dikoreksi dengan menurunkan kembali harga bensin atas dasar harga minyak  mentah di pasar internasional. Dengan melakukan kebijakan yang demikian, untuk  bensin premium yang harus diimpor Pemerintah tidak perlu nombok uang, sedangkan  minyak mentah milik sendiri yang diolah menjadi bensin premium masih memberikan  kelebihan uang tunai yang cukup besar.<\/p>\n<p>  <strong>CATATAN<\/strong><\/p>\n<p>\n    Harga minyak mentah turun  terus dan kemarin sudah mencapai harga USD 55 per barrel. Ketika artikel ini  ditulis harganya sekitar USD 65.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Kwik Kian Gie Masyarakat mendapat kesan bahwa Pemerintah kebingungan dalam mengambil kebijakan tentang harga bensin, terutama bensin premium. Faktor terpenting dari kebingungan adalah kenaikan harga bensin premium dari Rp. 6.500 per liter menjadi Rp. 8.500 dilakukan ketika harga minyak mentah di pasar internasional sekitar USD 80 per barrel, yang ekivalen dengan harga bensin sebesar &hellip; <a href=\"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/2014\/12\/pemerintah-bingung-konglomerat-mungkin-untung-rakyat-buntung\/\" class=\"more-link\">Lanjutkan membaca <span class=\"screen-reader-text\">PEMERINTAH BINGUNG, KONGLOMERAT MUNGKIN UNTUNG, RAKYAT BUNTUNG<\/span> <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[26,4],"tags":[],"class_list":["post-889","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bbm","category-ekonomi"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/889","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=889"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/889\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":891,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/889\/revisions\/891"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=889"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=889"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=889"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}