'

Kategori

Follow Us!

MP3EI, Layu Sebelum Berkembang

Ditulis oleh: Anthony Budiawan
Rektor – Kwik Kian Gie School of Business

MP3EI, yang mempunyai kepanjangan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Eonomi Indonesia, adalah strategi pembangunan ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu II untuk jangka menengah panjang, yaitu untuk periode 2011 sampai 2025.

Semangat MP3EI 2011 – 2025 dapat dikatakan sangat luar biasa karena masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu II hanya lima tahun saja (2009-2014), sedangkan MP3EI diharapkan dapat “hidup” dan diimplementasikan sampai tahun 2025. Apabila pemerintah terpilih selanjutnya bukan dari Partai Demokrat, apakah pemerintah terpilih juga harus mengikuti strategi pembangunan ekonomi seperti tertuang di dalam MP3EI?

Banyak yang bertanya-tanya, apa yang dimaksud dengan MP3EI? Apakah benar MP3EI dapat mengangkat Indonesia menjadi negara maju dan merupakan kekuatan 12 besar dunia pada tahun 2025 (dengan pendapatan per kapita antara 13.000 – 16.100 dolar AS) dan 8 besar dunia pada tahun 2045?

Sekilas, kita harus akui MP3EI merupakan dokumen hasil karya intelektual kelas tinggi. Jargon atau istilah dalam MP3EI menggunakan jargon ilmu manajemen atau manajemen stratejik tingkat atas, yang hanya dapat dimengerti oleh mereka yang setidak-tidaknya mempunyai gelar S2 manajemen. Bagi masyarakat awam, mungkin banyak yang tidak mengerti apa yang tertulis atau terurai di MP3EI. Meskipun demikian, mungkin juga banyak yang tidak berani bertanya karena takut dianggap bodoh, atau karena memang benar-benar tidak mengerti sehingga tidak ada yang dapat ditanya.

Sejak diluncurkan tahun 2011, MP3EI 2011-2025 kehilangan  rohnya. Tahun 2012, kinerja ekonomi Indonesia turun dibandingkan tahun 2011, Neraca perdagangan mengalami defisit sebesar 1,63 miliar dolar AS. Defisit ini untuk pertama kalinya lagi sejak tahun 1961. Tahun 2013, defisit neraca perdagangan kelihatannya akan jauh melebar. Untuk periode Januari – Juli 2013 saja, defisit neraca perdagangan sudah mencapai 5,65 miliar dolar AS, dengan kecenderungan defisit masih akan terjadi untuk bulan-bulan selanjutnya. Selain itu, nilai rupiah masih terus mengalami penurunan. Selama tahun 2013 hingga kini, nilai rupiah terhadap dolar AS sudah merosot hampir 20 persen.

Melihat perkembangan ekonomi yang cenderung melemah, target pendapatan per kapita yang tertuang di dalam MP3EI kelihatannya sulit tercapai. Untuk target jangka pendek saja juga sulit terpenuhi. Target pendapatan per kapita tahun 2014 menurut MP3EI adalah 4.800 dolar AS. menurut data World Bank, pendapatan per kapita Indonesia tahun 2010 sebesar 2.947 dolar AS, dan tahun 2012 hanya naik sedikit menjadi 3.557 dolar AS.

Melihat tantangan ekonomi yang semakin berat untuk tahun 2013 dan 2014 di mana ekspor cenderung menurun, impor cenderung meningkat, tingkat suku bunga pinjaman meningkat seiring dengan meningkatnya suku bunga acuan Bank Indonesia sehingga akan menekan investasi, maka hampir dapat dipastikan pendapatan per kapita Indonesia tahun 2013 akan jauh berada di bawah 4.000 dolar AS dan tahun 2014 akan jauh di bawah 4.800 dolar AS.

Untuk jangka pendek saja, dan, ironisnya, setelah strategi pembangunan ekonomi Indonesia yang tertuang dalam MP3EI diluncurkan, kinerja ekonomi Indonesia malah menurun, dan bukan tidak mungkin ekonomi Indonesia dapat masuk ke dalam krisis yang dipicu oleh pemerosotan nilai rupiah yang diikuiti dengan penaikan suku bunga pinjaman yang pada gilirannya akan menekan pertumbuhan ekonomi.

Oleh karena itu, MP3EI dapat dikatakan, Layu sebelum Berkembang.

— 000 —

 

Jika anda menyukai artikel ini, silahkan memberikan komentar atau berlangganan RSS feed untuk menyebarkan ke pembaca feed anda.

3 responses to "MP3EI, Layu Sebelum Berkembang"

  1. Mohamad Yahya Oktober 26th, 2014 00:15 am Balas

    Salam sejahtera Pak Budi.
    MERDEKA ! (apa sudah ?)

    Mencermati sepintas judul tulisan Anda di Forum Kwik Kian Gie: “MP3EI layu sebelum berkembang”, saya sepaham (-dengan sedikit bahasan). Jika saya sendiri yang membahas, dimana saya sudah terbiasa mengetrapkan bahasa yang duabelas-pas, saya akan beri judul : MP3EI Serigala berbulu Domba !. Lebih sadis atau dahsyat, biarlah uraian singkatnya menjelaskan sendiri. Bahasa saya bahasa se-enaknya, dan saya bukan ekonom, bukan dari disiplin ilmu-hukum. Rakyat 100%, tidak ada jabatan partai, apalagi di pemerintahan. Praktisnya orang “independence” atau bahasa gaulnya GOLPUT. Sekolah/pendidikan ? Yah, cukuplah pada jamannya, tetapi tidak puas dengan kondisi, situasi selama ini, mulai dari jaman H.M Soeharto. Jaman Bung Karno ?? Masih bau kencur! Hobby ? Suka baca tidak pandang jenis dan intinya – sejauh tertarik, ada waktu dan kebetulan punya bacaan tersebut. Dan . . . . . . . . suka menulis. Alhamdulillah, ini semua yang membuat kesehatan saya cukup baik pada usia kini, menjelang 71 tahun (= lansia).

    Untuk pengenalan saudara-saudara kita yang kurang tertarik, senang rame saja, maka judul “MP3EI layu sebelum berkembang” bernuansa bahwa MP3EI itu sudah ditanam/disemai. Tumbuh atau tidak, terpulang kepada yang menanam dan memupuknya.
    2 (dua) hal besar yang perlu diketahui oleh masyarakat, :

    1. MP3EI adalah Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia, yang dicanangkan oleh pemerintah SBY untuk kurun waktu 2011-2025. Namanya juga Masterplan, jadi seandai kita masih didalam kerangka UUD yang asli, belum diobrak-abrik tangan dan (pikiran)-kotor, dimana ada MPR yang menetapkan GBHN; maka Masterplan SBY tadi bisalah dikategorikan sebagai GBHN produk MPR, baik durasi waktu dan dana-nya. Celaka-nya, SBY itu mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, tahun 2014(Oktober) harus legowo mundur/menyerahkan jabatan kepada pemerintahan yang baru. Jadi MP3EI itu(-bila dipaksakan) bolehlah disamakan sebagai GBHN, yaitu Garis Besar Hancurnya Negara Biaya yang dianggarkan untuk Proyek ini bukan main besarnya, yaitu Rp.4.700 Triliun.
    Utang lagi ??? SIAPA YANG BAYAR ??

    2. SBY antusias sekali agar proyek padat-modal ini bisa diadopsi oleh pemerintah baru , pasangan JKW-JK. “Cetak biru ini harus dipahami oleh seluruh masyarakat Indonesia. Saya juga sudah bertemu Joko Widodo, presiden terpilih, agar mengetahui dan melanjutkan cetak biru ini,” tegas Presiden Yudhoyono saat meresmikan sejumlah proyek senilai Rp.20 triliun yang masuk program MP3EI koridor Kalimantan. (Coment: wah..wah.. sabar dikit Brow, kalau untuk seluruh masyarakat Indonesia. 2000% saya tidak bakal mau!!)

    Alhamdulillah, Jokowi mengisyaratkan tidak akan melanjutkan program MP3EI, “Terdapat perbedaan orientasi antara MP3EI dan perspektif pembangunan yang akan saya lakukan bersama Pak Jusuf Kalla. Orientasi kami kan ke pertanian untuk kedaulatan pangan dan seluruh infrastruktur,” ujar Jokowi.
    Berikut sebagian dari proyek MP3EI koridor Kalimantan saja, yaitu 3 (tiga) bandara di kawasan perbatasan Malaysia, yakni Bandara Long Apung, Long Bawan, dan Datah Bawai. Kemudian PLTU Embalut, PLTU Peaking, PLTU Senipah dan Gedung VIP di Bandara Sepinggan Balikpapan. Masih ada lagi, pengembangan lapangan Gas Ruby Blok Sebuku, Sisi Nubi 2B, Blok Mahakam.

    Hebat, hebat . . . . . . . sekali lagi HEIBAT ! Segalanya bertumpu buat rakyat. Cuma rakyat yang mana ?? Untuk rakyat! Berapa prosen dari energy atau listrik yang akan terserap oleh rakyat yang banyak ?? Bukan rakyat yang pengusaha, terlebih pengusaha/investor asing. Ini semua bak cerita burung Bul-bul sewaktu pengadaan satelit Palapa 1 dan 2. Berapa prosen yang termanfaatkan oleh rakyat yang banyak ?? Satelit Palapa 1 dan juga 2, lebih banyak untuk kepentingan asing. Negara yang membiayainya, agar mereka mau membuka usaha di Indonesia dengan tersedianya alat komunikasi. Yang tidak pernah dijelaskan kepada rakyat , adalah bahwa satelit itu punya “umur-orbit”. Dan sebelum umur itu habis haruslah pemilik mampu semaksimal mungkin memanfaatkannya kemudian mekanjutkannya dengan membuat Satelit 3,-4, 5 dst-nya. Bagaimana mungkin jika pada saat itu stasiun darat saja belum dipersiapkan. Gambaran gampangnya, ibarat membuat jalan Tol, tetapi belum ada mobil didaerah itu. Celakanya lagi, delman – andong sampai kereta kencana tak boleh melaluinya.
    Bandara ? Biarpun semua tahu manfaatnya, Cuma berapa prosen rakyat yang banyak itu memanfaatkannya ? Asal jangan menggunakan alasan untuk rakyat , O.K-lah. Kita tutup mata tutup telinga. Jika perlu tutup-buku, atau “Go to Hell with your Project” ! Siapa yang bayar ??? UTANG . . . . . . . UTANG . . . . . . UTANG, di atas-namakan Negara !

    Utang yang semakin besar dari tahun ke tahun, setiap ganti pemerintahan bikin program baru dan (-sepintas!) menjanjikan. Buntut-buntutnya, semua dengan cara Utang. Dan utang buat bayar/cicil utang ! Sewaktu akhir Orde-baru, ada reformis (??) yang sudah ember sekali ingin jadi presiden, dan berkoar menantang para pesaingnya dengan kampanye tidak akan ada transaksi utang dengan luar-negeri. Ganjal sana, ganjal sini dengan mengusung Gus Dur yang tidak terdaftar untuk menjadi R.I-1. Mentok menjadi Ketua Umum MPR, dengan tetap saja “ember” berkaok-kaok diluar forum dan pemerintah di Era tsb toh ngutang juga..

    UTANG atas-nama Negara ini yang amat sangat membahayakan, dan harus diklarifikasi, agar jelas duduk permasalahannya. Setiap utang yang mereka adakan, selalu ada “KOMPENSASI” berupa ijin-ijin yang diminati oleh para pemberi utang. Mulai dari buka pabrik, monopoli usaha, memasarkan produk-produk mereka sampai penjarahan bahan tambang/mineral, hutan, lautan/perikanan. Maka dengan MP3EI yang jelas-jelas jauh lebih besar utang dibandingkan kegunaannya bagi rakyat yang banyak, maka lebih tepatlah bila judulnya diganti saja menjadi: “MP3EI adalah SERIGALA berBulu Domba”! Bagaimana dengan para inspirator dan pencetus MP3EI itu ?? Mereka adalah “mBAH-nya Serigala” !.
    Sekian.-

    Salam Pak Budi. Mohamad Yahya, Bandung , 25 Oktober 2014.

  2. Muhammad Hakim Desember 21st, 2014 23:00 pm Balas

    Wow, ternyata MP3EI itu begitu toh? Wah, bahaya itu. Proyek-proyeknya kok terkesan lebih mengarah kepada penyediaan fasilitas bagh para orang berduit? Mengapa bukan diarahkan untuk peningkatan kapasitas produksi pertanian, perikanan, perkebunan yang diusahakan oleh masyarakat perdesaan? Masyarakat di perdesaan kekurangan akses sarana dan pra-sarana transportasi, air bersih, energi listrik, kesehatan, pendidikan, komunikasi, peralatan produksi, keterampilan, permodalan, pemasaran, dsb. Mengapa peningkatan ekonomi negara musti mengedepankan keberpihakan kepada pengusaha besar? Apa rakyat tidak berhak dan tidak mampu mengelolanya?

  3. Muhammad Hakim Desember 21st, 2014 23:01 pm Balas

    Wow, ternyata MP3EI itu begitu toh? Wah, bahaya itu. Proyek-proyeknya kok terkesan lebih mengarah kepada penyediaan fasilitas bagi para orang berduit? Mengapa bukan diarahkan untuk peningkatan kapasitas produksi pertanian, perikanan, perkebunan yang diusahakan oleh masyarakat perdesaan? Masyarakat di perdesaan kekurangan akses sarana dan pra-sarana transportasi, air bersih, energi listrik, kesehatan, pendidikan, komunikasi, peralatan produksi, keterampilan, permodalan, pemasaran, dsb. Mengapa peningkatan ekonomi negara musti mengedepankan keberpihakan kepada pengusaha besar? Apa rakyat tidak berhak dan tidak mampu mengelolanya?

Leave a Reply to Mohamad Yahya