{"id":76,"date":"2011-03-08T03:56:52","date_gmt":"2011-03-08T03:56:52","guid":{"rendered":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/?p=76"},"modified":"2011-03-08T06:26:00","modified_gmt":"2011-03-08T06:26:00","slug":"stabilitas-sosial-politik-artikel-4","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/2011\/03\/stabilitas-sosial-politik-artikel-4\/","title":{"rendered":"Stabilitas Sosial Politik (Artikel 4)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Sejak awal Pak Harto mencanangkan landasan dan tonggak-tonggak  kebijakannya yang sangat tegas, padat dan memang merupakan pondasi yang  kokoh, yaitu Trilogi Pembangunan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu pondasi, dan menurut saya yang terpenting adalah  Stabilitas Sosial Politik. Tanpa ketenangan dan kepastian tidak mungkin  kita merencanakan dan melakukan apapun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun stabilitas  sosial politik saja adalah bangunan kokoh yang  belum ada isinya. Karena itu, rumah yang kokoh ini bisa diisi dengan  hal-hal yang busuk. Saya khawatir bahwa sejarah akan mencatat era Orde  Baru sebagai kehidupan negara bangsa kita yang berlangsung dalam rumah  yang kokoh, tetapi kehidupan bernegara dan berbangsa berlangsung dengan  menanamkan benih-benih yang sekarang secara sepenuhnya menjadi  malapetaka yang membuat kehidupan kita bagaikan tanpa arah, tanpa moral,  <em>chaos<\/em> dan anarki.<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bidang ekonomi telah saya kemukakan dalam tiga buah artikel sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam bidang stabilitas, ciri pokoknya ialah pemerintahan tangan  besi yang diktatorial, menanamkan rasa takut dan bersifat represif.  Penanganan yang demikian untuk kondisi yang kalut setelah peristiwa dan  kerusuhan G-30-S memang sangat dibutuhkan, dan memang terbukti sangat  kondusif dan berhasil pada tahap-tahap awalnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Buat mereka yang tidak peduli terhadap kehidupan berbangsa dan  bernegara secara keseluruhan, melainkan hanya ingin hidup tenteram,  serba kecukupan dan sejahtera, serta tidak mempunyai kebutuhan  memperoleh kebebasan menyatakan pendapat dan ikut serta dalam  kegiatan-kegiatan penyelenggaraan negara, stabilitas yang demikian  dirasa nyaman. Lebih nyaman lagi buat mereka yang sedang memegang  kekuasaan. Kenyamanan inilah yang menjadi batu ujian, apakah stabilitas  dipakai untuk kepentingan dirinya sendiri (<em>power tends to corrupt<\/em>)  ataukah kekuasaan dihayati sebagai amanah yang harus digunakan untuk  sebesar-besar kemakmuran rakyatnya secara adil dan beradab.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kalau yang terakhir ini yang menjadi tujuan dari kekuasaan, kita  seharusnya segera menyadari bahwa kebebasan yang bertanggung jawab  adalah kebutuhan hakiki manusia. Maka pemerintahan tangan besi yang  diktatorial dan represif tidak dapat bertahan selama-lamanya. Karena  itu, pemerintahan tangan besi dibutuhkan untuk mengembalikan kekalutan  pada ketertiban, dan sangat diperlukan guna melakukan pembangunan selama  rakyatnya masih belum dapat menggunakan kebebasan secara bertanggung  jawab. Sehingga sambil membangun secara perlahan dan terencana rakyat  harus dididik, dimatangkan jiwanya dengan maksud memberikan pemahaman  bahwa kebebasan tanpa rasa tanggung jawab hanya akan mengakibatkan  kekalutan dan anarki.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang berlangsung selama Orde Baru ialah kurang atau hampir tiadanya  kebijakan pendidikan politik kepada rakyat kita yang tujuannya adalah  mendemokrasikan kehidupan berbangsa dan bernegara kita secara  bertanggung jawab dan beradab.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah 32 tahun memang ternyata rakyat tidak dapat menahan lebih  lama lagi pemerintahan tangan besi yang opresif, sehingga pecahlah  gejolak yang mengakibatkan lengsernya Pak Harto.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dr. BJ Habibie sebagai penerusnya Pak Harto melakukan politik  bandul. Dari pemerintahan tangan besi yang otoriter, Presiden Habibie  memberlakukan kebijakan politik yang sangat ekstrem bebasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Timor Timur dilepas dalam waktu sangat singkat tanpa memperhitungkan  sama sekali reaksi yang dapat ditimbulkan pada para prajurit kita yang  mempertaruhkan jiwanya selama 21 tahun, yang menyaksikan rekan-rekannya  tewas dicincang dengan cara-cara yang sangat kejam dan biadab dalam  pertempurannya melawan Fretillin. Kita tidak membutuhkan pengetahuan  psikologi untuk memahami bahwa setelah 21 tahun lamanya disuruh  mati-matian, memberikan jiwa raganya mempertahankan Timor Timur, dan  lantas mendadak disuruh meninggalkannya supaya menjadi negara merdeka  yang lepas dari NKRI, setiap manusia akan sangat gusar yang  pelampasiannya bisa mengambil bentuk yang sangat dahsyat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inilah yang terjadi dengan Timor Timur, yang sambil menarik diri,  sambil melakukan bumi hangus. Tidak ada satupun bangunan yang utuh di  Dilli seperti yang dikeluhkan oleh Xanana Gusmao kepada Gus Dur di  Istana Merdeka yang saya hadiri. Ketika itu saya berkesempatan  menjelaskan kepada Xanana bahwa pembumi-hangusan Timtim sebagai akibat  kebijakan yang ekstrem seperti yang dilakukan oleh Habibie atas tekanan  PBB sudah diramalkan oleh Ibu Megawati (ketika itu hanya Ketua Umum  PDIP, belum Wapres atau Presiden).  Ceriteranya adalah sebagai berikut,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wakil Sekjen PBB yang khusus ditugasi untuk referendum di Timtim,  Jamseed Marker selalu mengajak diskusi dengan Ibu Mega yang minta  didampingi oleh Laksamana Sukardi dan saya. Demikian juga dengan Menlu  Australia Alexander Downer. Ketika ditanya pendapatnya tentang  referendum di Timtim beserta jadwal waktunya, Megawati selalu  mengingatkan tentang reaksi yang bisa timbul dari para prajurit yang 21  tahun lamanya disuruh mempertahankan Timtim sebagai bagian dari NKRI  dengan seluruh jiwa raganya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ternyata Megawati benar. Pembumi-hangusan Timtim berlangsung  spontan, bukan atas perintah Jenderal Wiranto yang ketika itu menjabat  sebagai PANGAB. Beliau sendiri terkejut, <em>taken by surprise<\/em> oleh pembumi-hangusan Timtim oleh para prajurit kita. Justru Megawati yang bisa merasakan sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya kemukakan ini untuk membagi pendapat saya dengan para pembaca  tentang kekurangan yang mendasar dari politik stabilisasi era Orde Baru.  Kekurangan itu adalah rencana mendemokrasikan secara bertahap.  Kekurangan itu adalah jiwa besar yang secara sangat sadar melepaskan  kekuasaannya yang absolut secara setahap demi setahap ke arah demokrasi  sambil memberikan pendidikan, bahwa kebebasan harus disertai tanggung  jawab.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak ada orang yang mengatakan bahwa kehidupan berbangsa dan  bernegara kita dewasa ini, setelah kita memasuki era dan suasana yang  dinamakan \u201creformasi\u201d adalah baik dan nyaman, serta berjalan sebagaimana  mestinya seperti yang kita inginkan bersama. Semua pemimpin dipilih  secra langsung melalui Pilkada di mana-mana. Setiap 3 hari ada satu  Pilkada yang keseluruhannya sampai sekarang telah menelan biaya Rp. 200  trilyun. Kebanyakan Pilkada mengakibatkan perkelahian oleh pihak-pihak  yang tidak dapat menerima pemenangnya. Kehidupan bernegara kita menjadi <em>chaos<\/em> dan anarkis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa? Kita ibaratkan rakyat Indonesia adalah puluhan juta per  (pegas) yang sangat kuat. Per-per ini ditindas oleh lempengan-lempengan  besi yang masing-masing setebal 10 cm. Memberi kelonggaran kepada  per-per yang tertindas supaya bisa mekar secara teratur dan terkendali  ialah dengan cara mengambil satu lempengan. Dengan demikian, per-per itu  bergerak naik, memperoleh ruang setebal 10 cm. Kita saksikan dan  rasakan apakah kebebasan yang 10 cm ini sudah bisa dinikmati dengan  tanggung jawab yang sepadan. Setelah itu kita ambil satu lempeng lagi,  sehingga kebebasannya menjadi 20 cm. Maka ketika kebebasan sudah  dianggap memadai, per-per tersebut tetap di tempat masing-masing, tetapi  dalam suasana yang bebas dan demokratis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang dilakukan oleh pimpinan bangsa, baik legislatif maupun  eksekutifnya ketika memasuki era reformasi ialah dengan sekaligus  mengambil seluruh lempengan besi yang menekan dan menindas berpuluh juta  per itu, sehingga serta merta puluhan juta per yang tidak lain adalah  rakyat Indonesia (atau sebagian dari rakyat yang vokal dan aktif) itu  berlompatan ke semua penjuru tanpa arah, tanpa kendali dan tanpa tujuan.  Akibatnya yang terjadi adalah <em>chaos<\/em> dan anarki. Itulah yang sedang kita alami sekarang, dan yang setiap harinya semakin parah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ironisnya, dalam situasi dan kondisi kehidupan berbangsa dan  bernegara kita seperti ini, orang mulai mendambakan adanya pemerintahan  yang kuat. Dalam berbagai percakapan dan diskusi, yang diartikan dengan  pemerintahan yang kuat adalah pemerintahan tangan besi yang otoriter,  karena kondisi seperti ini hanya dapat ditertibkan melalui tangan besi  terlebih dahulu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tetapi elit kita tidak bodoh. Maka sambil mengatakan bahwa kita  butuh pemimpin dan sistem pemerintahan yang tangan besi untuk  mengembalikan suasana <em>chaos<\/em> dan anarki ini pada katertiban,  sekaligus juga mengatakan bahwa sang diktator yang akan menyelamatkan  bangsa ini, dan yang harus mulai dengan tangan besi, haruslah orang yang  bisa memahami dan menghayati sejarah dengan maksud belajar dari  sejarah. Apa itu?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadilah Soeharto, tapi yang sejak awal sudah merencanakan  mendemokrasikan kembali secara bertahap, sambil mendidik rakyatnya  supaya bisa berdemokrasi secara bertanggung jawab. Dan (ini yang paling  penting) yang mengerti bahwa demokrasi tidak universal. Demokrasi sangat  terikat dengan latar balakang budaya dan nilai dari setiap bangsa.  Bangsa Indonesia tidak akan mungkin dapat mengadopsi demokrasi ala  Amerika yang diterapkan oleh National Democratic Institute dan The Ohio  Mafia di bawah piminan Prof. Bill Liddle.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Demokrasi Indonesia adalah demokrasi dengan kelembagaan dan sistem yang telah dengan matang direncanakan oleh para <em>founding fathers<\/em> kita yang para intelektual betulan, bukan pseduo intelektual. Mereka  belajar sangat serius berdekade-dekade sebelum Indonesia merdeka. Mereka  (terutama Prof. Supomo) sudah sangat lama sebelumnya merenung,  mengkombinasikan semua falsafah demokrasi Barat dengan kebudayaan dan  nilai-nilai Indonesia yang tertuang dalam UUD 1945.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka setelah kesasar sebentar menjadi Negara Federal dan kesasar  memberlakukan konstitusi lain, Bung Karno mendekritkan kembali ke UUD  1945 yang asli. Pak Harto memahami hal tersebut dan tetap  mempertahankannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sayang seribu sayang bahwa dengan munculnya para <em>pseudo filosoof<\/em> dan <em>pseudo intelektual<\/em> yang sangat dangkal, UUD 1945 diobrak-abrik, seperti halnya per-per yang berlompatan ke semua penjuru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apa sistem UUD 1945 itu? Esensinya Presiden tidak dipilih secara langsung, tetapi melalui <em>getrapte democratie<\/em>,  yaitu yang memilih MPR. Sebagian dari anggota MPR diplilih secara  langsung untuk belajar demokrasi. Tetapi sebagian diseleksi (bukan  dipilih) dari kaum profesional yang disebut kelompok-kelompok fungsional  (<em>functionele groepen<\/em>). Sekali lagi, diseleksi secara cermat yang  berkualitas, bermoral tinggi dan bijaksana. Sebagian lain adalah  wakil-wakil daerah yang mengerti betul kondisi setiap daerah dari  Indonesia yang demikian luasnya, dan yang dihormati serta mempunyai  wibawa di daerahnya masing-masing.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian perwakilan kita yang akan memilih Presiden terdiri  dari kombinasi antara keinginan rakyat (yang melalui pemilu), dan yang  diseleksi sebagai <em>de wijze mannen van het volk<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lantas sistem musyawarah mufakat yang harus diperjuangkan mati-matian. Hanya kalau benar-benar <em>deadlock<\/em> dengan akibat tanpa keputusan yang bisa mengakibatkan kekosongan yang lantas menjurus pada <em>chaos<\/em>,  maka pemungutan suara baru diberlakukan. Ini telah mentradisi yang  dengan terharu saya alami sendiri di tahun 1987 ketika berfungsi sebagai  anggota Badan Pekerja MPR. Terharu, betapa Golkar yang bisa memungut  suara dan langsung bisa menggilas aspirasinya PDI dan PPP toh tidak mau  melakukannya. Golkar menanggapi setiap pendapat dan argumentasinya PDI  dan PPP dengan bersungguh-sungguh, berargumentasi dan meyakinkan PDI dan  PPP supaya keputusan diambil secara bulat. Mengapa?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bung Karno mengatakan, apakah 51% yang memenangkan yang 49% dengan  perbedaan 2% saja itu sudah kehendak rakyat? Sudahkan itu dianggap  sebagai <em>Vox Populi Vox Dei<\/em>?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya sendiri menyaksikan parlemen Inggris yang sedang menduduki  mayoritas langsung keluar sidang ngobrol ketika partai minoritas  mengajukan usulan beserta argumentasinya. Sama sekali tidak didengarkan.  Hanya ketika pemungutan suara, partai mayoritas masuk ruang,  menggunakan hak suaranya yang mayoritas untuk menggilas minoritas tanpa  mengetahui apa yang dikehendaki minoritas. Sangat mungkin untuk kebaikan  seluruh bangsa, termasuk mayoritas itu juga yang adalah anak bangsa.  Toh <em>a priori<\/em> tidak didengar dengan maksud digilas pada waktu pemungutan suara. Inikah demokrasi?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para <em>founding fathers<\/em> kita telah mengenali ekses seperti ini  jauh sebelum Indonesia merdeka. Parlemen Inggris sudah tidak seperti itu  lagi perilakunya sekarang. Namun kesadaran mereka bahwa yang demikian  itu bukan demokrasi setelah para <em>founding fathers<\/em> kita  mengenalinya, dan memasukkan ke dalam UUD 1945 cara pengambilan  keputusan yang melalui \u201csistem musyawarah untuk mencapai mufakat yang  dibimbing oleh hikmah kebijaksanaan\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Demikianlah refleksi saya tentang kebijakan politik di era Orde  Baru. Mohon dibantah, supaya kita saling asah, asih dan asuh menjadi  bangsa yang pandai dan bijaksana.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejak awal Pak Harto mencanangkan landasan dan tonggak-tonggak kebijakannya yang sangat tegas, padat dan memang merupakan pondasi yang kokoh, yaitu Trilogi Pembangunan. Salah satu pondasi, dan menurut saya yang terpenting adalah Stabilitas Sosial Politik. Tanpa ketenangan dan kepastian tidak mungkin kita merencanakan dan melakukan apapun. Namun stabilitas sosial politik saja adalah bangunan kokoh yang belum [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4,6],"tags":[],"class_list":["post-76","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ekonomi","category-orde-baru"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=76"}],"version-history":[{"count":3,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":126,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76\/revisions\/126"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=76"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=76"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=76"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}