{"id":4,"date":"2011-03-08T02:53:20","date_gmt":"2011-03-08T02:53:20","guid":{"rendered":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/?p=4"},"modified":"2011-03-22T10:15:07","modified_gmt":"2011-03-22T03:15:07","slug":"rebutan-jadi-presiden-dengan-tujuan-apa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/2011\/03\/rebutan-jadi-presiden-dengan-tujuan-apa\/","title":{"rendered":"Rebutan Jadi Presiden Dengan Tujuan Apa?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Sejak tahun 2002 dunia politik kita sangat gaduh dengan perjuangan  beberapa tokoh menjadi Presiden RI melalui pemilu langsung. Demikian  juga dengan pemilihan Gubernur, Walikota, Bupati dan Camat. Untuk  menjadi Presiden beberapa calon bersedia mengeluarkan uang sampai  ratusan milyar rupiah. Pertanyaannya uang diperoleh dari mana? Banyak  sekali argumentasi dikemukakan. Yang diyakini oleh banyak orang dana  sangat besar itu diperoleh dari pengusaha yang bersedia memberikannya  dengan motif dagang, yaitu apabila berhasil, kepadanya harus diberikan  fasilitas dan bahkan dijadikan Menteri dengan kekuasaan yang bisa  dipakai untuk memperkaya diri secara sewenang-wenang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kalau keyakinan banyak orang ini benar, demokratisasi Indonesia yang dikawal oleh <em>National Democratic Institute<\/em> (NDI) dari Amerika Serikat sudah menanamkan korupsi ke dalam sistem  politik secara struktural pada para pimpinan dalam berbagai jenjangnya,  karena sang pemimpin dari Presiden sampai Camat harus membayar kembali  pembiayaan dalam jumlah besar yang dipakai untuk mendudukannya pada  kekuasaan yang sedang diembannya. Sangat besar kemungkinannya bahwa  caranya memperoleh uang untuk membayarnya kembali dengan cara  menyalahgunakan kekuasaannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Implikasi yang lebih serius ialah adanya pikiran yang korup atau <em>corrupted mind<\/em> sejak awal yang bersangkutan ingin menjadi pemimpin. Mengapa? Karena  tidak merasa ada yang salah dalam berutang untuk merebut kekuasaan.  Bahkan mungkin tidak sadar. <em>Corrupted mind<\/em> seperti ini lebih berbahaya dibandingkan dengan korupsi dalam bentuk-bentuk lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa? Karena pemberantasan korupsi yang sekarang sedang  berlangsung di kemudian hari akan selalu berpacu dengan korupsi baru  oleh para pimpinan negara yang baru terpilih pada semua jenjang, karena  mereka harus mengembalikan uang yang dipakai dalam memenangkan pemilu  yang membawanya pada jabatannya yang sekarang. Apakah kecuali  menyalahgunakan kekuasaan untuk mengembalikan modal ada juga perwujudan <em>corrupted mind<\/em> yang lebih berbahaya, tetapi tidak kasat mata atau lebih <em>intangible<\/em>?  Teoretis dan potensinya ada, yaitu kalau obsesinya memperoleh dan\/atau  mempertahankan kekuasaannya sudah mulai menggantungkan diri pada  kekuasaan lebih besar dengan dukungan politik yang adi kuasa. Biayanya  bisa sangat mahal, yaitu kehilangan kemandirian bangsa, penyedotan dan  pengedukan kekayaan alam kita. Bisa juga membiarkan kekuatan asing  memecah belah NKRI supaya bagian-bagian NKRI yang sangat kaya sumber  daya alam dan mineral memisahkan diri dari Indonesia dan bergabung  dengan kekuatan adi kuasa asing.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Reformasi demokratisasi Indonesia seperti yang digagas dan dikawal  oleh NDI membawa kerusakan jiwa pada para pemimpin kita. Kita tercengang  menyaksikan orang Indonesia yang hakikatnya rendah hati dan \u201cpemalu\u201d  mendadak sontak bisa menyombongkan diri berkeliling seluruh Indonesia,  menepuk dada di depan massa sambil mengatakan: \u201cWahai rakyatku, aku ini  orang hebat. Pilihlah aku menjadi Presidenmu !!\u201d Banyak orang termasuk  saya tidak habis pikir bagaimana mungkin bisa terjadi perubahan jiwa  yang demikian drastisnya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Biasanya Presiden yang sedang berkuasa ingin menang lagi dalam  pemilihan berikutnya. Supaya bisa menang dia harus menjaga agar dirinya  senantiasa sepopuler mungkin. Maka keseluruhan kebijakannya selalu  dihantui oleh penjagaan popularitas, sehingga selalu dalam keraguan  antara kebijakan yang jelas dan tegas dan kebijakan yang dapat  memberikan kepadanya citra yang baik. Program kerjanya bergeser dari  menjalankan program yang <em>solid<\/em> menjadi kegiatan-kegiatan ad hoc yang oleh rakyatnya akhirnya dikenali dan dijuluki sebagai program kerja pencitraan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagaimana dengan yang dahulu sejak RI berdiri? Bung Karno dengan  semua pemimpin seangkatannya berjuang memerdekakan bangsa kita yang  sudah lama dijajah Belanda. Mereka itu para lulusan universitas di  Belanda dan di Hindia Belanda. Waktu itu lulusan perguruan tinggi sangat  langka, sehingga kalau mereka mau menjadi <em>ambtenaar<\/em> (pegawai  negeri), gajinya sangat tinggi, bisa hidup sangat makmur. Tetapi mereka  membuang semua kesempatan itu. Mereka memilih berjuang untuk kemerdekaan  bangsanya dari penjajahan dengan akibat keluar masuk penjara. Karena  perbuatannya yang nyata ini, rakyat merasa dan menerima bahwa yang harus  menjadi Presiden beserta pemimpinnya haruslah Bung Karno beserta  kawan-kawannya. Tidak ada kampanye dan tidak ada pemilihan. Begitu juga  yang terjadi di India dengan Mahatma Gandhi dan Nehru, dengan Ho Chi  Minh, dengan Sun Yat Sen, Chiang Kai Shek dan Mao Tze Tung, dengan Lee  Kwan Yew dan masih sangat banyak lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagaimana dengan pak Harto? Pak Harto dengan rekan-rekannya,  terutama Jenderal Nasution sebagai seniornya bekerja keras memulihkan  keamanan dan ketertiban. Karena perbuatan kepemimpinannya yang nyata  inilah rakyat menganggap dengan sendirinya yang menjadi Presiden setelah  Bung Karno adalah Jenderal Nasution. Beliau menolak. Karena itu barulah  pak Harto diminta, dan beliaupun menolak karena merasa tidak siap  menjadi Presiden. Setelah diminta oleh rakyat (MPR) di tahun 1968  barulah menerima jabatan sebagai Presiden dengan rasa adanya beban dan  tanggung jawab maha besar di atas pundaknya. Jadi tidak menyombongkan  dan membesar-besarkan diri terlebih dahulu dengan maksud supaya tanpa <em>track record<\/em> yang besar menjadi Presiden. Tidak begitu! Bekerja keras mempertaruhkan segala-galanya. Karena <em>track record<\/em> yang nyata dan besar inilah rakyat menganggap dengan sendirinya pak Harto yang menjadi Presiden setelah pak Nas menolak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi Nasution, Soeharto, seperti halnya dengan Bung Karno bekerja  keras dahulu, dikenal oleh rakyat sebagai pemimpin sejati, dan baru  diminta oleh rakyat. Diminta, tidak dipilih dengan cara membeli suara  rakyat dalam berbagai bentuk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang dilakukan selama kampanye tiada lain kecuali membangun <em>image<\/em>,  pencitraan, caranya berjalan diatur, melambaikan tangannya diatur,  pakaiannya diatur, mimiknya diatur. Tapi yang keluar dari pidatonya  tidak ada konsep yang jelas menggambarkan kebijakan, program dan  cara-cara membuat makmur bangsanya yang berkeadilan. Pencitraan atau  lenggak-lenggoknya itu olehnya sendiri disebut \u201cmanuver\u201d. Rakyat yang  menyaksikan mereka bermanuver tujuh keliling menjadi mabok terlebih  dahulu. Terus disodori uang untuk memilihnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hampir semua orang bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa gerangan  maksud dan tujuan yang sebenarnya dari para calon Presiden itu,  sehingga menjadikannya demikian besar keinginannya menjadi Presiden?  Banyak wartawan yang terang-terangan menanyakan kepada para calon secara  langsung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jawabnya selalu ingin membela dan memakmurkan rakyatnya. Apa iya?  Apa betul mereka orang-orang yang begitu mulianya? Menurut keyakinan  saya hanya orang-orang yang betul-betul sangat-sangat mulia yang mau  berkampanye demikian kerasnya sambil mengeluarkan uang demikian  besarnya, tetapi sama sekali tidak memikirkan kepentingan dirinya  sendiri. Orang-orang yang mulia, yang idealis, yang panggilan dan  pilihan hidupnya ikut serta dalam penyelenggaraan negara untuk  kepentingan rakyatnya tanpa pamrih terlihat jelas dalam hidupnya  sehari-hari. Contoh-contoh konkretnya yalah para pendiri bangsa kita.  Tidak ada satupun dari mereka yang minta kepada rakyat supaya memilihnya  sebagai pejabat tinggi, apalagi sebagai Presiden setelah Indonesia  merdeka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemimpin sejati tidak menyodorkan dirinya. Pemimpin sejati mau  memimpin kalau dibutuhkan dan diminta. Adakah pemimpin seperti itu? Ada,  tetapi seperti yang ditulis di atas, pemimpin sejati seperti itu tidak  akan menonjolkan diri. Pemimpin seperti itu melakukan kegiatan-kegiatan  yang olehnya sendiri tidak disadari untuk kepentingan rakyat banyak.  Seluruh kegiatannya sehari-hari bagaikan panggilan hidupnya yang ikut  serta dalam penyelenggaraan negara yang baik. Dan karena kegiatannya  sehari-hari yang tidak dibuat-buat itulah dia dikenali oleh rakyat  sebagai pemimpinnya yang sejati, dan kemudian baru diminta, didesak oleh  rakyat supaya mempimpin bangsanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perkecualian tentu selalu ada. Tentu ada yang setelah Indonesia  memasuki sistem pemilihan Presiden seperti ini ikut serta dalam  pemilihan Presiden dengan maksud yang memang mulia. Namun jumlahnya  terlampau sedikit, dan yang baik ini dengan mudah dapat digeser oleh  kekuatan uang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka sistem pemilu langsung yang dirancang oleh NDI harus kita hapus  dan diganti dengan yang sudah lama kita kenal. Yaitu mencari pemimpin  terbaik melalui musyawarah untuk mencapai mufakat yang dipimpin oleh  hikmah kebijaksanaan. Dengan sendirinya haruslah oleh orang-orang yang  arif bijaksana, atau oleh <em>de wijze mannen van het volk<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di Eropa, pemilu Presiden memang ada. Tetapi kebanyakan Presidennya  hanya simbol. Yang berkuasa adalah Perdana Menteri, dan Perdana Menteri  tidak dipilih secara langsung oleh rakyat. Perdana Menteri dipilih oleh  parlemen yang dianggap terdiri dari <em>de wijze mannen van het volk<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahwa parlemen di Indonesia tidak bisa dikatakan terdiri dari <em>de wijze mannen van het volk<\/em> urusan lain lagi. Itu menyangkut dimensi lebih luas, yaitu kerusakan  mental dan moral dari kebanyakan elit bangsa kita yang sedang mengalami <em>malaise<\/em> atau <em>general melt down<\/em>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejak tahun 2002 dunia politik kita sangat gaduh dengan perjuangan beberapa tokoh menjadi Presiden RI melalui pemilu langsung. Demikian juga dengan pemilihan Gubernur, Walikota, Bupati dan Camat. Untuk menjadi Presiden beberapa calon bersedia mengeluarkan uang sampai ratusan milyar rupiah. Pertanyaannya uang diperoleh dari mana? Banyak sekali argumentasi dikemukakan. Yang diyakini oleh banyak orang dana sangat &hellip; <a href=\"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/2011\/03\/rebutan-jadi-presiden-dengan-tujuan-apa\/\" class=\"more-link\">Lanjutkan membaca <span class=\"screen-reader-text\">Rebutan Jadi Presiden Dengan Tujuan Apa?<\/span> <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-4","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-politik"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4\/revisions\/8"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}