{"id":540,"date":"2013-02-26T10:15:01","date_gmt":"2013-02-26T03:15:01","guid":{"rendered":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/?p=540"},"modified":"2013-03-18T08:41:56","modified_gmt":"2013-03-18T01:41:56","slug":"kapiatlisme-mekanisme-pasar-dan-peran-pemerintah-dalam-perekonomian-dan-bisnis","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/2013\/02\/kapiatlisme-mekanisme-pasar-dan-peran-pemerintah-dalam-perekonomian-dan-bisnis\/","title":{"rendered":"KAPITALISME, MEKANISME PASAR DAN PERAN PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN DAN BISNIS"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><em><strong>Oleh: Kwik Kian Gie<\/strong><\/em><\/p>\n<p>Pidato saya hari ini berjudul \u201cKapitalisme, Mekanisme Pasar dan Besar Kecilnya Peran Pemerintah dalam Perekonomian dan Bisnis.\u201d<\/p>\n<p>Pertama-tama ingin saya jelaskan bahwa kata \u201ckapitalisme\u201d dapat mempunyai arti yang netral, yaitu dibolehkannya orang per orang memiliki modal, dan dibolehkannya pemilik yang orang per orang itu menggunakan modalnya guna berbisns dengan motif mencari laba. Yang diartikan berbisnis yalah ikut serta dalam produksi dan distribusi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam kehidupannya sehari-hari.<!--more--><\/p>\n<p>Namun kata \u201ckapitalisme\u201d juga sangat banyak digunakan orang dengan kandungan ideologi, yaitu bahwa kapital atau modal yang dimiliki oleh orang per orang selalu akan memperbesar dirinya dengan pemiliknya yang keserakahannya tidak mengenal batas. Dengan kapital yang dimilikinya dan keserakahannya yang tidak mengenal batas dan tidak mengenal etika, kapital dipakai sebagai kekuatan yang dahsyat untuk melakukan pemerasan terhadap manusia lainnya. Kapital juga dipakai sebagai kekuatan untuk melakukan pemerasan dan penghisapan kekayaan bangsa mangsa oleh bangsa yang memiliki kapital yang lebih besar. Maka kita saksikan Vereenigde Oost Indische Compagnie atau VOC mengerahkan kapitalnya guna melakukan <em>exploitation d\u2019lhomme par l\u2019homme<\/em> terhadap manusia Indonesia, dan melakukan penghisapan terhadap kekayaan bangsa Indonesia. VOC bahkan tidak sekedar berdagang, tetapi mempunyai armada militer sendiri dalam memaksakan kehendaknya.<\/p>\n<p>Bung Karno menggunakan kata kapitalisme yang tidak terhitung jumlahnya dalam mengutuk imperialisme dan kolonialisme selama perjuangannya memerdekakan bangsa Indonesia.<\/p>\n<p>Namun Bung Karno juga memahami kata kapitalisme dalam arti yang netral. Itulah sebabnya kita saksikan Bung Karno yang sangat bersahabat dengan para kapitalis pribumi yang memberikan dukungan finansial kepadanya dalam perjuangannya. Mereka antara lain adalah Dasaad, Hasyim Ning, Jasin Tambunan dan masih banyak lagi.<\/p>\n<p>Dengan kata kapitalisme dalam arti yang netral inilah mari kita telaah pikiran-pikiran Adam Smith yang demikian besar pengaruhnya sampai saat ini, walaupun dia menulis bukunya di tahun 1776, yaitu yang berjudul \u201cAn Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations\u201d dan lebih terkenal dengan singkatannya \u201cThe Wealth of Nations\u201d.<\/p>\n<p>Adam Smith menjelaskan bahwa dia mengenali adanya mekanisme bagaikan hukum alam, yang atas dasar egoisme dan individualisme manusia, tanpa pemerintah ikut campur tangan, akan terjadi ketertiban, keseimbangan, keadilan dan alokasi faktor-faktor produksi yang optimal.<\/p>\n<p>Dia mengatakan bahwa manusia selalu mengejar manfaat dan keuntungan yang sebesar-besarnya dari semua pikiran dan tenaga beserta semua kapital yang dimilikinya. Kalau pemerintah tidak ikut campur tangan dalam perilakunya yang demikian, akan ada tangan-tangan tidak terlihat atau <em>invisible hands<\/em> yang mengaturnya sehingga dengan sendirinya terjadi ketertiban, kemakmuran, keadilan dan keseimbangan.<\/p>\n<p>Adam Smith mengatakan bahwa yang akan dijelaskan bukan buah pikiran teoretisnya, tetapi dia hanya mengenali adanya gejala yang demikian. Berikut adalah penjelasannya.<\/p>\n<p>Bayangkan ada seorang yang menemukan bahwa buah gandum dapat diolah menjadi tepung terigu yang ternyata merupakan makanan utama bagi manusia. Dia adalah satu-satunya orang yang memproduksi. Bayangkan betapa besar laba yang diraihnya dan berakumulasi menjadi kekayaan atau kapital yang besar. Namun karena pemerintah tidak melindunginya dengan cara paten atau dalam bentuk apapun juga, setiap orang lain boleh menirunya. Dalam waktu singkat, yang bersangkutan akan mendapat banyak pesaing, penawaran membengkak terus sampai melebihi permintaan akan tepung terigu. Penawaran yang melebihi permintaan akan mengakibatkan harganya turun, sehingga labanya lambat laun akan berubah menjadi kerugian. Ketika itu, karena tidak mau merugi sampai bangkkrut, para produsen meninggalkan produksi tepung, sehingga penawarannya menurun. Penawaran menurun terus sampai harganya naik lagi dan memberikan keuntungan yang normal lagi.<\/p>\n<p>Namun karena segala sesuatunya tidak direncanakan sama sekali, dan pemerintah tidak boleh mengatur, bisa saja terjadi kebablasan lagi dengan penawaran yang melebihi permintaan, sehingga para produsen mulai menderita kerugian lagi. Proses akan berulang, mereka ramai-ramai meinggalkan cabang produksi tepung, penawaran menurun, harga meningkat lagi sampai memberi laba yang normal.<\/p>\n<p>Kita saksikan, harga beserta laba ruginya naik turun sampai senantiasa mencapai keseimbangan dengan harga yang wajar, yang memberikan tingkat laba yang normal.<\/p>\n<p>Hal yang sama terjadi pada cabang-cabang produksi lainnya. Setiap kali terjadi penemuan baru, setiap kali muncul produsen pionir yang mempunyai kedudukan monopoli, sehingga meraih laba yang super normal.<\/p>\n<p>Adam Smith menulis bukunya di tahun 1776, ketika barang-barang yang ada berbentuk barang-barang yang dinamakan <em>staple products<\/em> yang homogeen seperti tepung, gula, garam dsb.<\/p>\n<p>Yang tidak diantisipasi oleh Adam Smith yalah bahwa lambat laun daya inovasi dan daya kreasi manusia berkembang. Produk yang tadinya homogeen, sehingga dengan banyaknya produsen terdapat pasar dengan <em>perfect compettion<\/em> dibuat berbeda. Garam dikemas dalam botol kecil yang siap pakai di atas meja, diberi merk dan ditambah dengan beberapa mineral dan vitamin. Garam yang demikian dipromosikan sebagai garam yang istimewa, dan karena itu harganya dipasang lebih mahal dari garam sebagai <em>staple product<\/em>. Garam hasil produksinya sudah dibedakan dengan garam biasa. Garamnya sudah didiferensiasi, sehingga secara relatif dia memperoleh kedudukan monopoli untuk garamnya yang bermerk dan terkemas rapi dan nyaman. Dalam kedudukannya ini, walaupun akan ada yang menirunya dengan kemasan lain, merk lain dan susunan <em>supplement<\/em> yang lain, tetapi kedudukannya yang monopolistik bertahan. Kita akan dihadapkan pada pasar yang tidak lagi berbentuk <em>perfect competition<\/em> atau persaingan sempurna, tetapi pasar dengan <em>monopolistic competition<\/em>.<\/p>\n<p>Dalam pasar yang berbentuk <em>monopolistic competition<\/em>, produsen bisa memperoleh laba <em>super normal<\/em> untuk jangka waktu yang lama, sehingga laba berakumulasi menjadi kapital yang besar. Dengan kekuatan kapital yang besar pengusaha yang bersangkutan mempunyai kemampuan melakukan praktek bisnis yang tidak sehat atau bahkan kotor untuk membunuh para pesaingnya. Sebgai contoh, pengusaha yang bersangkutan memasang harga yang lebih rendah dari harga pokoknya untuk memaksa para pesaingnya juga merugi sampai bangkrut, yang kemudian perusahaannya dibeli untuk dimusnahkan atau digabung dengan perusahaannya yang memproduksi barang sejenis. Masih banyak lagi cara-cara lain seperti pembentukan kartel, memalsukan barang pesaingnya dengan kwalitas rendah agar dijauhi oleh konsumen. Kesemuanya diizinkan karena seperti dikatakan tadi, pemerintah tidak boleh melakukan pengaturan, atau tidak boleh mengganggu <em>the invisible hands<\/em> yang mengatur segala-galanya.<\/p>\n<p>Kenyataan yang dihadapi oleh rakyat Inggris selama kurun waktu sangat panjang dalam revolusi industri memberikan gambaran yang tidak seindah yang dilukiskan oleh Smith. Perusahaan-perusahaan besar, terutama tambang-tambang mempekerjakan manusia bagaikan binatang. Pabrik-paberik besar juga mempekerjakan buruh wanita dan anak-anak di bawah umur dengan upah sangat rendah dan lingkungan kerja serta perumahan yang jauh di bawah martabat manusia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Karl Marx<\/strong><\/p>\n<p>Dalam kondisi yang seperti ini muncul Karl Marx yang seumur hidupnya membaca, berpikir, berdebat, yang menghasilkan karya besar dalam bentuk buku berjudul Das Kapital.<\/p>\n<p>Sebelum bukunya terbit Marx bersama-sama dengan Friederich Engels menulis berbagai artikel dan membentuk organisasi Internationale, serta melakukan gerakan-gerakan yang menjurus pada revolusi yang gagal atas dasar Manifesto Komunis di tahun 1848.<\/p>\n<p>Buku Das Kapital ditulis selama 18 tahun. Di tahun 1865 jilid 1 selesai. Jilid-jilid selanjutnya diterbitkan oleh Engels setelah Marx meninggal, yaitu jilid 2 di tahun 1885, jilid 3 di tahun 1894 dan jilid 4 di tahun 1910.<\/p>\n<p>Sovyet Uni dan Eropa Timur, China, Korea Utara, Vietnam Utara, Cuba dan beberapa negara lain menerapkan sistem komunis yang landasannya adalah pikiran-pikiran Karl Marx. Ada penyesuaian di sana sini, sehingga kita mengenal Marxisme-Leninisme dan Marxisme-Maoisme.<\/p>\n<p>Mari kita telusuri pokok-pokok pikiran Marx. Saya memilih mengemukakan pikiran Marx seperti yang ditulis oleh Joseph Schumpeter dalam bukunya Capitalism, Socialism and Democracy yang terbit di tahun 1943. Schumpeter sekaligus mengemukakan kelemahan pikiran Marx.<\/p>\n<ol>\n<li>Marx maupun Ricardo berpendapat bahwa nilai dari suatu barang dalam kondisi pasar dengan <em>perfect competition <\/em>atau persaingan sempurna dan dalam <em>equilibrium <\/em>atau keseimbangan, sama dengan jumlah tenaga kerja yang dimasukkan ke dalam barang yang bersangkutan, dengan syarat bahwa pekerjaannya efektif, tidak ada inefisiensi.Schumpeter mengatakan bahwa teori ini tidak relevan, karena jauh dari kenyataan yang berlangsung dalam praktek. Pertama, teorinya didasarkan pada pasar dengan <em>perfect competition<\/em> yang tidak selalu ada dalam praktek. Kedua, asumsi dasar lainnya yalah bahwa tenaga kerja hanya satu-satunya faktor produksi, dan semua tenaga kerja dengan kwalitas yang sama atau sepenuhnya homogeen.Dengan demikian teori tentang nilai suatu barang yang semata-mata didasarkan atas satu faktor produksi, yaitu tenaga manusia tidak relevan dan tidak <em>valid<\/em>.Sebagai gantinya, teori yang lebih lengkap, lebih relevan dan lebih realistis adalah teori tentang <em>marginal utility<\/em>, yang saya anggap sudah diketahui oleh <em>audience<\/em>. Lagipula forum ini bukan tempatnya untuk berpanjang lebar tentang teori nilai.Maka teorinya Marx tentang nilai barang, yang olehnya dijadikan titik tolak untuk teori selanjuynya, yaitu teori eksploitasi manusia, di mata Schumpeter dan banyak akhli ekonomi lainnya sudah gugur.<\/li>\n<li>Marx bergulat dengan cara meniadakan faktor alam dalam penentuan nilai barang. Teorinya tentang biaya untuk penggunaan tanah adalah upayanya menghilangkan faktor produksi alam yang menurut Schumpeter sama sekali tidak realistis.Masih dalam rangka teori nilainya, Marx juga tidak berhasil menjelaskan peran faktor modal dalam bentuk aparat produksi. Kalaupun faktor modal dianggap netral, Marx sama sekali tidak memperhitungkan kenyataan bahwa modal dalam bentuk aparat produksi tidak sekali habis dipakai, dan usia dari semua aparat produksi pada semua perusahaan tidak sama, sehingga faktor aparat produksi jelas mendistorsi perbandingan tenaga kerja yang dipakai dalam memproduksi barang. Namun Marx tidak mau tahu, karena obsesi dan fokusnya pada teori eksploitasi tenaga manusia.<\/li>\n<li>Sekarang tentang teori eksploitasinya. Marx ingin menunjukkan bahwa eksploitasi manusia oleh manusia <em>inhaerent <\/em>melekat pada sistem kapitalisme, sehingga dengan sendirinya akan terjadi pemerasan atau eksploitasi oleh manusia terhadap manusia.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dalam sistem kapitalisme, otak, otot dan syaraf dari buruh membentuk persediaan tenaga kerja. Persediaan atau stok tenaga kerja ini bagi Marx adalah sebuah substansi yang tidak ada bedanya dengan persediaan benda lainnya. Kita dapat menggambarkannya sebagai seorang budak. Bagi Marx tidak ada perbedaan antara kontrak kerja dengan buruh dan membeli budak. Jelas bahwa kontrak kerja dengan buruh berarti membeli tenaga kerjanya saja, tidak membeli seluruh manusia buruh.<\/p>\n<p>Oleh karena buruh tidak ada bedanya dengan benda lainnya, seiring dengan teori Marx tentang nilai, maka dalam pasar dengan persaingan sempurna dan dalam kondisi keseimbangan, buruh harus dapat menghasilkan pendapatan yang cukup untuk memproduksi buruh. Segera timbul pertanyaan, jumlah jam kerja berapakah yang dibutuhkan untuk memproduksi persediaan tenaga kerja yang terdapat di dalam tubuh manusia seorang buruh ? Jawabnya yalah jumlah jam tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mengasuh, memberi makan, memberi pakaian dan perumahan kepada buruh. Maka kalau buruh menjual sebagian dari tenaga kerjanya, upahnya harus sama dengan bagian-bagian dari mengasuh, memberi sandang, pangan dan papan kepada manusia buruh; persis seperti pedagang budak yang menjual budak akan menerima harga yang sebanding dengan jumlah jam kerja. Maka bagi Marx seorang buruh memperoleh nilai yang sepenuhnya.<\/p>\n<p>Namun bilamana seorang kapitalis telah membeli persediaan tenaga kerja, mereka bisa mempekerjakan buruh lebih lama dibandingkan dengan jumlah jam yang dibutuhkan untuk memproduksi persediaan\u00a0 tenaga kerja buruh yang bersangkutan. Dengan demikian sang kapitalis memeras jam kerja yang lebih lama dibandingkan dengan upah yang dibayarkan. Karena produk yang diperoleh dari jam-jam kerja buruh ekstra itu dapat dijual dengan harga yang sebanding dengan jumlah jam kerja yang <em>de facto<\/em> diperoleh majikan kapitalis, terdapat selisih nilai antara yang diperoleh dan dibayarkan, dan selisih positif ini jatuh ke tangan kapitalis.<\/p>\n<p>Sang kapitalis meng-eksploitasi buruh, dan merebut nilai lebihnya, walaupun sang buruh memperoleh bayaran yang sesuai dengan tenaga kerjanya dan konsumen tidak membayar lebih dari nilai barang jadi yang dibelinya. Marx terobsesi ingin \u201cilmiah\u201d untuk menuju pada rangkaian teorinya tentang nilai, tentang eksploitasi tanpa mau terjerumus pada romantisme membela yang lemah.<\/p>\n<p>Dengan mudah dapat kita simpulkan bahwa teori nilai lebih-nya Marx tidak dapat dipertahankan. Teori nilai tenaga manusia tidak dapat dipakai untuk faktor produksi manusia, karena secara implisit berarti bahwa faktor produksi tenaga manusia diproduksi dengan cara yang sama dengan faktor produksi lainnya, misalnya mesin, yang diproduksi atas dasar kalkulasi harga pokok yang rasional. Karena produksi manusia sama sekali tidak ada miripnya dengan memproduksi mesin, maka teorinya sudah gugur atas dasar titik tolak pikirannya dan atas dasar asumsi-asumsinya sendiri.<\/p>\n<p>Lagipula, tidak akan ada keseimbangan dalam persaingan sempurna, di mana semua kapitalis mengejar laba dari pemerasan tenaga kerja, karena semua kapitalis akan memperbesar produksinya dengan akibat kenaikan upah buruh, sehingga laba hasil pemerasannya akan musnah. Maka pengertian dari \u201cLaba hasil pemerasan tenaga buruh\u201d yang merupakan tonggak penting dari teorinya gugur oleh teorinya yang lain, yaitu pengejaran laba pemerasan yang musnah karena asumsinya tentang persaingan sempurna dan keinginan para kapitalis meraih laba yang sebesar-besarnya.<\/p>\n<ol>\n<li>Teori tentang nilai tenaga kerja tidak sesuai dengan kenyataan. Teori yang berbeda dengan kenyataan ini diperparah oleh teori nilai lebih, atau <em>Mehrwert.<\/em> Menurut teori ini, modal (dalam arti pabrik dan mesin) yang tidak dipakai untuk membayar upah buruh, tidak memberi sumbangan pada nilai barang jadi, kecuali bagian yang hilang dalam produksi. Maka kalau perbandingan antara modal dan tenaga kerja berbeda-beda dalam perusahaan yang berbeda-beda, laba dari berbagai perusahaan juga berbeda-beda.Apabila jumlah modal bertambah, yang selalu terjadi dalam kapitalisme, tetapi tingkat pemerasannya (eksploitasi) sama, dengan sendirinya rendemen dari keseluruhan modal menurun. Gambaran seperti ini tidak didukung oleh kenyataan.<em>Kita tiba pada teori akumulasi<br \/>\n<\/em><br \/>\nLaba yang diperoleh dari pemerasan tenaga buruh dijadikan modal (alat-alat produksi) oleh para kapitalis. Gejala ini tiada lain adalah tabungan yang dijadikan investasi. Bagi Marx akumulasi ini tidak dapat dihindarkan bagaikan hukum alam. Dengan demikian, nilai lebihnya akan berkurang karena kenaikan upah. Namun hakikat kapitalis yang senantiasa meningkatkan labanya, justru meningkatkan terus investasinya, yang membuat labanya semakin terpuruk sampai menjadi nol, sehingga akhirnya keseluruhan kapitalnya beserta sistem kapitalisme-nya musnah.&nbsp;<\/p>\n<p>Yang salah pada Marx yalah asumsi dan titk tolak pikirannya, bahwa sistem kapitalis adalah stasioner. Dalam kenyataannya sistem kapitalis tidak stasioner, dan juga tidak selalu disertai dengan ekspansi yang berkesinambungan secara teratur. Perekonomian kapitalis berlangsung dengan guncangan-guncangan karena munculnya produk baru, metode baru dan kemungkinan-kemungkinan komersial baru. Dan karena itu, persaingan yang terjadi, walaupun relatif dengan persaingan sempurna, berbeda dengan kondisi yang stasioner. Maka akumulasi terjadi dengan guncangan atau yang oleh Schumpeter disebut <em>creative destruction<\/em>. Dalam dunia nyata, akumulasi terjadi tanpa memperkecil laba, melainkan memperbesarnya terus, sehingga kebangkrutan dan musnahnya kapitalisme yang diramalkan oleh Marx tidak terjadi.<\/li>\n<li>Tentang teori penyengsaraan atau <em>Verelendung<\/em>, Marx berpendapat bahwa dalam sistem kapitalis, upah riil dan tingkat hidup dari rakyat yang berpendapatan tinggi akan turun, sedangkan yang berpendapatan rendah tidak meningkat. Perkembangan yang demikian <em>inhaerent<\/em> dalam logika sistem kapitalis. Ramalannya ini tidak didukung oleh kenyataan. Marx berusaha membelanya dengan mengatakan bahwa yang diartikan bukan upah mutlak, tetapi upah relatif dibandingkan dengan laba kaum kapitalis. Dengan demikian, walaupun pendapatannya tertinggal dibandingkan dengan pendapatan sang kapitalis <em>entrepreneur<\/em>, tingkat kemakmuran buruh senantiasa meningkat, sehingga tidak terjadi <em>Verelendung<\/em> atau penyengsaraan.Marx mendasarkan teorinya pada apa yang dinamakan <em>Reserve Army<\/em>, yaitu massa miskin yang juga disebut kaum proletariat. Ini disebabkan oleh gejala konsentrasi modal besar pada beberapa kapitalis saja. Menurut Marx di kalangan para kapitalis juga terjadi konsentrasi atau pemusatan pada beberapa orang saja yang lalu membentuk jaringan dunia, sehingga di seluruh dunia akan muncul massa proletariat yang tidak mempunyai apapun kecuali tubuhnya.Pada gilirannya teori tentang terbentuknya <em>reserve army<\/em> didasarkan atas teorinya David Ricardo tentang mekanisasi yang secara sistematis akan menggantikan manusia dengan mesin dalam proses produksi.\u00a0 Bersama-sama dengan faktor-faktor yang telah disebutkan tadi, akan terbentuk pasukan kaum proletariat di mana-mana di seluruh dunia. Mereka sangat miskin, hanya memiliki tubuhnya saja. Tetapi mereka militan, berdisiplin dan akan mengorganisir dirinya ke dalam satu kesatuan dengan kekuatan raksasa, yang akan menghancurkan kapitalisme.Inipun tidak terjadi. Di negara-negara yang tetap mempertahankan kapitalisme dengan pengaturan oleh pemerintah, yang muncul adalah serikat-serikat buruh yang berkembang menjadi partai politik. Di banyak negara sering Partai Buruh yang memerintah, yang hubungannya harmonis dengan para kapitalis dan perusahaan-perusahaan besar.<\/li>\n<li>Sekarang tentang akan meledaknya sistem kapitalisme atau <em>Zusammenbruchstheorie.<br \/>\n<\/em><br \/>\nSentralisasi dan konsentrasi modal di tangan sekelompok kecil kapitalis di satu pihak, dan kaum proletariat yang teroragisir rapi di lain pihak akan mengakibatkan benturan dan ledakan luar biasa yang menghancurkan kapitalisme.&nbsp;<\/p>\n<p>Seorang neo Marxist sendiri, yaitu Rudolf Hilferding meragukan teori Marx dalam bidang ini dengan mengemukakan argumentasi yang kuat dan teratur. Dia tiba pada kesimpulan bahwa melalui konsentrasi, kapitalisme justru akan memperoleh stabilitas.<\/p>\n<ol>\n<li>Di samping kritiknya, Schumpeter juga mengemukakan bahwa tidak<br \/>\nsemua teori Marx salah. Kontribusi sangat besar dari Marx dan Engels adalah pikirannya tentang gelombang pasang surutnya ekonomi, atau <em>business cycle <\/em>atau <em>conjunctuur <\/em>yang mendahului Juglar dengan siklus 6 tahunannya.&nbsp;<\/p>\n<p>Kontribusi sangat besar lainnya yang membuat Marx sebagai pionir adalah dalam bidang hubungan antara sejarah dan teori ekonomi. Hanya Marx yang untuk pertama kalinya melihat hubungan antara sejarah dengan ekonomi bagaikan kensenyawaan kimia, tidak berdiri sendiri-sendiri yang saling memakainya sebagai referensi atau verifikasi. Marx yang pertama kali mengenali bahwa teori ekonomi dapat dipakai untuk melakukan analisis sejarah, dan bagaimana gambaran sejarah dapat menjelma menjadi <em>histoire raisonne<\/em><strong><em>.<\/em><\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong> <\/strong><\/p>\n<p><strong>Alec Nove : The Sovyet Economy<\/strong><\/p>\n<p><strong>Hadirin Yth<br \/>\n<\/strong><br \/>\nSekitar 100 tahun berlalu setelah Marx mengumandangkan pikiran-pikirannya dan setelah lahirnya Manifesto Komunis, serta terbitnya jilid 1 Das Kapital, sebelum ekonom lainnya muncul yang menunjukkan tidak mungkinnya sistem komunis diterapkan dalam praktek. Kita mengetahui bahwa pada ranah praktis, sistem komunis berarti sistem ekonomi komando dan sistem perencanaan sentral.<\/p>\n<p>Tidak boleh ada orang yang memiliki kapital, dan tidak boleh ada orang yang mempunyai perusahaan. Semuanya harus hidup dan bekerja sebagai pegawai negeri. Semua perusahaan, betapapun kecilnya harus dimiliki oleh negara dalam bentuk BUMN.<\/p>\n<p>Bahwa sistem yang demikian tidak mungkin berfungsi dikemukakan oleh Alec Nove dalam bukunya yang terbit di tahun 1961, berjudul \u201cThe Sovyet Economy\u201d.<\/p>\n<p>Mari kita telaah butir-butir pikiran Nove sebagai berikut.<\/p>\n<ul>\n<li>Sistem perencanaan sentral mempunyai keuntungan, terutama pada tahap awal penerapannya. Di tahun 1961 ekonomi Sovyet Uni yang terbesar kedua setelah AS. Dalam bidang teknologi, Sovyet Uni membuat AS panik dengan peluncuran sputnik.<\/li>\n<li>Dalam tahap-tahap selanjutnya, dalam kehidupan ekonomi yang demikian kompleks dan dinamisnya, ternyata tidak mungkin merencanakan produksi dan distribusi dari demikian banyaknya jenis barang dan jasa yang dibutuhkan oleh semua warga Sovyet. Pemerintah tidak mungkin menentukan barang dan jasa apa saja yang harus diproduksi, berapa banyak, dalam kwalitas yang bagaimana, dengan ukuran berapa ?Produksi terdiri dari tahapan-tahapan yang berurutan. Setiap tahap menghasilkan barang antara yang merupakan bahan masukan untuk produksi selanjutnya. Dengan terjadinya ketidak selarasan antara jumlah barang yang diproduksi pada tahap tertentu dengan barang sama yang dibutuhkan untuk tahapan produksi selanjutnya terjadi <em>bottle neck<\/em>, yang mengakibatkan pemborosan dan inefisiensi dalam waktu menunggu dan waktu penyesuaian yang lama.<\/li>\n<li>Untuk kepentingan ideologi dan politik, faktor produksi digunakan dengan cara yang tidak rasional.<\/li>\n<li>Cara mencapai target produksi tertentu melalui komando yang berbentuk kampanye. Bilamana terjadi <em>bottle neck<\/em>, dibutuhkan target dan kampanye lain, sehingga banyaknya kampanye yang saling betentangan sangat membingungkn para pelaksana di lapangan.<\/li>\n<li>Struktur politik jatuh bersamaan dengan struktur ekonomi, sedangkan masing-masing pada hakikatnya membutuhkan struktur yang berbeda, sesuai dengan organisasi dan prosesnya yang berbeda pula.<\/li>\n<li>Beban pekerjaan para perencana tertinggi terlampau banyak. Maka banyak keputusan yang diambilnya sangat terlambat dengan segala konsekwensinya berbentuk penghamburan dan inefsiensi.<\/li>\n<li>Sistem ekonomi beserta manajemennya mirip dengan perekonomian dalam peperangan, sedangkan target-nya bukan memenangkan peperangan, melainkan memproduksi barang dan jasa guna meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya.<\/li>\n<li>Faktor-faktor produksi yang langka digunakan untuk memproduksi barang yang secara politik dianggap strategis, sambil mengabaikan memproduksi barang yang sangat dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari.<\/li>\n<li>Harga pokok dari barang dan jasa yang diproduksi guna penentuan harga jual tidak sama dengan harga pokok yang sebenarnya.<\/li>\n<li>Sistem distribusi dan alokasi barang yang sepenuhnya ditentukan oleh pemerintah melalui perencanaan sentral mengakibatkan kekurangan-kekurangan dari kebutuhan sehari-hari.<\/li>\n<li>Banyak sumber daya ekonomi terhamburkan untuk proyek-proyek mercu suar.<\/li>\n<li>Sebelum reformasi, Sovyet Uni adalah negara yang paling maju di antara negara-negara berkembang, tetapi paling terbelakang di antara negara-negara maju.<\/li>\n<li>Tingkat kesejahteraan sejak tahun 1928 sangat tertinggal dibandingkan dengan negara-negara yang memberlakukan sistem kapitalisme dengan mekanisme pasar yang diatur dan dikendalikan oleh pemerintah seperlunya.<\/li>\n<li>Terjadi disproporsionalitas antara produk-produk yang secara berurutan dibutuhkan dalam proses produksi yang berkesinambungan.<\/li>\n<li>Produktivitas di sektor pertanian jauh tertinggal dibandingkan dengan produktivitas para petani di AS.<\/li>\n<li>Banyak barang yang diproduksi tidak sesuai dengan selera maupun kebutuhan para warganya.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Perlu disebutkan bahwa dalam dua bidang sistem Sovyet unggul, yaitu :<\/p>\n<ul>\n<li>Pendidikan yang didukung dengan dana anggaran yang sangat besar.<\/li>\n<li>Sistem Sovyet sangat cocok untuk meng-eksploitasi dan menggunakan sumber daya alam untuk rakyatnya.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Demikian Alec Nove.<\/p>\n<p><strong>Para Hadirin Yth.,<\/strong><\/p>\n<p>Seperti tadi telah dikatakan<strong><em>, <\/em><\/strong>di tahun 1943 Joseph Schumpeter telah menulis betapa pikiran-pikiran Karl Marx sangat salah ditinjau dari sudut falsafah maupun teori ekonomi. Yang ditulis oleh Schumpeter bukan semata-mata pikiran-pikirannya sendiri, tetapi sedikit banyak merupakan akumulasi dari pengetahuan yang ditulis oleh para pemikir dan akhli ekonomi berkaliber besar sebelum Schumpeter.<strong><em> <\/em><\/strong><\/p>\n<p>Di tahun 1961 Alec Nove mengemukakan mustahilnya sistem komunis dengan ekonomi komando dan perencanaan sentral berfungsi.<\/p>\n<p>Namun baru di tahun 1980 Michael Gorbachev meluncurkan Glasnost dan Perestroika-nya, dan dalam tahun yang sama, Deng Shiao Peng bersama-sama dengan teman-temannya melakukan reformasi yang dikenal dengan sebutan <em>social market economy<\/em>.<\/p>\n<p>Kita saksikan bahwa dewasa ini, setelah negara-negara komunis meninggalkan sistem ekonomi komando dengan perencanaan sentralnya, sudah tidak ada lagi negara yang tidak mengizinkan orang per orang secara individual memiliki modal yang dipakai untuk berbisnis atau berproduksi dan berdistribusi. Juga tidak ada lagi negara yang tidak mendasarkan sistem pertukarannya pada mekanisme pasar, dengan penentuan harga atas dasar kekuatan permintaan dan penawaran.<\/p>\n<p>Dengan kata \u201ckapitalisme\u201d dalam artinya yang netral, saya cenderung menyebut sistem ekonomi yang berlaku secara universal sebagai \u201cKapitalisme dengan mekanisme pasar dalam rangka peraturan dan pengaturan seperlunya oleh pemerintah.\u201d<\/p>\n<p>Apakah dengan demikian sudah tidak ada perbedaan lagi dalam bidang sistem ekonomi di antara para akhli, para pemikir dan antar bangsa-bangsa di dunia ?<\/p>\n<p>Jawabnya adalah \u201ctidak\u201d. Tengok perdebatan yang tajam dan keras antara Preiden Obama dan calon Presiden Mitt Romney selama mereka berkampanye. Keduanya menganut sistem kapitalisme yang didasarkan atas mekanisme pasar, tetapi mereka berbeda sangat tajam dalam hal berapa besar dan dalam bidang apa saja pemerintah harus ikut campur tangan dalam bentuk peraturan dan pengaturan dunia ekonomi dan bisnis.<\/p>\n<p>&nbsp;<br \/>\n<strong>Kesimpulan dan penutup<\/strong><\/p>\n<p>Para Hadirin Yth.,<\/p>\n<p>Jadi walaupun semua negara di dunia sudah mengadopsi kapitalisme dengan mekanisme pasar, setiap negara mempunyai kadar peratutan dan pengaturan oleh pemerintah yang berbeda-beda.<\/p>\n<p>Sejak awal, Eropa Barat menjawab tantangan Marx dengan ikut campurnya pemerintah dalam bentuk peraturan dan pengaturan, sambil mempertahankan kapitalisme yang didasarkan atas mekanisme pasar. Campur tangan pemerintah sangat jauh dalam bidang mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan yang adil. 3 negara yang paling jauh menerapkannya yalah Skandinavia, terutama Denmark, Inggris dan Belanda. Sekarang Denmark adalah negara tekaya dengan gini ratio paling rendah di Eropa, disusul oleh Belanda.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Francis Fukuyama<\/strong><\/p>\n<p>Di tahun 1992 Francis Fukuyama menerbitkan buku berjudul \u201cThe End of History and the Last Man\u201d. Di halaman 119 ditulis bahwa diktatur yang modern pada dasarnya bisa lebih efektif dibandingkan dengan demokrasi dalam menciptakan kondisi sosial yang akan memungkinkan pertumbuhan ekonomi kapitalis, yang lambat laun juga akan melahirkan demokrasi yang stabil.<\/p>\n<p>Di halaman 122 ditulis : \u201csangat sulit dibayangkan bahwa demokrasi bisa berfungsi dengan baik dalam masyarakat yang mayoritasnya buta aksara (baca : kurang pendidikan dan pengetahuan), di mana rakyatnya tidak dapat mencerna informasi yang tersedia untuk dapat melakukan pilihan yang benar.\u201d<\/p>\n<p>Pada halaman 123 dikatakan : \u201c Cukup bukti empirik bahwa mekanisme pasar dengan pemerintah yang otoriter lebih baik prestasinya dibandingkan dengan negara-negara demokrasi. Secara historis, beberapa pertumbuhan ekonomi yang mengesankan diwujudkan oleh negara-negara yang ekonominya menganut asas mekanisme pasar, tetapi politiknya otoriter, termasuk zaman kekaisaran Jerman, Jepang di era Meiji, Rusia pada zamannya Witte dan Stolypin, dan yang mutakhir adalah Brasilia setelah coup d\u2019etat militer tahun 1964, Chili di bawah Pinochet, dan tentu beberapa negara Asia (kkg : seperti China dan Singapore). Antara tahun 1961 dan 1968, pertumbuhan ekonomi rata-rata dari negara-negara berkembang yang menganut demokrasi seperti India, Srilanka, Pilipina, Chili dan Costa Rica hanya 2,1%, sedangkan kelompok negara-negara yang otoriter, yaitu Spanyol, Portugal, Iran, Taiwan, Korea Selatan, Thailand dan Pakistan pertumbuhan rata-ratanya 5,2%.<\/p>\n<p>Faktor yang menyebabkan mengapa mekanisme pasar dengan pemerintah yang otoriter lebih unggul, digambarkan oleh Joseph Schumpeter dalam bukunya \u201cCapitalism, Socialism and Democracy\u201d. Para pemilih dari negara-negara demokrasi menganut sistem pasar bebas dalam abstraksi, sehingga mereka segera saja mengingkarinya bilamana kepentingan ekonominya yang jangka pendek terganggu. Tidak ada dalil yang mengatakan bahwa rakyat yang demokratik akan mengambil keputusan-keputusan yang rasional. Juga tidak ada dalil yang mengatakan bahwa mereka yang gagal dalam bidang ekonomi tidak akan menggunakan kekuasaan politiknya untuk melindungi dirinya sendiri.<\/p>\n<p>Di halaman 124 ditulis : \u201cPemerintah otoriter pada prinsipnya lebih mampu menjalankan kebijakan ekonomi yang liberal untuk mengejar pertumbuhan ekonomi.\u201d<\/p>\n<p>Di halaman 220 ditulis : \u201cTidak ada demokrasi liberal yang berfungsi sebagaimana mestinya tanpa negarawan yang bijaksana dan efektif.\u201d<\/p>\n<p>Di halaman 238 ditulis : \u201c tantangan yang signifikan terhadap universalisme dari nilai-nilai liberal oleh revolusi Perancis dan revolusi Amerika tidak datang dari negara-negara komunis, yang ternyata sudah bangkrut dan musnah, tetapi dari negara-negara di Asia yang mengkombinasikan kapitalisme dan mekanisme pasar dengan otoriterisme yang paternalistik.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><em>Penutup<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Sebagai penutup, marilah kita tengok beberapa negara yang dalam kadar campur tangan dan peran pemerintahnya berbeda-beda.<\/p>\n<p><strong>China<\/strong><\/p>\n<p>Pertama-tama tentang China. Buat saya China yang paling menarik dari semua sistem yang ada, yaitu yang oleh mereka disebut \u201cSocial Market Economy\u201d. Sistem ini telah terbukti memberikan stabilitas, produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Karakteristiknya sebagai berikut.<\/p>\n<p>Sistem politiknya bukan demokrasi liberal, tetapi sistem ekonominya membolehkan kepemilikan modal oleh orang per orang secara inividual. Pemilik modal boleh menggunakannya untuk ikut serta dalam produksi dan distribusi dengan motif mencari laba. Sistem pertukarannya didasarkan atas pengaturan oleh mekanisme pasar dengan <em>invisible hands<\/em>, dan pembentukan harga atas dasar perpaduan antara pemintaan dan penawaran.<\/p>\n<p>Namun China tidak alergi dan tidak mentabukan campur tangan pemerintah. Bukan saja mengatur seperlunya, China masih memiliki 70% dari semua perusahaan yang ada. Artinya, 70% dari semua perusahaan yang ada di China berbentuk BUMN. Ini disebabkan karena mereka mulai dengan sistem komunis di mana 100% dari perusahaan adalah BUMN. Dengan reformasi, pemerintah menjual 30% dari BUMN kepada para pengusaha swasta.<\/p>\n<p>Dengan mempertahankan 70% dari unit-unit prouksi dalam segala bidang, BUMN berkompetisi dengan perusahaan-perusahaan swasta dan tunduk pada hukum-hukum mekanisme pasar.<\/p>\n<p>Hasilnya dapat disaksikan oleh dunia.<\/p>\n<p><strong>Singapore<\/strong><\/p>\n<p>Sejak awal Singapore sudah kapitalistik dan liberal secara ekonomis, tetapi cukup otoriter dalam bidang politik.<\/p>\n<p>Berbeda dengan China, Singapore mulai dengan memiliki perusahaan-perusahaan publik yang memproduksi barang dan jasa publik. Dalam perkembangan selanjutnya mereka mendirikan atau membeli perusahaan dalam segala bidang yang menguntungkan. BUMN ini bergerak dalam bidang apa saja, bersaing dengan perusahaan-perusahaan swasta melalui persaingan di pasar yang bekerja atas dasar mekanisme pasar.<\/p>\n<p>Pemerintah membentuk dua buah holding, yaitu Temasek dan Government of Singapore Investment Corporatyion (GIC).<\/p>\n<p>Singapore adalah salah satu negara dengan PDB per kapita yang tertinggi di dunia.<\/p>\n<p><strong>Indonesia<\/strong><\/p>\n<p>Sejak jatuhnya Bung Karno dan berakhirnya pemerintahan yang disebut Orde Lama, kebijakan ekonomi dipusatkan pada beberapa ekonom yang memperoleh pendidikan akhirnya di Universitas Berkeley di California atas beasiswa dari AS. Mereka adalah tim ekonomi yang sangat kompak dan homogeen karena semuanya barasal dari sekolah yang sama, yaitu Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ideologinya sangat liberal. Mereka dikenal dengan sebutan \u201cThe Berkeley Mafia\u201d. Di bawah pengaruh para pengendali ekonomi ini, yang pada gilirannya dikendalikan oleh kekuatan korporasi AS, mereka menuruti praktis apa saja yang dikehendaki oleh pemerintah dan dunia korporat AS, bersama-sama dengan lembaga-lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan IGGI\/CGI.<\/p>\n<p>Sistem politiknya berubah dari semi otoriter menjadi sangat liberal mencontoh sistem Amerika Serikat.<\/p>\n<p>Hasilnya yang dapat kita lihat hari ini. Kemajuan ekonomi dengan peran modal dan perusahaan asing sangat besar. PDB ditumbuhkan oleh modal besar asing, yang dengan sendirinya manfaat terbesar jatuh pada mereka.<\/p>\n<p><strong>AMERIKA SERIKAT<\/strong><\/p>\n<p><strong> <\/strong><\/p>\n<p>Selama kampanye pemilihan presiden AS, konroversinya adalah besar kecilnya campur tangan dan peran pemerintah. Peran pemerintah yang relatif besar dianut oleh Partai Demkorat, dan peran pemerintah yang sekecil mungkin dianut oleh Partai Republik. Perbedaan yang sangat tajam dapat kita ikuti dalam perdebatan antara Obama dan Romney selama mereka melakukan kampanye menjelang pemilihan Presiden.<\/p>\n<p>Dengan dimenangkannya kepresidenan oleh Obama, pola kebijakannya sudah jelas selama Obama memerintah, dan selama dia mengemukakan pikiran-pikiran dan gagasan-gagasannya, yaitu Obama tidak alergi dan tidak mentabukan peran pemerintah dalam dunia ekonomi dan bisnis.<\/p>\n<p>Marilah kita ikuti dan saksikan bersama apakah krisis besar yang melanda AS sejak skandal besar di Wall Street pada tahun 2008 dapat diatasi.<\/p>\n<p>Banyak terima kasih atas perhatiannya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Kwik Kian Gie Pidato saya hari ini berjudul \u201cKapitalisme, Mekanisme Pasar dan Besar Kecilnya Peran Pemerintah dalam Perekonomian dan Bisnis.\u201d Pertama-tama ingin saya jelaskan bahwa kata \u201ckapitalisme\u201d dapat mempunyai arti yang netral, yaitu dibolehkannya orang per orang memiliki modal, dan dibolehkannya pemilik yang orang per orang itu menggunakan modalnya guna berbisns dengan motif mencari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-540","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ekonomi"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/540","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=540"}],"version-history":[{"count":15,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/540\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":654,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/540\/revisions\/654"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=540"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=540"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=540"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}