{"id":565,"date":"2013-09-05T09:37:27","date_gmt":"2013-09-05T02:37:27","guid":{"rendered":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/?p=565"},"modified":"2013-09-05T09:37:27","modified_gmt":"2013-09-05T02:37:27","slug":"anjloknya-ihsg-dan-terpuruknya-nilai-rupiah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/2013\/09\/anjloknya-ihsg-dan-terpuruknya-nilai-rupiah\/","title":{"rendered":"ANJLOKNYA IHSG DAN TERPURUKNYA NILAI RUPIAH"},"content":{"rendered":"<p align='justify'><strong>Pencuatan yang mendadak<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Penyebab utama dari  anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan terpuruknya nilai tukar rupiah  dengan pencuatan yang mendadak yalah struktur ekonomi kita yang sejak lama  sudah sangat tidak sehat, tetapi diobati dengan cara yang tambal sulam. Bahkan  sama sekali tidak diobati, melainkan diserahkan pada mekanisme pasar yang  dibuat sebebas-bebasnya. Penjelasannya kami berikan dalam bab tersendiri dengan  judul ANALISIS.<\/p>\n<p><!--more--> <\/p>\n<p align='justify'>Kami tanggapi  terlebih dahulu respons pemerintah yang serba panik, dan karena itu menjadi  asal omong.<\/p>\n<p align='justify'><strong>PAKET KEBIJAKAN PEMERINTAH<\/strong><\/p>\n<p align='justify'><strong>Menghapus PPn BM untuk produk yang sudah tidak termasuk  barang mewah lagi.<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Kalau barang seperti  ini masih diimpor atau komponen impornya besar, penghapusan PPn BM akan  meningkatkan impor yang bersifat menguras devisa.<\/p>\n<p align='justify'><strong>Menurunkan impor migas dengan memperbesar biodiesel dalam  solar untuk mengurangi konsumsi solar yang berasal dari impor.<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Ini baik. Mengapa  baru sekarang ?<\/p>\n<p align='justify'><strong>Menetapkan pajak barang mewah lebih tinggi untuk mobil  CBU dari rata-rata 75% menjadi 125% hingga 150%.<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Banyak sekali mobil  mewah dan bermerek yang sudah dirakit di Indonesia. Yang diimpor dalam bentuk <em>bulit up<\/em> sangat sedikit. Yang memberli  orang-orang super kaya yang tidak tahu lagi untuk apa uangnya. Maka baginya  kebutuhan sudah bergeser menjadi minta pengakuan sebagai orang &ldquo;hebat&rdquo;. Dan  untuk itu berapapun harganya dibayar, karena uang mereka memang benar-benar  melimpah. Apa artinya mengeluarkan uang untuk pamer mobil mewah kalau mereka  mempunyai jet pribadi yang tidak bisa dipamerkan di jalan-jalan raya ? Kebijakan  ini tidak akan efektif dalam menghadapi pemasalahan yang kita hadapi sekarang.<br \/>\n  <strong>Menjaga stabilitas harga dan inflasi dengan cara mengubah  tata niaga daging sapi dan hortikultura dari berbasis kuota menjadi berbasis  harga.<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Masalahnya bukan pola  perdagangan, baik pada sisi volume, kuota ataupun harga. Yang menjadi masalah  adalah pasokan yang sangat kurang.<\/p>\n<p align='justify'><strong>Menyederhanakan perizinan dan mengefektifkan layanan satu  pintu.<\/strong><br \/>\n  <strong>Keseluruhan proses pemberian izin untuk berinvestasi  diberikan oleh satu atap, yaitu BKPM.<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Kebijakan seperti ini  sudah disuarakan selama berpuluh-puluh tahun. Yang terakhir oleh Chatib Basri  sendiri ketika dia menjabat sebagai Kepala BKPM.\u00a0 <\/p>\n<p align='justify'>Pemberian izin yang  cepat oleh satu atap memang berpengaruh, tetapi sama sekali tidak signifikan.  Investor yang melihat laba untuk berinvestasi di Indonesia sudah menerima  lamanya menunggu izin. Maka di masa lampau terjadi <em>boom<\/em> dalam investasi, walaupun lamanya menunggu izin seperti yang  berlaku sekarang.<\/p>\n<p align='justify'>Pelayanan di bawah  satu atap untuk pemberian izin berinvestasi, terutama dalam industri, memang  tidak mungkin. Sangat banyak aspek yang melibatkan keakhlian banyak kementerian  yang harus diteliti.<\/p>\n<p align='justify'>Aspek-aspek tersebut  antara lain kesehatan, keamanan, kandungan impor, mewah dan tidaknya apa yang  akan diproduksi, apakah akan mematikan industri yang sudah ada karena sudah  terlampau banyak ? Semua wewenangnya kementerian-kementerian yang sudah ada.  Kalau dalam suasana serba krisis seperti sekarang ini lantas panik, mengambil  alih wewenang semua kementerian lainnya, siapalah para pejabat BKPM itu ? <\/p>\n<p align='justify'><strong>Mempercepat Peraturan Presiden tentang Daftar Negatif  Investasi (DNI) yang lebih ramah terhadap investor<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Daftar Negatif  Investasi (DNI) itu disusun dengan pertimbangan yang seksama supaya memajukan  industri dalam negeri. Sekarang panik akan dibuat &ldquo;ramah&rdquo; terhadap investor  asing lagi. Kebijakan <em>zig-zag<\/em> seperti  ini sangat tidak adil terhadap investor dalam negeri yang sudah melakukan  investasi atas dasar DNI yang ada.<\/p>\n<p align='justify'><strong>Mempercepat investasi berbasis agro<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Ini bagus, tetapi apa  isinya dan bagaimana caranya ? Mengapa tidak menyuruh BUMN yang sudah ada,  yaitu perkebunan-perkebunan besar milik negara ? Swasta tidak perlu  didorong-dorong asalkan investasinya menguntungkan. Dalam kondisi yang tidak  menguntungkan, tetapi rakyat membutuhkan produknya, perkebunan BUMN harus  mengambil resiko toh melakukan investasi dan produksi. Itulah maksud dari BUMN  yang miliknya pemerintah, yaitu sebagai alat pemerintah memenuhi kebutuhan  rakyat bilamana sektor swasta tidak mampu atau tidak mau karena keuntungannya  kurang memadai.<\/p>\n<p align='justify'><strong>Menjaga pertumbuhan ekonomi<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Menjadi berapa ? Dua  hari sebelum pengumuman Paket Kebijakan Pemerintah, Menteri Keuangan masih  bertahan pada 6%. Sekarang tidak mau menyebutkan kecuali mengatakan defisit  APBN tahun 2013 tetap sebesar 2,38%. Jadi kalau defisit tetap 2,38% pertumbuhan  pasti 6% atau lebih rendah dengan angka yang eksak ? Bagaimana menjelaskan  hubungan kausal antara defisit APBN dan pertumbuhan ekonomi sampai angka dengan  dua dijit di belakang koma ?<a name=\"_GoBack\"><\/a><\/p>\n<p align='justify'><strong>KEBIJAKAN BANK INDONESIA DALAM MENJAGA STABILITAS MAKRO  EKONOMI<\/strong><\/p>\n<p align='justify'><strong>Memperluas jangka waktu term deposit valas menjadi dari 1  hari sampai 12 bulan.<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Artinya orang boleh  mendepositokan uangnya dalam dollar di bank-bank di Indonesia dengan jangka  waktu hanya 1 hari, dua hari dan seterusnya. Kebijakan ini baik karena memberi  fleksibilitas menarik depositonya dalam dollar setiap saat. Maksudnya supaya  banyak orang yang menyimpan dollar di dalam negeri, karena toh bisa ditransfer  ke luar negeri setiap saat. Biaya yang harus dibayar yalah menambah sifat <em>foot loose<\/em> dari deposito dalam dollar.  Devisa yang demikian bukan milik Bank Indonesia, dan juga tidak dapat dipakai  untuk menopang cadangan devisa, karena bisa diambil setiap saat oleh deposan.  Lantas apa gunanya ? Lagi-lagi seperti panik.<\/p>\n<p align='justify'><strong>Terkait inflasi<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Pemerintah akan  meredam gejolak harga dengan meningkatkan produksi dalam negeri. Sebagai  pernyataan yang asal <em>ngomong<\/em> bagus.  Tetapi bagaimana caranya ? Siapa yang harus melakukan ? BUMN atau para petani  yang miskin ? Sejak SBY berkuasa, produksi diserahkan kepada para petani  miskin. Yang punya tanah hanya rata-rata sebesar 0,3 hektar. 70% adalah buruh  tani yang menggarap tanah miliknya para tuan tanah dengan perolehan dalam natura  sebanyak 2\/5 dari panennya. Lantas produksi mereka ditekan harganya karena  dianggap bahan pokok. Jadi orang kaya membeli bahan pokok dengan harga murah  atas penderitaan para petani. Para petani memberi subsidi kepada orang kaya dan  tuan-tuan tanah. Sekarang akan banting setir dengan maksud mengendalikan  inflasi yang harus efektif dalam waktu jangka pendek. Bukankah ini pernyataan  yang panik ?<\/p>\n<p align='justify'><strong><em>Bulog<\/em><\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Yang benar yalah  memfungsikan BULOG sebagaimana mestinya. Memberi dana secukupnya, boleh merugi  dengan megimpor dan menjualnya dengan harga yang lebih rendah atas beban APBN.  Dengan demikian dalam jangka pendek harga terkendali dengan ketersediaan barang  yang cukup. Syukur kalau BULOG memperoleh laba atau impas. Tetapi kalau harus  merugi, apa salahnya kerugian dibiayai oleh APBN ? BULOG didirikan untuk menjamin  senantiasa tersedianya bahan pokok dengan harga yang terjangkau.<\/p>\n<p align='justify'>Dalam transaksinya  dengan volume barang dan penentuan harga untuk mencapai tujuan tersebut, BULOG  bisa memperoleh laba, tetapi juga bisa merugi. Kalau merugi ditanggung oleh  APBN. Sejak zaman kolonial BULOG sudah ada yang dinamakan <em>Egalisatie Fonds<\/em>, yang berarti Dana untuk Egalisasi, atau dana  untuk membuat harga dan ketersediaan bahan pokok selalu stabil. Tetapi oleh Tim  Ekonomi SBY tidak dipahami atau tidak mau paham karena telah di <em>brain wash<\/em> dengan dalil-dalil  liberalisme atau neo liberalisme.<\/p>\n<p align='justify'>Maka praktek yang  kita saksikan tidak demikian. Dalam kondisi serba krisis ini malahan berbicara  tentang meningkatkan produksi yang tidak jelas juntrungannya tentang siapa yang  harus melakukannya dan dimensi waktu apakah yang dipakai ?<\/p>\n<p align='justify'><strong>Terkait neraca pembayaran<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Dikatakan akan  menarik aliran modal, baik dalam bentuk portfolio maupun dalam\u00a0 bentuk penanaman modal asing. <\/p>\n<p align='justify'>Para pemain asing di  BEI sekarang ini sedang menjual portfolio secara besar-besaran karena sudah  waktunya merealisasikan keuntungannya, dan dananya bisa diinvestasikan di  negara lain yang lebih menarik dan stabil, yaitu Eropa dan AS, yang ekonominya  mulai bangkit kembali. Bagaimana bisa meyakinkan bahwa Indonesia lebih menarik  ?<\/p>\n<p align='justify'>Kalau yang dimaksud  untuk tujuan jangka panjang, masalah kita adalah jangka sangat pendek, bahkan  sekarang ini.<\/p>\n<p align='justify'><strong>ANALISIS TENTANG KEBIJAKAN EKONOMI PEMERINTAH SBY DAN  KONDISI SERBA KRISIS DEWASA INI<\/strong><\/p>\n<p align='justify'><strong>Gambaran dan penjelasan kasar<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Investor asing di BEI  yang terdiri dari perusahaan-perusahaan keuangan raksasa internasional memegang  peran sekitar 70% dari seluruh volume perdagangan (spekulasi) saham. Ketika  mereka merasa bahwa sudah waktunya menjual sahamnya, penjualan saham dengan  volume besar dalam waktu singkat mengakibatkan penawaran jauh melampaui  permintaan. Maka harga saham anjlok.<\/p>\n<p align='justify'>Hasil penjualan saham  yang dalam rupiah ditransfer kembali ke negara-negara asaslnya dengan membeli  dollar dalam jumlah besar. Permintaan terhadap dollar jauh melampaui  penawarannya. Maka harga dollar terhadap rupiah melonjak, yang sama dengan  terpuruknya nilai tukar rupiah.<\/p>\n<p align='justify'>Mengapa saham-saham  dijual dalam volume besar dalam waktu singkat ? Karena mereka membeli saham  terus menerus dengan harga yang meningkat terus, agar ada saja yang merasa  tertarik menjual sahamnya kepada mereka. Maka IHSG meningkat terus dari sekitar  200 menjadi sekitar 5.700. Ini berarti bahwa harga pokok rata-ratanya 2.950  atau sekitar 3.000. <\/p>\n<p align='justify'>Menjual saham dengan  volume besar dalam waktu yang singkat mengakibatkan harga juga menurun dalam  waktu yang cepat. Ketika IHSG sudah mencapai 3.000 dan saham-saham mereka sudah  terjual habis, rata-rata pendapatannya yalah (5.700 + 3.000) : 2 = 4.350.  Karena rata-rata harga pokoknya 3.000, maka rata-rata labanya 4.350 \u2013 3.000 =  1.350 atau 45% dari harga pokoknya yang 3.000.<\/p>\n<p align='justify'>Sekali lagi, hasil  penjualan sahamnya yang dalam rupiah itu ditransfer kembali ke negaranya  masing-masing. Ini berarti membeli dollar dalam volume besar, yang  mengakibatkan permintaan jauh melampaui penawarannya. Maka harga dollar  meningkat, yang berarti nilai tukar rupiah anjlok.<\/p>\n<p align='justify'>Gambaran di atas  adalah gambaran yang sifatnya <em>aggregate<\/em> dengan perkembangan yang sifatnya <em>trend<\/em> jangka panjang, tetapi intinya mengandung kebenaran. Kami lakukan ini agar inti  masalahnya menjadi sangat jelas.<\/p>\n<p align='justify'>Pola seperti ini  telah lama berlangsung. Statistik menunjukkan bahwa sejak Bursa Efek kita  diliberalisasi untuk pertama kalinya di bawah pimpinan Marzuki Usman, IHSG  berfluktuasi dari 200 menjadi 600, menjadi 200 lagi, menjadi 600 lagi, menjadi  200 lagi dan kemudian naik terus sampai mencapai 5.700. Setelah itu baru  menurun yang per hari ini sekitar 4.100. Jelas bahwa titik rendahnya tidak akan  200 lagi, tetapi mungkun sekitar antara 3.500 dan 3.800, yang pada waktunya di  kemudian hari dinaikkan lagi oleh investor asing.<\/p>\n<p align='justify'><strong>Arus masuk modal asing<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Modal asing yang  masuk untuk diinvestasikan dalam saham di BEI jelas menambah cadangan devisa  kita, yang berarti penambahan <em>supply<\/em> valas. Inilah yang mengimbangi defisit yang tidak pernah berhenti dalam neraca  jasa, dan kemudian juga defisit dalam neraca perdagangan.<\/p>\n<p align='justify'>Secara tradisional  neraca perdagangan juga defisit. Namun dengan diobralnya sumber daya mineral  yang boleh dikeduk oleh investor swasta, para penambang swasta itu secara  besar-besaran mengeduk berbagai kekayaan mineral kita, dari emas, tembaga,  perak sampai batu bara, sampai nikel dan apa saja. Begitu mineral terkeduk  sampai di atas permukaan bumi, dikatakan PDB naik tanpa peduli milik siapa dan  siapa yang menikmati PDB itu. Apakah mereka itu hanya segelintir pengusaha  besar atau rakyat tidak dipedulikan. 68 tahun setelah jembatan emas dibangun,  yang menikmati segelintir pengusaha swasta yang menempatkan diri sebagai  komprador penambang asing, karena mereka sendiri tidak mampu menggarapnya  sendiri. Mereka menggadaikannya lagi kepada perusahaan-perusahaan raksasa  asing. Hasil penjualannya di pasar internasional yang juga dalam dollar  menambah &ldquo;cadangan devisa&rdquo;. <\/p>\n<p align='justify'>Semua devisa yang  masuk, apakah untuk investasi ke dalam saham, ataukah untuk didepositokan di  bank-bank karena bunganya yang teramat tinggi dibandingkan dengan yang berlaku di  Eropa dan Amerika Serikat, sifatnya <em>foot  loose<\/em>. Demikian juga dengan hasil pengedukan kekayaan mineral yang bukan  buatan mereka. Kekayaan alam itu diberikan oleh Tuhan kepada rakyat Indonesia.  Tetapi oleh pemerintah SBY dibiarkan dikeduk oleh beberapa gelintir pengusaha  swasta, baik Indonesia maupun asing, yang <em>notabene<\/em> tidak dapat dibedakan lagi karena polanya yang Ali-Asing. <\/p>\n<p align='justify'>Jadi semua kekurangan  dalam perolehan devisa ditutupi oleh perolehan dana asing yang sifatnya <em>foot loose<\/em>, yang bisa lari setiap saat.  Maka ketika dewasa ini mereka merasa sudah waktunya dilarikan, ambruklah IHSG  dan nilai rupiah.<\/p>\n<p align='justify'><strong>Struktur ekonomi yang masih bersifat kolonial<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Ciri utama ekonomi  kolonial yalah Indonesia yang dijadikan tempat pengedukan kekayaan alam, dan  tempat penjualan barang yang sudah diolah dengan nilai tambah yang tinggi.<strong><\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Ciri khas yang lain  yalah ekonomi dualistik, yaitu daerah perkotaan yang elitnya sangat maju dan  kaya, tetapi bersifat konsumtif, dan daerah yang bersifat tradisional, yaitu  pertanian, perikanan dan peternakan dengan cara-cara yang sangat primitif. Maka  mereka sangat miskin. Antara perkotaan dan perdesaan tidak ada kaitan yang  sifatnya <em>trickle down effect<\/em>, di mana  perkotaan menularkan kemakmurannya peda perdesaan. Juga tidak ada <em>pull efect<\/em>, di mana perdesaan ditarik ke  atas pada kemakmuran yang lebih besar.<\/p>\n<p align='justify'>Kita dapat melihatnya  dengan mata kepala sendiri dengan cara mengunjungi daerah-daerah, terutama yang  sejak lama dikenali dengan nama <em>kantong-kantong  kemiskinan<\/em>. Kita juga melihat dengan mata kepala sendiri daerah di sekitar  Grand Indonesia yang terdiri dari lorong-lorong kecil, betapa kondisi rumah  mereka yang jaraknya hanya sekitar 10 menit jalan kaki ke Grand Indonesia. Kita  dapat menyaksikan sendiri manusia gerobak di tengah kota Jakarta yang megah.  Dan kita juga dapat duduk di taman yang baru selesai dibangun pada waduk Pluit.  Di seberangnya penuh dengan rumah sanga-sangat kumuh.<\/p>\n<p align='justify'>Para ekonom yang  secara formal berpendidikan tinggi dengan sinis mengatakan bahwa indikator  ekonomi kok dilihat dengan mata kepala. Baik, mari kita tengok Bank Dunia yang  begitu disegani dan dipandang sangat tinggi oleh para ekonom lulusan  universitas terbaik. Bank Dunia mengatakan bahwa kalau garis kemiskinan adalah  pengeluaran USD 2 per hari per orang, maka 50% dari bangsa Indonesia tergolong  miskin. Ini setelah kita 68 tahun merdeka, atau 68 tahun setelah kita selesai  membangun <em>jembatan emas<\/em> menuju pada  kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan sosial. Artinya, orang Indonesia yang  pendapatannya Rp. 600.001 per bulan bukan orang miskin. Lembaga yang mengatakan  inilah yang oleh Presiden SBY beserta jajarannya dianggap sangat <em>credible<\/em>.<\/p>\n<p align='justify'><strong>Antara perekonomian terbesar di dunia nomor 5 dan  kepanikan dewasa ini<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Belum lama berselang,  media penuh dengan berita-berita eforia tentang Indonesia yang dalam waktu  tidak lama lagi akan menjadi ekonomi terbesar nomor 5 di dunia. Komite Ekonomi  Nasional atau KEN mendengungkan suara yang nyaring itu. Namun sekarang lain  lagi suaranya setelah dalam waktu singkat cadangan devisa berkurang tajam, IHSG  anjlok, nilai tukar rupiah terpuruk.<\/p>\n<p align='justify'>Mari dengan tenang  dan berwawasan jangka panjang kita telaah lebih lanjut sebagai berikut.<\/p>\n<p align='justify'><strong>Kekuatan nilai tukar rupiah<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Nilai tukar rupiah  stabil pada kisaran Rp. 8.000 untuk jangka waktu yang relatif lama. Penguasa  bereforia mengatakan akan menjadi Rp. 7.000.<\/p>\n<p align='justify'>Di tahun 1969, nilai  tukar rupiah terhadap dollar 1 USD = Rp. 387 dan nilai tukar Thai Bath adalah 1  USD = 20 Baht. Sekarang nilai tukar rupiah 1 USD = Rp. 10.500 atau terdepresiasi  27 kali lipat atau 2.600 %. Nilai tukar Thai Baht sekarang 1 USD = Baht 35,  atau terdepresiasi 1,75 kalilipat atau 75%.<\/p>\n<p align='justify'><strong>Apakah Presiden SBY yang salah ?<\/strong><\/p>\n<p align='justify'>Apakah kesenjangan  yang demikian besarnya kesalahan dari Presiden SBY yang berkuasa sejak tahun  2004 ? Tidak. Kondisi seperti ini sudah ada sejak kita merdeka, dan di tahun  lima puluhan Prof. Sumitro Djojohadikusumo menggambarkannya lagi dalam bukunya  yang berjudul &ldquo;Ekonomi Pembangunan&rdquo;.<\/p>\n<p align='justify'>Presiden SBY tidak  membuat perekonomian seperti yang tergambarkan di atas, tetapi jelas bahwa  beliau tidak mampu memperbaikinya selama beliau memerintah sejak tahun 2004.  Sebaliknya lembaga-lembaga pemerintah dibentuk seperti KEN yang meniru <em>Economic Council<\/em>-nya Presiden Amerika  Serikat, namun tanpa prestasi kecuali mengumandangkan slogan-slogan yang tidak  pernah ada wujudnya.<\/p>\n<p align='justify'>Birokrasi membengkak  sangat cepat dan menjadi sangat gemuk tanpa prestasi. Tentang ini akan kami tanggapi  tersendiri dalam platform PDI-P yang lebih menyeluruh.<\/p>\n<p align='justify'>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pencuatan yang mendadak Penyebab utama dari anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan terpuruknya nilai tukar rupiah dengan pencuatan yang mendadak yalah struktur ekonomi kita yang sejak lama sudah sangat tidak sehat, tetapi diobati dengan cara yang tambal sulam. Bahkan sama sekali tidak diobati, melainkan diserahkan pada mekanisme pasar yang dibuat sebebas-bebasnya. Penjelasannya kami berikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4,21,20],"tags":[],"class_list":["post-565","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ekonomi","category-ihsg","category-rupiah"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/565","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=565"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/565\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":567,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/565\/revisions\/567"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=565"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=565"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=565"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}