{"id":789,"date":"2014-04-14T09:58:04","date_gmt":"2014-04-14T02:58:04","guid":{"rendered":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/?p=789"},"modified":"2014-04-14T10:00:08","modified_gmt":"2014-04-14T03:00:08","slug":"5-infra-struktur","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/2014\/04\/5-infra-struktur\/","title":{"rendered":"Platform Presiden 2014 (5) INFRA STRUKTUR"},"content":{"rendered":"<p><center><strong>Oleh Kwik Kian Gie<\/strong> <\/center> &nbsp;<\/p>\n<p><strong>Permasalahan<\/strong><\/p>\n<p>Pembangunan dalam bidang infra struktur selalu dikenali  dan dipahami sebagai sangat esensial dalam pembangunan ekonomi sebuah bangsa. Tidak  pernah ada pemerintah, pengamat dan media massa yang tidak menekankan  pentingnya infra struktur.<\/p>\n<p> <!--more--><\/p>\n<p>Bappenas yang tugas pokoknya adalah alokasi anggaran  pembangunan, dan karena itu juga merupakan badan pemikir dalam bidang infra  struktur yang demikian vitalnya dalam pembangunan, mempunyai Deputi Menteri  dalam bidang Infra Struktur dengan staf akhli yang mencukupi, dengan pendidikan  tinggi serta pengalaman yang sangat panjang.<\/p>\n<p>Pengenalannya di mana harus dibangun apa dan berapa  biayanya juga pernah dibukukan secara komprehensif di bawah pimpinan Prof. Dr.  Suyono Dikun, ketika dia berfungsi sebagai Deputi Menteri Bappenas.<\/p>\n<p>Walaupun setiap tahun pentingnya infra struktur  ditekankan dalam setiap diskusi, jumlah dan kondisi infra struktur semakin lama  semakin tidak berkembang, sedangkan pemeliharaannya juga tidak terjaga.<\/p>\n<p><strong>Manfaat dan dampaknya infra strutkur<\/strong><\/p>\n<p>Infra struktur yang baik mempertebal rasa persatuan dan  kesatuan dalam NKRI, karena mobilitas yang besar di antara seluruh rakyat  Indonesia, yang wilayah negaranya demikian luasnya dengan ribuan pulau.<\/p>\n<p>Dalam bidang ekonomi, karena buruknya infra struktur  sampai hari ini boleh dikatakan bahwa struktur ekonomi Indonesia masih bersifat  dualistik seperti yang dikenali oleh Prof. Boeke di tahun 1930 dalam bukunya  yang berjudul &ldquo;Dualistische Economie&rdquo;. Hal yang sama dikenali oleh Prof. Sumitro  Djojohadikusumo dalam bukunya &ldquo;Ekonomi Pembangunan&rdquo;. Yang diartikan oleh Prof.  Boeke dengan istilah ini yalah bahwa perekonomian Indonesia terbagi ke dalam  dua kelompok, yaitu ekonomi perkotaan dan ekonomi perdesaan. Ekonomi perkotaan  sangat berkembang, sedangkan ekonomi perdesaan masih sangat tertinggal.<\/p>\n<p>Dengan adanya infra struktur yang memadai akan terjadi  mobilitas sebagaimana mestinya, sehingga akan berlangsung baik trickle down  effect maupun pull effect. Sebagai satu contoh konkret, sampai saat ini masih  terjadi kelebihan produksi produk pertanian di beberapa perdesaan yang membusuk  karena tidak dapat diangkut ke kota-kota dengan biaya transportasi yang  terjangkau.<\/p>\n<p>Dalam kaitannya yang lebih besar yalah tersebarnya  industrialisasi di semua wilayah RI yang sesuai dengan kondisi setiap wilayah,  baik ditinjau dari sudut kebiasaan, ketrampilan, kesuburan tanah dsb. Sekarang  semuanya terpusat di kota-kota besar, terutama di Jakarta.<\/p>\n<p>Transmigrasi tidak berjalan karena kurangnya persiapan  dalam bentuk infra struktur yang memadai dari lahan yang akan dijadikan sasaran  pemukiman baru. Transmigrasi tidak sekedar memindahkan orang ke lahan lain  seperti halnya pulau Nusa Kambangan yang dipakai untuk membuang para tahanan  politik. Memang akhirnya berkembang menjadi bagus, namun secara sangat tidak  manusiawi.<\/p>\n<p>Fungsi perdagangan tidak berjalan. Sebagaimana kita  ketahui, fungsi-fungsi pokok perdagangan yalah menjembatani daerah prouksi  dengan daerah konsumsi. Fungsi ini hanya dapat dipenuhi dengan transportasi  yang memadai, baik melalui darat, laut maupun udara. Darat membutuhkan  pembangunan jalanan, jembatan, kereta api. Udara membutuhkan bandara dan laut  membutuhkan pelabuhan-pelabuhan di samping kapal-kapal.<\/p>\n<p>Fungsi perdagangan pokok lainnya yalah menjembatani  antara musim produksi barang-barang pertanian dan musim konsumsi sepanjang  masa. Industri pengawetan dibutuhkan, namun jelas tidak ada investor yang  berminat membuat industri pengalengan misalnya, kalau harus membangun pabrik di  hutan belantara.<\/p>\n<p><strong>Kendala<\/strong><\/p>\n<p>Kendala utamanya adalah keuangan, karena keuangan negara  atau APBN dibebani dengan biaya rutin yang demikian besarnya. Kecuali itu,  beban bunga dan cicilan pokok hutang negara, baik dalam negeri maupun luar  negeri sangat besar.<\/p>\n<p>Kendala kedua yalah semacam ideologi yang mengatakan  bahwa infra struktur sebaiknya dibangun oleh swasta atau bersama-sama dngan  swasta dalam bentuk apa yang dinamakan Public Private Partnership (PPP). Swasta  tidak akan menanamkan modalnya tanpa perolehan laba atau Return On Investment  (ROI) yang dianggapnya menarik. Dengan demikian pengguna infra struktur harus  dikenai tarif, yang besarnya mencukupi untuk memberikan ROI tersebut.<\/p>\n<p>Kendala ketiga adalah otonomi daerah dengan kewenangan  pimpinan daerah yang mempunyai keinginan dan prioritasnya sendiri-sendiri, yang  seringkali tidak sesuai dengan sinergi sebagai hasil pembangunan infra struktur  yang saling terkait. Wewenang pimpinan daerah terlampau besar dengan landasan  hukum yang kuat karena mereka dipilih langsung oleh rakyat. Dengan demikian,  legitimasinya sama dengan Presiden yang berarti lebih besar dari Menteri.<\/p>\n<p>Kendala keempat adalah demokrasi yang terlampau liberal  dan kebablasan, sehingga sangat sulit membebaskan lahan yang mutlak dibutuhkan  untuk membangun infra struktur tertentu.<\/p>\n<p><strong>Pra Kondisi<\/strong><\/p>\n<p>Bidang-bidang yang dibahas dalam bab-bal lain tentang  hal-hal yang sangat terkait diwujudkan dengan konsisten, yaitu : <\/p>\n<ul>\n<li>Adanya kekuasaan politik di satu tangan dalam bidang  infra struktur,<\/li>\n<li>Masalah pendanaan dapat dipenuhi, <\/li>\n<li>Adanya keyakinan bahwa infra struktur harus dibiayai oleh  APBN <\/li>\n<li>Penggunaannya gratis sebagai wujud gotong royong.<strong><\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Apa yang harus dilakukan ? <\/strong><\/p>\n<p>Pemerintah  menentukan Infra Struktur yang merupakan barang publik dengan dampak strategis pada pembangunan semua sektor perekonomian. Seperti  telah dikatakan, Bappenas sudah mempunyai <em>blue  print<\/em> yang komprehensif. <\/p>\n<p>Penggunaannya harus gratis tanpa dipungut bayaran, dan  dibiayai secara gotong royong melalui perolehan pajak. Esensi kehidupan berbangsa dan bernegara adalah sebagai satu bangsa  bersama-sama secara gotong royong membangun barang dan jasa yang sangat berguna  untuk kepentingan bersama, tetapi biayanya sangat besar, sehingga hanya mungkin  dibangun secara gotong royong melalui perolehan pajak yang pentarifannya sudah  disusun seadil mungkin.<\/p>\n<p>Hal  yang kedengarannya sangat normal ini di Indonesia perlu ditekankan dengan  jelas, karena para ekonom mashab &ldquo;Berkeley Mafia&rdquo; mempunyai kecenderungan yang  menjadi keyakinan, dan yang dihayatinya bagaikan agama, bahwa pemerintah harus  sekecil mungkin dan seminimal mungkin ikut campur dalam produksi dan distribusi  barang dan jasa apapun juga.<br \/>\n  Itulah  sebabnya begitu banyak BUMN strategis dijual kepada swasta, terutama swasta  asing dengan harga sangat murah. Telekomunikasi, jasa pelabuhan laut, air  bersih, listrik dan masih banyak lagi barang dan jasa publik sudah  dinyatakan sebagai terbuka dan boleh menjadi obyek investor swasta dengan motif  mencari laba. Maka rakyat harus membayar dengan tarif yang tingginya mencukupi  untuk memberikan laba kepada investornya.<\/p>\n<p>Infra  Struktur jelas bukan komoditi komersial, dan oleh karena itu harus dibiayai oleh APBN. Infra struktur  yang pembangunannya diserahkan pada inisiatif swasta, bahkan yang disebut  Public Private Partnership (PPP) tidak akan pernah terwujud. Swasta hanya mau  menanamkan modalnya kalau peolehan laba atau ROI yang diinginkannya terpenuhi.  Ini berarti bahwa penggunaan infra struktur harus dikenakan tarif yang  tingginya harus bisa memberi keuntungan secukupnya kepada investor swasta. Pada  umumnya, pentarifan seperti ini akan melampaui daya beli rakyat, dan mau tidak  mau akan mengakibatkan ekonomi biaya tinggi.<\/p>\n<p>  Pemerintah perlu merencanakan pengeluaran uangnya yang  harus dibuat efektif sebagai stimulus kegairahan ekonomi, dengan menghitung <em>multiplier effect<\/em>-nya. Dalam hubungan  ini, tanpa mengorbankan efisiensi, di mana mungkin, bagian-bagian yang dapat  dikerjakan oleh tenaga manusia dimanfaatkan untuk mengurangi pengangguran. Para penganggur yang dapat diserap dalam pengeluaran (<em>spending<\/em>) pembangunan akan segera  membelanjakan pendapatannya, karena mereka miskin, sehingga <em>propensity to consume<\/em>-nya tinggi. Pembelanjaan oleh mereka berarti pemompaan daya beli ke masyarakat  yang mempunyai dampak positif untuk menggairahkan ekonomi, yang pada gilirannya  menambah kesempatan kerja. <\/p>\n<p>Karena  itu, strategi pembelanjaan anggaran pembangunan tidak semata-mata didasarkan  atas proyek-proyeknya <em>an sich<\/em>, tetapi  juga memperhitungkan dampaknya pada pemompaan daya beli beserta dampak  selanjutnya yang kita kenal dengan istilah <em>multiplier  effect<\/em>.<\/p>\n<p><strong>Beberapa contoh infra struktur yang menguasai hajat hidup orang banyak<\/strong><\/p>\n<p>Irigasi,  jembatan, air bersih, listrik, bandara, pelabuhan laut dan masih banyak lagi harus  ditetapkan oleh pemerintah sebagai barang publik yang harus dimiliki, dibiayai  dan dikelola oleh pemerintah untuk dipakai dengan gratis buat rakyatnya.<\/p>\n<p>Maka  semua kebijakan dan semua peraturan yang dikemukakan dalam Infra Struktur  Summit I di bawah pimpinan Menko Aburizal Bakrie dan Infra Struktur Summit II  di bawah pimpinan Menko Boediono harus dicabut kembali.<\/p>\n<p>Harus  diumumkan kepada dunia bahwa Indonesia  sekarang dalam kebijakan infra struktur sudah menjadi negara normal seperti  yang ada di negara-negara lain di manapun di dunia.<\/p>\n<p><strong>Jalan Raya Bebas Hambatan sebagai contoh<\/strong><\/p>\n<p>Contoh kesalahan persepsi yang mencolok adalah Jalan raya bebas hambatan (<em>high  way, free way, autobahn, snelweg<\/em>) jelas termasuk infra struktur yang  seyogianya dibangun oleh pemerintah dengan pembiayaan APBN dan penggunaannya  gratis (tanpa dipungut bayaran).<\/p>\n<p>Jalan  tol yang sudah ada dibeli oleh pemerintah. Pemerintah tetap mengenakan tol  sampai hasil perolehan dari pembayaran tol sama dengan uang yang dikeluarkan  untuk membeli jalan tol yang bersangkutan. Setelah itu, jalan tol digratiskan  buat pemakainya.<\/p>\n<p>Alasannya,  jalan raya bebas hambatan sangat strategis untuk pembangunan ekonomi pada  umumnya.<\/p>\n<p>Karena  sudah terlanjur keblingernya Tim Ekonomi dalam semua pemerintahan Indonesia  sepanjang masa, semua jalan raya bebas hambatan dianggap sebagai barang  dagangan yang harus mengembalikan investasinya, dan setelah itu memberikan laba  yang sebesar-besarnya. Maka di Indonesia tidak dikenal istilah-istilah seperti  yang lazim dipakai oleh semua negara di dunia seperti <em>high way, free way, auto bahn, snelweg<\/em>. Bangsa Indonesia sudah tercuci otaknya  bahwa penggunaan jalan raya bebas hambatan yang mulus dan nyaman harus membayar  dengan tarif yang cukup tinggi, sehingga sampai kapanpun pembayaran oleh para  pemakai jalan itu senantiasa memberikan laba kepada pengusaha yang membangun  jalan-jalan raya tersebut.<\/p>\n<p>Apakah  di negara lain tidak ada jalan tol ? Ada,  tetapi seluruhnya hanya 3 %. Kita bisa merasakan sendiri bahwa di   Eropa, AS, Australia, Malaysia,  China  dan praktis di semua negara, memakai jalan raya bebas hambatan tidak bayar.  Untuk ruas-ruas tertentu memang membayar tol, tetapi jumlahnya sedikit sekali.  Mengapa begitu ? Karena jalan tol dianggap sebagai kemewahan, yang tanpa itu  juga bisa menikmati jalan raya bebas hambatan yang mulus dan nyaman. Bahwa  disediakan ruas-ruas tertentu, karena ingin memberikan pilihan kepada orang  kaya supaya mereka bisa memperoleh kenikmatan lebih asalkan maumembayar.  Jalan tol adalah kemewahan. Tanpa jalan tol, di negara-negara yang normal  seluruh rakyat dapat menikmati mobilitas yang nyaman dengan cuma-cuma.<\/p>\n<p><strong>Pendanaan infra struktur<\/strong><\/p>\n<p>Kendala pendanaan infra struktur memang sangat besar  karena kurangnya dana pembangunan. Seperti telah dikatakan, bagian terbesar  dari APBN terpakai habis untuk biaya-biaya rutin. Masalah keuangan pada umumnya  merupakan masalah besar tersendiri yang harus diatasi. <\/p>\n<p>Khusus tentang pendanaan infra struktur, dapat tertolong  dengan menyusun prioritas. Dana yang terbatas difokuskan pada satu dua proyek  saja yang menempati prioritas paling mendesak pertama, kemudian prioritas kedua  dan sebagainya. Konsekwensinya yalah bahwa beberapa infra struktur yang urutan  prioritasnya lebih rendah harus menunggu. Pengalokasian dana pembangunan yang  terfokus pada urutan prioritas jauh lebih efektif dibandingkan dengan yang  tersebar dengan ciri tercecer dan tambal sulam.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Kwik Kian Gie &nbsp; Permasalahan Pembangunan dalam bidang infra struktur selalu dikenali dan dipahami sebagai sangat esensial dalam pembangunan ekonomi sebuah bangsa. Tidak pernah ada pemerintah, pengamat dan media massa yang tidak menekankan pentingnya infra struktur.<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[25,3],"tags":[],"class_list":["post-789","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-platform-presiden-2014","category-politik"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/789","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=789"}],"version-history":[{"count":2,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/789\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":791,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/789\/revisions\/791"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=789"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=789"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=789"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}