{"id":26,"date":"2011-03-08T03:24:16","date_gmt":"2011-03-08T03:24:16","guid":{"rendered":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/?p=26"},"modified":"2011-03-22T10:14:09","modified_gmt":"2011-03-22T03:14:09","slug":"globalisasi-liberalisasi-proteksi-subsidi-dan-berkeley-mafia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/2011\/03\/globalisasi-liberalisasi-proteksi-subsidi-dan-berkeley-mafia\/","title":{"rendered":"Globalisasi, Liberalisasi, Proteksi, Subsidi dan Berkeley Mafia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Ada tiga buah berita menarik yang mungkin merupakan pertanda akan  terjadinya perubahan dalam kebijakan-kebijakan dasar banyak negara  kecuali Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>HILLARY CLINTON<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang pertama pernyataan calon presiden Amerika Serikat (AS) terkuat  Hillary Clinton yang dikutip oleh Financial Times tanggal 3 Desember  2007. Butir-butirnya sebagai berikut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya berpendapat bahwa teori-teori yang melandasi perdagangan bebas  tidak berlaku lagi dalam era globalisasi. Saya setuju dengan ekonom  terkenal Paul Samuelson yang mengatakan dan menulis bahwa keunggulan  komparatif seperti yang sampai sekarang dipahami dan diyakini tidak  berlaku lagi dalam abad ke 21.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya menginginkan adanya kebijakan perdagangan yang menyeluruh dan  lebih cermat, karena kalau tidak, pilihan kita hanyalah meneruskan apa  saja yang telah dirumuskan dan dilakukan oleh Preiden George W Bush.  (baca : liberalisasi total).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam kampanyenya Hillary merasakan adanya sikap dari masyarakat  yang tidak percaya atau ragu-ragu tentang manfaat dari ekonomi global  yang terbuka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hillary menyatakan akan meninjau kembali perjanjian perdagangan  NAFTA, walaupun yang menandatanganinya di tahun 1993 adalah suaminya  sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menyatakan keprihatinannya dan sikap siaga terhadap pembelian  perusahaan-perusahaan Amerika oleh pemerintah asing melalui BUMN-nya,  termasuk China. Fenomena ini merupakan ancaman bagi kedaulatan ekonomi  AS.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di dalam negeri, Hillary akan menangani ketimpangan yang menurutnya  luar biasa besarnya, karena sudah mencapai \u201cthe highest level\u201d yang  pernah dialami AS sejak tahun 1929. Dalam kurun waktu tersebut seluruh  pertumbuhan ekonomi dinikmati oleh 10 % rakyat yang berpendapatan  tinggi, sedangkan pendapatan yang 90 % lainnya menurun terus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(KKG : Bandingkan sikap Hillary dengan pendirian dan sikap serta kebijakan konkret dari menteri-menteri ekonomi kita)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>MAJALAH THE ECONOMIST<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Majalah prestisius The Economist terbitan tanggal 8 Desember 2007  meluncurkan cover story dengan judul \u201cThe end of cheap food\u201d.  Butir-butirnya sebagai berikut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Antara 1974 \u2013 2005 harga riil makanan di pasar dunia turun dengan 75  %. Karena itu harga makanan tahun ini dirasakan sebagai sangat luar  biasa tingginya. Sejak musim semi, harga gandum meningkat dua kali  lipat, dan harga semua jenis makanan seperti jagung, susu, minyak nabati  semuanya meningkat tajam dalam harga nominalnya. Menurut The Economist  Food Price Index, sejak tahun 2005 harga riil makanan meningkat dengan  75 %. Naiknya harga ini akan memicu investasi, tetapi dalam kondisi yang  diistilahkan \u201cagflation\u201d, harga makanan masih akan tetap mahal. Ini  disebabkan karena susunan diet juga berubah. Penduduk China yang di  tahun 1985 makan daging sebanyak rata-rata 20 kg, sekarang menjadi 50  kg. Akibatnya, permintaan dan harga biji-bijian naik tajam. Untuk  memproduksi 1 kg. daging dibutuhkan 8 kg. biji-bijian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kenaikan harga makanan yang tajam ini karena kebijakan subsidi oleh pemerintah AS yang membabi buta (<em>reckless<\/em>)  untuk produksi ethanol berdasarkan jagung. Mengisi tangki sebuah mobil  tipe SUV sama dengan jagung yang dimakan oleh seorang selama satu tahun.  30 juta ton jagung yang dikonversi menjadi ethanol tahun ini saja  merupakan 50 % dari menurunnya stok jagung di seluruh dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(KKG : Ternyata pemerintah AS memberikan subsidi yang menurut majalah Economist <em>reckless<\/em>. Bagaimana sikap para sarjana ekonomi kelompok Berkeley Mafia yang begitu anti subsidi untuk para petani dan nelayannya ?)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Walaupun harga makanan ditentukan oleh permintaan dan penawaran,  keseimbangan antara yang baik dan yang jahat tetap banyak tergantung  pada kebijakan pemerintah. Kalau para politisi tidak melakukan apa-apa,  atau melakukan hal-hal yang salah, dunia akan mengalami kesengsaraan  yang lebih hebat, terutama mereka yang tinggal di perdesaan. (KKG :  Menurut Berkeley Mafia : <em>The best government is the least government<\/em>.  Mereka juga sering guyonan dengan maksud serius yang mengatakan bahwa  pertumbuhan ekonomi paling cepat di malam hari, ketika pemerintah sedang  tidur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut majalah The Economist, peran politik para politisi sangat  penting dalam merumuskan kebijakan ekonomi. Para ekonom Berkeley Mafia  beranggapan dan bangga bahwa mereka selalu berhasil mensterilkan  kebijakan-kebijakannya dari ideologi politik. Mereka tidak mau disebut  \u201cpolitisi\u201d walaupun dalam arti \u201cnegarawan penyelenggara negara\u201d. Mereka  bangga disebut \u201ctukang\u201d atau \u201cteknokrat\u201d. Dan yang sangat aneh, Bapak  SBY-JK bangga mempunyai menteri-menteri ekonomi yang sama sekali tidak  mempunyai afiliasi politik, karena sikapnya yang anti politik dalam  kebijakan ekonomi itu dipuji oleh IMF, Bank Dunia dan Bank Pembangunan  Asia. Padahal SBY-JK berasal dan menjadi pimpinan nasional karena  kekuatan politik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apapun yang dirasakan sebagai ancaman dalam bidang keamanan pasokan  makanan, kemiskinan di perdesaan, pengelolaan lingkungan, rasanya dunia  hanya mempunyai satu solusi, yaitu intervensi oleh pemerintah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(KKG : Bapak SBY-JK, ini berlawanan dengan pikiran menteri-menteri  ekonomi yang mempunyai paham bahwa tidak ada barang dan jasa publik di  Indonesia. Semuanya harus merupakan barang dagangan yang pengadaannya  tergantung dari para pengusaha yang mau atau tidak maunya berinvestasi  didasarkan atas pertimbangan untung rugi. Tengok kebijakannya dalam  pembangunan jalan raya bebas hambatan, telekomunikasi, infra struktur,  air minum, litsrik, pelabuhan dan masih banyak lagi).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagian terbesar dari subsidi dan rintangan perdagangan oleh  pemerintah AS telah merupakan biaya yang raksasa skalanya. Trilyunan  dollar yang dipakai untuk mendukung para petani di negara-negara kaya  menjurus pada pajak yang meningkat, kwalitas makanan yang jelek,  monokultur dalam pertanian yang intensif, kelebihan produksi dengan  harga dunia yang menghancurkan kehidupan para petani miskin di emerging  markets. (KKG : Ternyata mereka memberikan subsidi gila-gilaan ?  Menteri-menteri kita merasa bahwa bensin milik rakyat tidak boleh dijual  kepada rakyat dengan harga yang lebih rendah dari yang ditentukan oleh  NYMEX. Perbedaannya disebut subsidi yang diharamkan. Di negara-negara  kaya subsidi diberikan secara <em>reckless<\/em>.)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tiga perempat dari orang miskin di dunia hidup di perdesaan. Harga  makanan internasional yang ditekan serendah mungkin dengan subsidi  bertrilyun dollar selama berpuluh-puluh tahun mempunyai dampak yang  sangat merusak. Bagian dari pengeluaran publik di negara-negara  berkembang yang dialokasikan pada sektor pertanian turun 50 % sejak  tahun 1980. Sudah lama investasi dalam irigasi hampir tidak ada.  Negara-negara miskin yang biasanya mengekspor makanan sekarang harus  mengimpornya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>ROBERT J. SAMUELSON<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Majalah Newsweek terbitan 31 Desember \u2013 7 Januari 2008 memuat  tulisan kolumnis Robert J. Samuelson yang berjudul \u201cGoodbye to Global  Free Trade\u201d. Dia mengawali tulisannya dengan semacam teka-teki. Dia  bertanya, apa yang sama dari yang berikut ini : (a) Vladimir Putin; (b)  mata uang China, renminbi; (c) Perjanjian perdagangan US-Peru; (d) Hugo  Chavez. Jawabnya : Mereka semuanya merefleksikan mercantilisme.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Butir-butir dari tulisannya sebagai berikut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang di atas menggambarkan perkembangan runyam dan signifikan yang  akan mempengaruhi ekonomi dunia. Walaupun perekonomian negara-negara di  dunia saling interdependen, mereka sekaligus juga berkembang ke arah  nasionalistik. Mereka memberlakukan kebijakan yang menguntungkan dirinya  sendiri atas biaya bangsa-bangsa lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(KKG : Tidak begitu di Indonesia. Di sini, oleh elit bangsa yang  berkuasa nasionalisme dianggap sudah kuno, keblinger dan buta terhadap  perkembangan dunia).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">25 % dari pasokan gas Eropa datang dari Russia. Vladimir Putin sudah  mulai berbicara tentang pembentukan Kartel Gas. Eropa mulai khawatir  bahwa gas akan dijadikan alat penekan oleh Putin. Chavez lebih  terang-terangan dan kasar. Chavez menjual minyaknya kepada Cuba dan  negara-negara Amerika Latin lainnya yang dianggap sebagai sahabat dengan  harga murah. (KKG : Indonesia menjual kepada rakyatnya sendiri yang  memiliki minyak dengan harga yang ditentukan oleh NYMEX).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terjadi sebuah paradox. Internet dan perusahaan-perusahaan  multinasional memperkuat globalisasi, tetapi landasan politiknya  melemah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam memberikan penjelasannya, Samuelson mengutip ilmuwan ilmu  politik dari Harvard University, Jeffrey Frieden. Frieden menjelaskan  bahwa munculnya liberalisasi bersamaan dengan krisis tahun 1929. Waktu  itu ada kepercayaan bahwa proteksionisme memperparah <em>the Great Depression<\/em> (1929). Faktor kedua adalah perang dingin. Ada keyakinan bahwa  komunisme dapat dilawan dengan saling mensejahterakan negara-negara  Barat melalui perdagangan bebas. Kedua-duanya menunjang kebijakan  perdagangan bebas. Sekarang kedua faktor tersebut tidak relevan lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ekonomi dunia yang sedang dalam kondisi booming ternyata juga  membuat paham liberalisme melemah. China yang dianggap sebagai negara  yang proteksionis dapat membungkam negara-negara Barat dengan pembelian  besar-besaran. Negara-negara Barat tidak terlampau nyaring suaranya  melawan China, karena disodori oleh China dengan order-order raksasa.  Belum lama ini China memesan 160 pesawat Airbus senilai US$ 15 milyar.  (KKG : Beberapa hari setelah Morgan Stanely mengumumkan kerugiannya di  tahun 2007 sekitar US$ 11 milyar, China membeli saham-saham Morgan  Stanley sebanyak 8 % dengan harga US$ 5 milyar. Ini terjadi setelah  Hillary Clinton menyatakan kejengkelannya terhadap pembelian perusahaan  Amerika oleh BUMN asing.)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(KKG : Alangkah bedanya dengan menteri-menteri Berkeley Mafia kita  yang mengemis supaya investor asing, tanpa peduli apakah mereka BUMN  atau tidak, membeli apa saja di Indonesia, termasuk yang vital seperti  Indosat, Telkom, infra struktur, pembangkit listrik, air bersih,  menggali mineral dengan kontrak yang tidak transparan).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di Amerika Serikat, pola perdagangan global dewasa ini disikapi dengan permusuhan (hostility) yang meningkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>BERKELEY MAFIA<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Buat para ekonom Berkeley Mafia, semua yang ditulis di atas omong  kosong. Kebijakan mereka hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa peduli  terjadinya ketimpangan yang semakin besar dan semakin anti kemanusiaan  antara yang kaya dan miskin, antara perkotaan dan perdesaan, antara  usaha besar dan menengah-kecil dan sebagainya. Mereka juga tidak  membedakan antara Produk Domestik Bruto (PDB) dan Produk Nasional Bruto  (PNB). Mineral yang dikeduk oleh investor asing dan menjadi miliknya  dihitung ke dalam PDB, tetapi tidak ke dalam PNB. Yang dibanggakan oleh  para teknokrat Berkeley Mafia bukan pembangunan oleh bangsa Indonesia,  tetapi pembangunan di Indonesia oleh investor asing dengan manfaat  terbesar buat bangsa asing (Sri-Edi Swasono).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejak tahun 1967 para ekonom memegang tampuk pimpinan kebijakan  ekonomi tanpa putus kecuali era Gus Dur yang sangat pendek itu. Begitu  kepresidenan jatuh ke tangan putrinya Bung Karno, Megawati  Soekarnoputri, seluruh kekuasaan ekonomi diberikan kepada Berkeley  Mafia. Sehari sebelum susunan kabinet diumumkan, putra kandung Bung  Karno, Guruh Soekarnoputra bersama-sama dengan saya berdebat dengan  Presiden Megawati yang mempertanyakan mengapa para ekonom yang Berkeley  Mafia, dan jelas bertentangan dengan pikiran-pikirannya Bung Karno dan  pikiran-pikirannya PDIP yang justru diberi kekuasaan ekonomi ? \u201cGugatan\u201d  ini tidak diugbris. Di bawah pimpinan para menteri Berkeley Mafia,  semua kebijakan ekonominya memang mengekor IMF, Bank Dunia dan Bank  Pembangunan Asia yang anti rakyat kecil. Apakah ini yang menyebabkan  terpuruknya perolehan suara PDIP yang belakangan ini diakui oleh Taufik  Kiemas dan Puan Maharani ?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semua kerusakan keuangan negara dari BLBI beserta rentetannya yang  membuat keuangan negara bangkrut dilandasi oleh kebijakan-kebijakan  menteri-menteri yang berasal dari Berkeley Mafia. Kalau ada kebutuhan  dan diizinkan oleh Redaksi KoranInternet saya akan memaparkannya secara  panjang lebar dalam bentuk serial, dan secara teknis yang mendetil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekarang, ketika tokoh-tokoh dunia mulai tidak percaya pada pengaruh  positif globalisasi dan liberalisasi, dan sedang mencari-cari jalan  lain, Berkeley Mafia masih menganggap liberalisasi yang sejauh-jauhnya  dan yang sedalam-dalamnya sebagai \u201cagama\u201d. Demikian juga dengan  mekanisme pasar primitif dengan campur tangan pemerintah yang palig  minimal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ruud Lubbers, guru besar di Harvard University dalam bidang  Globalisasi telah lama mengenali kelemahan mendasar dari globalisasi.  Pada dasarnya globalisasi adalah mekanisme pasar yang diterapkan di  seluruh dunia. Kita mengetahui bahwa mekanisme pasar memang sangat bagus  dan efisien serta tidak ada tandingannya. Tetapi harus ada pemerintah  dengan kekuasaan yang dapat memaksa untuk membuat rambu-rambu yang  menjaga agar pemerataan dan keadilan terwujud secara optimal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dunia belum dan rasanya tidak akan mempunyai satu pemerintah yang  mempunyai kekuasaan memaksa seluruh umat manusia di dunia. Tetapi  mekanisme pasarnya harus diberlakukan secara mutlak di seluruh dunia.  Mana mungkin ? Tampaknya ketegangan-ketegangannya mulai muncul sekarang  seperti yang disuarakan oleh Hillary Clinton, Paul Samuelson, Robert  Samuelson dan majalah The Economist.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekali lagi petanyaan kepada Bapak SBY-JK : Masih percayakah  Bapak-Bapak pada menteri-menteri ekonomi Bapak bahwa mereka memang  cemerlang dalam bidang pengurusan ekonomi negara ? Mereka ini mesti  menguasai kebijakan ekonomi RI, siapapun Presidennya. Maka mereka tidak  peduli dan tidak mau tau tentang arah kebijakan yang pro bangsa sendiri,  apalagi pro rakyat banyak. Mereka mempunyai track record yang panjang  dengan sikap dan perilaku yang hanya mengekor saja pada IMF, Bank Dunia  dan Bank Pembangunan Asia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada tiga buah berita menarik yang mungkin merupakan pertanda akan terjadinya perubahan dalam kebijakan-kebijakan dasar banyak negara kecuali Indonesia. HILLARY CLINTON Yang pertama pernyataan calon presiden Amerika Serikat (AS) terkuat Hillary Clinton yang dikutip oleh Financial Times tanggal 3 Desember 2007. Butir-butirnya sebagai berikut. Saya berpendapat bahwa teori-teori yang melandasi perdagangan bebas tidak berlaku lagi &hellip; <a href=\"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/2011\/03\/globalisasi-liberalisasi-proteksi-subsidi-dan-berkeley-mafia\/\" class=\"more-link\">Lanjutkan membaca <span class=\"screen-reader-text\">Globalisasi, Liberalisasi, Proteksi, Subsidi dan Berkeley Mafia<\/span> <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-26","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ekonomi"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":303,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26\/revisions\/303"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}