{"id":603,"date":"2013-09-25T23:38:10","date_gmt":"2013-09-25T16:38:10","guid":{"rendered":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/?p=603"},"modified":"2013-09-29T18:49:39","modified_gmt":"2013-09-29T11:49:39","slug":"sistem-ekonomi-politik-untuk-mewujudkan-kesejahteraan-bangsa-%e2%80%93-hanya-sebuah-ilusi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/2013\/09\/sistem-ekonomi-politik-untuk-mewujudkan-kesejahteraan-bangsa-%e2%80%93-hanya-sebuah-ilusi\/","title":{"rendered":"Sistem Ekonomi Politik untuk Mewujudkan Kesejahteraan Bangsa \u2013 Hanya Sebuah Ilusi?"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: center\"><span style=\"color: #000080\"><em><strong>Ditulis oleh: Anthony Budiawan<\/strong><\/em><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: center\"><span style=\"color: #000080\"><em><strong>Rektor &#8211; kwik Kian Gie School of Business<\/strong><\/em><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: left\"><strong><span lang=\"IN\">Pendahuluan<\/span><\/strong><\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: left\"><span lang=\"IN\">Kita semua bertanya-tanya dan tidak habis mengerti mengapa bangsa Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang cukup besar tidak dapat memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya, terbelakang dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Thailand, Malaysia dan Singapore, dan bahkan terj<\/span>e<span lang=\"IN\">rumus ke dalam jurang kemiskinan dengan jumlah persentase penduduk miskin<\/span> (dengan\u00a0<span lang=\"IN\">pendapatan di bawah $ 2 (PPP) per hari, tertinggi di antara negara-negara\u00a0 ASEAN-<\/span>7 (Brunei, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore, Thailand dan Vietnam). Menurut data World Bank, rasio penduduk miskin Indonesia terhadap jumlah penduduk pada tahun 2010 dengan pendapatan per hari kurang dari 2 dolar AS PPP harga internasional 2005 adalah\u00a0<span lang=\"IN\">43.8%<\/span><span lang=\"IN\">), lebih tinggi dari Vietnam. Kemiskinan mengakibatkan banyak saudara-saudara kita bekerja di negara-negara tetangga <\/span>sebagai\u00a0<span lang=\"IN\">pembantu rumah tangga, buruh perkebunan, buruh bangunan dan <\/span>buruh kasar dan\u00a0<span lang=\"IN\">rendah lainnya. Tidak sedikit dari mereka yang hidup teraniaya tanpa mendapat perhatian dan perlindungan <\/span>yang\u00a0<span lang=\"IN\">memadai. Di tanah air, banyak saudara-saudara kita<\/span> yang<span lang=\"IN\"> juga hidup dalam kesulitan<\/span> dan kemiskinan<span lang=\"IN\">, dan tidak sedikit yang juga teraniaya: penggusuran pedagang kaki lima dan asongan, serta rumah tinggal (semi) p<\/span>e<span lang=\"IN\">rmanen di tanah negara atau \u201cdaerah hijau\u201d mewarnai berita-berita nasional akhir-akhir ini.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<p><!--more--><\/p>\n<div>\n<p><span lang=\"IN\">Berbagai diskusi telah digelar, baik dalam bentuk seminar, konferensi maupun s<\/span>i<span lang=\"IN\">mposium, untuk mencari penyebab kemiskinan yang melanda <\/span>b<span lang=\"IN\">angsa kita dan mencari solusi untuk menanggulanginya. Berbagai pertanyaan dilontarkan bagaimana membangun ekonomi Indonesia agar bangsa ini dapat keluar dari jurang kemiskinan. Berbagai usulan dan solusi ditawarkan agar bangsa ini dapat menjadi sejahtera. Namun demikian, sampai saat ini masih belum ada tanda-tanda yang dapat memberi harapan bagi bangsa Indonesia <\/span>untuk\u00a0<span lang=\"IN\">menjadi sejahtera dan dapat hidup sejajar dengan bangsa-bangsa lain: <\/span>artinya,\u00a0<span lang=\"IN\">tidak menjadi pembantu rumah tangga dan buruh kasar lainnya di negara tetangga<\/span>.<\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><strong><span lang=\"IN\">Ekonomi Pancasila dan Ekonomi Kerakyatan<\/span><\/strong><strong> \u2013 Sebuah Ilusi?<\/strong><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><span lang=\"IN\">Tidak sedikit ahli ekonomi kita mencoba memberi sumbang saran dan solusi bagaimana membuat <\/span>b<span lang=\"IN\">angsa Indonesia menjadi lebih sejahtera. Dalam mencari jawaban dan solusi di atas, diskusi juga berkembang ke arah sistem ekonomi politik dan<\/span> ideologi<span lang=\"IN\"> yang dianggap sesuai bagi Indonesia untuk dapat menjadi sejahtera dan berazas keadilan ekonomi. Prof. Emil Salim, Prof. Sumitro Djojohadikusumo dan <\/span><span lang=\"IN\">Prof. Mubyarto sempat melontarkan Sistem Ekonomi Pancasila, yang kemudian juga dikenal dengan Sistem Ekonomi Kerakyatan, sebagai jawaban atas permasalahan ekonomi Indonesia. Tetapi, sayangnya<\/span>,<span lang=\"IN\"> konsep Sistem Ekonomi Pancasila tidak berkembang seperti yang diharapkan para pencetus gagasan tersebut karena bersifat sangat normatif dan kehilangan realitas sehingga tidak dapat diimplementasikan. Para pengikutnya dewasa ini juga tidak dapat menjabarkan secara rinci bagaimana operasional Sistem Ekonomi Pancasila<\/span> seharusnya\u00a0<span lang=\"IN\">sehingga sulit diterima oleh para ahli ekonomi, teknokrat maupun masyarakat luas. Namun demikian, melihat bangsa Indonesia masih terus berkutat pada kemiskinan, banyak kalangan masih menaruh harapan pada Sistem Ekonomi Pancasila dan Sistem Ekonomi Kerakyatan sebagai jalan keluar untuk mencapai Indonesia sejahtera dan adil. Hal ini disebabkan karena, meskipun Sistem Ekonomi Pancasila <\/span>belum\u00a0<span lang=\"IN\">dapat dibuktikan dapat memberi kesejahteraan bagi <\/span>b<span lang=\"IN\">angsa Indonesia, Sistem Ekonomi Pancasila juga tidak dapat dibuktikan akan lebih buruk hasilnya dari sistem ekonomi yang dianut oleh pemerintah Indonesia selama ini, <\/span>yaitu\u00a0<span lang=\"IN\">yang dipercaya <\/span>oleh masyarakat luas\u00a0<span lang=\"IN\">sebagai sistem ekonomi kap<\/span>i<span lang=\"IN\">talisme (liberal) atau yang <\/span>juga\u00a0<span lang=\"IN\">disebut dengan neo-liberal, karena Sistem Ekonomi Pancasila memang belum pernah diimplementasikan. Harapan besar tersebut sangat dimengerti oleh para elite partai politik sehingga hampir semua partai politik mengusung <\/span>program\u00a0<span lang=\"IN\">Ekonomi Kerakyatan dalam kampanye <\/span>pemilihan\u00a0<span lang=\"IN\">legislatif dan <\/span>pemilihan p<span lang=\"IN\">residen <\/span>tahun\u00a0<span lang=\"IN\">2009<\/span><span lang=\"IN\"> <\/span><span lang=\"IN\">yang lalu. Tetapi, Sistem Ekonomi Kerakyatan yang dimaksud juga sangat tidak jelas dan bersifat normatif, sama seperti Sistem Ekonomi Pancasila yang merupakan akar dari Sistem Ekonomi Kerakyatan. Sistem Ekonomi Kerakyatan lebih banyak diartikan sebagai sistem ekonomi yang berpihak kepada rakyat kecil atau rakyat mi<\/span>s<span lang=\"IN\">kin, yaitu para petani, nelayan, buruh, pengusaha mikro dan kecil, serta masyarakat miskin lainnya. Memang benar beberapa partai politik tersebut sempat menjabarkan beberapa program Ekonomi Kerakyatan, tetapi tidak terlalu berbeda dengan para pendahulunya, Sistem Ekonomi Pancasila. Gambar 1<\/span><span lang=\"IN\"> memuat penjabaran Sistem Ekonomi Pancasila dari ke <\/span><span lang=\"IN\">tiga ahli ekonomi di atas seara normatif. <\/span>(T<span lang=\"IN\">ulisan ini<\/span><span lang=\"IN\"> <\/span><span lang=\"IN\">tidak membahas <\/span>rumusan\u00a0<span lang=\"IN\">Sistem Ekonomi Pancasila, <\/span>tetapi\u00a0<span lang=\"IN\">meninjau apakah <\/span>ada korelasi antara\u00a0<span lang=\"IN\">Sistem Ekonomi Politik tertentu, seperti Ekonomi Pancasila dan Ekonomi Kerakyatan, <\/span>dengan\u00a0<span lang=\"IN\">tingkat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bangsa.)<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-WeC44o9UNrs\/Uj5lNRHh0aI\/AAAAAAAAAPA\/KZOaT2lRzkc\/s1600\/Gambar+1+-+Ideologi+Menuwujdkan+Kesejahteraan+adalah+Ilusi+.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-WeC44o9UNrs\/Uj5lNRHh0aI\/AAAAAAAAAPA\/KZOaT2lRzkc\/s640\/Gambar+1+-+Ideologi+Menuwujdkan+Kesejahteraan+adalah+Ilusi+.jpg\" border=\"0\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"454\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-WeC44o9UNrs\/Uj5lNRHh0aI\/AAAAAAAAAPA\/KZOaT2lRzkc\/s1600\/Gambar+1+-+Ideologi+Menuwujdkan+Kesejahteraan+adalah+Ilusi+.jpg\"><\/a><em><span style=\"font-size: x-small\"><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif\" lang=\"IN\">Gambar 1: <\/span><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif\" lang=\"IN\">Sistem Ekonomi Pancasila dari Emil Salim, Mubyarto, dan Sumitro Djojohadikusumo<\/span><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif\" lang=\"IN\"> &#8211; Sumber: Kuncoro (2000: 199)<\/span><\/span><\/em><\/p>\n<p><span lang=\"IN\">Dengan demikian, pertanyaan utama yang masih terus menghantui kita adalah, apakah Sistem Ekonomi Pancasila atau Sistem Ekonomi Kerakyatan merupakan solusi yang dapat membawa bangsa ini menjadi lebih sejahtera dengan keadilan sosial yang lebih baik. Apabila tidak, apakah ada sistem ekonomi politik lain yang dapat membuat <\/span>b<span lang=\"IN\">angsa kita menjadi lebih sejahtera? Sistem ekonomi yang bagaimana yang tepat bagi Indonesia agar dapat keluar dari kemiskinan? Apakah kita harus mempertajam Sistem Ekonomi Pancasila sehingga tidak <\/span>terlalu\u00a0<span lang=\"IN\">normatif dan dapat<\/span> dipraktikkan<span lang=\"IN\">?<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><span lang=\"IN\">Pertanyaan-pertanyaan di atas niscaya sulit dijawab, seperti juga konsep <\/span>Sistem\u00a0<span lang=\"IN\">Ekonomi Pancasila yang tidak berhasil dijabarkan selama 30 tahun terakhir ini. Saya khawatir kita akan membuang waktu lagi untuk 30 tahun ke depan apabila harus merumuskan kembali Sistem Ekonomi Pancasila dalam mencari solusi permasalahan kemiskinan yang kita hadapi.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><strong><span lang=\"IN\">Pencaharian Tiada Akhir<\/span><\/strong><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><span lang=\"IN\">Saya percaya bahwa selama ini <\/span>telah terjadi\u00a0<span lang=\"IN\">salah arah dalam mencari solusi untuk <\/span>mengantar b<span lang=\"IN\">angsa Indonesia menjadi <\/span>bangsa yang\u00a0<span lang=\"IN\">lebih sejahtera dan berkeadilan sosial, karena pemecahan permasalahan ekonomi (dalam hal ini, permasalahan kemiskinan dan keadilan sosial) diupayakan melalui sistem ekonomi politik atau ideologi tanpa memperdalam permasalahan ekonomi <\/span>itu sendiri<span lang=\"IN\">.<\/span><span lang=\"IN\"> <\/span>Dengan kata lain<span lang=\"IN\">, apakah dengan mengadopsi sistem ekonomi politik atau ideologi tertentu maka permasalahan ekonomi dapat terpecahkan dengan sendirinya?<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><span lang=\"IN\">Di samping itu, upaya menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan melalui Sistem Ekonomi Pancasila telah menimbulkan kontroversi. <\/span>Banyak yang berpendapat\u00a0<span lang=\"IN\">Indonesia selama ini menganut sistem kapitalisme (liberal) yang mengakibatkan <\/span>bangsa\u00a0<span lang=\"IN\">ini terjerumus ke dalam kemiskinan dan kesenjangan sosial. <\/span>Sebagai alternatif maka\u00a0<span lang=\"IN\">Sistem Ekonomi Pancasila yang bernafas<\/span>kan<span lang=\"IN\"> sosialisme dengan spirit Ketuhanan, Kemanusiaan, Kesatuan, Kerakyatan dan Keadlian, kemudian ditawarkan sebagai sistem ekonomi politik yang <\/span>diharapkan\u00a0<span lang=\"IN\">dapat memecahkan permasalahan kemiskinan<\/span> dan keadilan sosial<span lang=\"IN\"> tersebut. <\/span>Di sinilah terjadi kontroversi.\u00a0<span lang=\"IN\">Bukankah negara-negara penganut sistem sosialisme (dengan berbagai<\/span><span lang=\"IN\"> <\/span>jenjang tingkatan<span lang=\"IN\">) malah sebaliknya belajar dan kemudian mengadopsi sistem kapitalisme (dengan berbagai<\/span><span lang=\"IN\"> <\/span>jenjang tingkatan<span lang=\"IN\">) untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya? Sejak runtuhnya sistem sosialisme dan komunisme akhir tahun 1989, maka hampir semua negara memprakt<\/span>i<span lang=\"IN\">kkan Sistem Kapitalisme dengan berbagai tingkatannya.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p>Oleh karena itu,\u00a0<span lang=\"IN\">pendekatan sistem ekonomi politik dan ideologi <\/span>sebagai solusi\u00a0<span lang=\"IN\">permasalahan ekonomi <\/span>(kemiskinan dan kesenjangan sosial)\u00a0<span lang=\"IN\">yang kita hadapi<\/span> tidak akan berhasil<span lang=\"IN\">. <\/span>P<span lang=\"IN\">ermasalahan kemiskinan dan keadilan sosial tidak unik bagi sistem <\/span>ekonomi politik dan\u00a0<span lang=\"IN\">ideologi tertentu saja, <\/span>tetapi\u00a0<span lang=\"IN\">merupakan permasalahan universal yang dapat ditemui di berbagai negara dengan sistem <\/span>ekonomi politik dan\u00a0<span lang=\"IN\">ideologi yang berbeda-beda: permasalahan kemiskinan dan kesenjangan sosial dapat kita temui di negara dengan sistem kapitalisme, misalnya Indonesia (yang diyakini <\/span>menganut\u00a0<span lang=\"IN\">sistem kapitalisme), Philippines atau Mexico, <\/span>dan juga dapat kita temui di negara dengan sistem\u00a0<span lang=\"IN\">sosialisme, misalnya India, atau komunisme, misalnya Vietnam atau Korea Utara. Tetapi, banyak juga negara dengan <\/span>latar belakang\u00a0<span lang=\"IN\">sistem ekonomi politik yang berbeda<\/span>-beda dapat\u00a0<span lang=\"IN\">mencapai kesejahteraan yang tinggi dan bebas dari kemiskinan. Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama lagi, China mungkin akan membuktikan kepada kita semua, kepada dunia, bahwa negara komunis juga dapat menjadi sejahtera. Dengan demikian, apabila kemiskinan dan kesejahteraan dapat terjadi di berbagai negara dengan latar belakang sistem ekonomi politik yang berbeda-beda, maka kesimpulannya hanya satu, yaitu bahwa tidak ada korelasi antara sistem ekonomi politik dan tingkat pertumbuhan ekonomi maupun kesejahteraan. Oleh karena itu, pencaharian sistem ekonomi politik bukan merupakan jawaban atas permasalahan ekonomi yang sekarang kita hadapi. Lihat<\/span> Gambar 2 yang memuat contoh\u00a0<span lang=\"IN\">negara-negara <\/span>yang sudah menjadi makmur dan sejahtera dengan berbagai\u00a0<span lang=\"IN\">latar belakang sistem ekonomi politik.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-yin0DaMMM90\/Uj5yA7RVtAI\/AAAAAAAAAPc\/C2PWSh2nUS4\/s1600\/Gambar+2+-+Ideologi+Mewujudkan+Kesejahteraan+adalah+ilusi.jpg\"><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-yin0DaMMM90\/Uj5yA7RVtAI\/AAAAAAAAAPc\/C2PWSh2nUS4\/s640\/Gambar+2+-+Ideologi+Mewujudkan+Kesejahteraan+adalah+ilusi.jpg\" border=\"0\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"538\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-yin0DaMMM90\/Uj5yA7RVtAI\/AAAAAAAAAPc\/C2PWSh2nUS4\/s1600\/Gambar+2+-+Ideologi+Mewujudkan+Kesejahteraan+adalah+ilusi.jpg\"><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-size: x-small\" lang=\"IN\"><em><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif\">Gambar 2<\/span><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif\" lang=\"IN\">: <\/span><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif\">Contoh n<\/span><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif\" lang=\"IN\">egara-negara maju dengan <\/span><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif\">berbagai <\/span><span style=\"font-family: Calibri, sans-serif\" lang=\"IN\">latar belakang Sistem Ekonomi Politik<\/span><\/em><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><strong><span lang=\"IN\">Solusi Permasalahan Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial<\/span><\/strong><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><span lang=\"IN\">Oleh karena itu, permasalahan ekonomi harus dipecahkan melalui proses pembangunan ekonomi. Untuk menjadi negara maju dan sejahtera, kita <\/span>dapat\u00a0<span lang=\"IN\">belajar <\/span>dari proses pembangunan ekonomi\u00a0<span lang=\"IN\">negara-negara yang sudah <\/span>menjadi\u00a0<span lang=\"IN\">maju terlebih dahulu seperti Amerika Serikat, Eropa<\/span> Barat<span lang=\"IN\">, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Singapore, Malaysia dan bahkan China. Meskipun negara-negara tersebut mempunyai latar belakang sistem ekonomi politik dan ideologi yang berbeda, tetapi mereka mempunyai satu kesamaan dalam mencapai kesejahteraan, yaitu ekonomi mereka dibangun berdasarkan struktur industri manufaktur yang kuat dan beragam, terintegrasi, sinergis, dengan skala ekonomis yang tinggi, <\/span>di<span lang=\"IN\">serta<\/span>i dengan penguasaan dan penerapan\u00a0<span lang=\"IN\">teknologi<\/span> maju untuk senantiasa meningkatkan produktivitas<span lang=\"IN\">. Sebaliknya, negara yang berbasis agrikultur tidak ada yang menjadi negara maju dan sejahtera, kecuali sebelum era revolusi industri. Meskipun begitu, negara maju pada saat itu sebenarnya juga mempunyai industri \u201cmanufaktur dan teknologi\u201d yang relatif lebih maju dari negara lainnya yang kurang maju. Hal ini disebabkan karena produktivitas pada industri manufaktur dengan penerapan teknologi maju jauh lebih tinggi dari indu<\/span>s<span lang=\"IN\">tri sektor primer<\/span> seperti\u00a0<span lang=\"IN\">agrikultur dan <\/span>industri berbasis\u00a0<span lang=\"IN\">sumber daya alam.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><span lang=\"IN\">Fenomena ini juga dapat kita lihat di <\/span>kota-kota di\u00a0<span lang=\"IN\">Indonesia<\/span>: k<span lang=\"IN\">ota <\/span>berbasis\u00a0<span lang=\"IN\">industri manufaktur lebih maju dan sejahtera dari kota <\/span>berbasis\u00a0<span lang=\"IN\">pertanian<\/span>:\u00a0<span lang=\"IN\">Jawa Barat lebih maju dari Jawa Timur karena industri manufaktur di Jawa Barat lebih berkembang. Jawa Timur lebih maju dari Jawa Tengah karena industri manufaktur di Jawa Timur lebih berkembang. \u201cKota industri\u201d di Jawa Barat seperti Jakarta, Bekasi, Cilegon atau Bandung, lebih maju dari kota lainnya yang berbasis agrikultur atau peternakan, seperti Cirebon, Cianjur dan lainnya.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><span lang=\"IN\">Hal di atas dapat terjadi karena proses pembangunan ekonomi pada prinsipnya akan menghasilkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terbagi dalam tiga golongan atau karekteristik, yaitu (1)\u00a0<em>Decreasing economic returns<\/em> (2)\u00a0<em>Constant economic returns<\/em> dan (3)\u00a0<em>Increasing economic returns<\/em>.\u00a0<em>Decreasing economic returns<\/em> terjadi apabila persentase kenaikkan output\u00a0<span style=\"text-decoration: underline\">lebih rendah<\/span> dari persentase kenaikkan input<\/span>,\u00a0<span lang=\"IN\">atau jumlah output <\/span>turun\u00a0<span lang=\"IN\">dengan jumlah input tetap<\/span>,<span lang=\"IN\"> yang keduanya berarti produktivitas menurun.\u00a0<em>Constant economic returns<\/em> terjadi apabila persentase kenaikkan output sama dengan persentase kenaikkan input, yang berarti produktivitas konstan.\u00a0<em>Increasing economic returns<\/em> terjadi apabila persentase kenaikkan output lebih besar dari persentase kenaikkan input, yang berarti produktivitas meningkat.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><span lang=\"IN\">Sektor agrikultur dan sumber daya alam mempunyai karakteristik\u00a0<em>decreasing economic returns<\/em>: sumber daya alam cepat atau lambat akan habis. Indonesia <\/span>pernah\u00a0<span lang=\"IN\">memproduksi <\/span>lebih dari 2<span lang=\"IN\"> juta barel minyak mentah per hari<\/span>, tetapi\u00a0<span lang=\"IN\">sekarang <\/span>hanya 830<span lang=\"IN\">.000 barel per hari, di mana hal ini menunjukkan karakteristik\u00a0<em>decreasing returns<\/em>. Demikian pula produktivitas di industri pertanian, cenderung menurun untuk jangka panjang kecuali ditemukan teknologi baru, misalnya melalui bioteknologi. Peningkatan metode pertanian, misalnya dengan menggunakan traktor <\/span>dibanding dengan\u00a0<span lang=\"IN\">manual<\/span> atau tenaga hewan<span lang=\"IN\">,\u00a0<span style=\"text-decoration: underline\">hanya meningkatkan produktivitas tenaga kerja<\/span>,\u00a0<span style=\"text-decoration: underline\">tetapi tidak meningkatkan produktivitas lahan<\/span>. Artinya, produktivitas lahan hanya dapat ditingkatkan melalui penerapan dan inovasi teknologi<\/span> maju<span lang=\"IN\">. Sedangkan sektor manufaktur padat karya dengan penerapan teknologi rendah dan upah murah, seperti industri garment, alas kaki atau furniture tradisional, mempunyai karakteristik\u00a0<span style=\"text-decoration: underline\">constant economic returns<\/span>. Daya saing pada industri ini lebih ditentukan oleh faktor upah buruh murah. Sektor manufaktur padat modal dengan penerapan teknologi maju, seperti industri elektronik, mesin dan perlengkapan mesin, dan banyak lainnya lagi, mempunyai karakteristik\u00a0<em>increasing economic returns<\/em>. Produktivitas pada industri\u00a0<em>increasing economic returns<\/em> dapat ditingkatkan secara berkelanjutan seiring dengan pembaharuan dan inovasi teknologi. Sebagai contoh, harga mesin pemutar DVD (<\/span>awalnya l<span lang=\"IN\">aser <\/span>d<span lang=\"IN\">isc, kemudian digantikan oleh VCD, dan kemudian digantikan lagi oleh DVD) saat ini hanya sekitar 10% dari harga pada awal teknologi tersebut dikenalkan di pasar, yang mana merupakan refleksi langsung dari <\/span>peningkatan\u00a0<span lang=\"IN\">produktivitas produksi mesin tersebut. Oleh karena itu, suatu negara hanya dapat maju dan sejahtera apabila <\/span>dapat membangun\u00a0<span lang=\"IN\">industri dengan karakteristik\u00a0<em>increasing economic returns<\/em> secara signifikan<\/span> dalam pembangunan ekonominya<span lang=\"IN\">. Hal ini tidak berarti kita harus meninggalkan industri-industri lainnya (agrikultur, sumber daya alam, manufaktur pada<\/span>t<span lang=\"IN\"> karya). Potensi industri-industri tersebut wajib kita kembangkan, tetapi harus diiringi dengan pengembangan industri-industri dengan karakteristik\u00a0<em>increasing economic returns<\/em>. Tanpa itu, pembangunan ekonomi tidak akan maksimal dan <\/span>negara sulit\u00a0<span lang=\"IN\">mencapai <\/span>kemakmuran dan\u00a0<span lang=\"IN\">kesejahteraan. Gambar 3 <\/span><span lang=\"IN\">menyajikan peta industri di masing-masing sektor ekonomi dan dampaknya terhadap pembangunan ekonomi nasional.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-UkngQ7B4wv8\/Uj5zxutOElI\/AAAAAAAAAPo\/gURcmxsFfrY\/s1600\/Gambar+3+-+Ideology+Mewujudkan+Kesejahteraan+adalah+Ilusi.jpg\"><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-UkngQ7B4wv8\/Uj5zxutOElI\/AAAAAAAAAPo\/gURcmxsFfrY\/s640\/Gambar+3+-+Ideology+Mewujudkan+Kesejahteraan+adalah+Ilusi.jpg\" border=\"0\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"404\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-UkngQ7B4wv8\/Uj5zxutOElI\/AAAAAAAAAPo\/gURcmxsFfrY\/s1600\/Gambar+3+-+Ideology+Mewujudkan+Kesejahteraan+adalah+Ilusi.jpg\"><\/a><\/p>\n<p><em>Gambar 3: Karakteristik Pertumbuhan Ekonomi pada setiap Sektor Ekonomi<\/em><br \/>\n<span lang=\"IN\">Pembangunan ekonomi berbasis industri\u00a0<em>increasing economic returns<\/em> merupakan pra-kondisi untuk mencapai kesejahteraan bagi <\/span>suatu\u00a0<span lang=\"IN\">bangsa. Namun demikian, pembangunan industri\u00a0<em>increasing\u00a0 economic returns<\/em> tidak dapat terwujud tanpa dukungan dan peran aktif <\/span>pemerintah\u00a0<span lang=\"IN\">melalui berbagai kebijakan ekonomi, baik dalam bidang ekonomi makro (kebijakan moneter dan fiskal), ekonomi mikro (kebijakan industri dan perdagangan), kebijakan publik se<\/span>r<span lang=\"IN\">ta kebijakan politik yang pro industri dengan karakteristik\u00a0<em>increasing <\/em><\/span><em>economic\u00a0<span lang=\"IN\">returns<\/span><\/em><span lang=\"IN\"> tersebut.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><span lang=\"IN\">Kebijakan pemerintah <\/span>yang\u00a0<span lang=\"IN\">dimaksud di atas dapat dibagi menjadi dua kategori:<\/span><\/p>\n<\/div>\n<ol>\n<li><span lang=\"IN\">Kebijakan pemerintah untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan mewujudkan industri dengan karakteristik\u00a0<em>increasing economic returns<\/em><\/span><span>, dan<\/span><\/li>\n<li><span lang=\"IN\">Kebijakan pemerintah untuk <\/span><span>mewujudkan <\/span><span lang=\"IN\">keadilan sosial yang lebih baik melalui redistribusi pendapatan serta mewujudkan jaminan sosial yang <\/span><span>lebih <\/span><span lang=\"IN\">manusiawi bagi <\/span><span>rakyat <\/span><span lang=\"IN\">kecil dan miskin.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<div>\n<div>\n<p style=\"text-align: center\">&#8212; 000 &#8212;<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ditulis oleh: Anthony Budiawan Rektor &#8211; kwik Kian Gie School of Business Pendahuluan Kita semua bertanya-tanya dan tidak habis mengerti mengapa bangsa Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang cukup besar tidak dapat memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya, terbelakang dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Thailand, Malaysia dan Singapore, dan bahkan terjerumus ke dalam jurang kemiskinan dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-603","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ekonomi"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/603","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=603"}],"version-history":[{"count":12,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/603\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":752,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/603\/revisions\/752"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=603"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=603"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=603"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}