{"id":351,"date":"2011-09-21T13:45:12","date_gmt":"2011-09-21T06:45:12","guid":{"rendered":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/?p=351"},"modified":"2011-09-21T13:45:12","modified_gmt":"2011-09-21T06:45:12","slug":"percakapan-antara-djadjang-dan-mamad-tentang-nilai-tukar-rupiah-dan-iihsg","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/2011\/09\/percakapan-antara-djadjang-dan-mamad-tentang-nilai-tukar-rupiah-dan-iihsg\/","title":{"rendered":"Percakapan Antara Djadjang Dan Mamad Tentang Nilai Tukar Rupiah Dan IIHSG"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">IHSG dan nilai tukar rupiah berguguran pada waktu yang sama. Mamad sebagai seorang sarjana ekonomi dari universitas terkenal di Indonesia berdiskusi dengan sahabatnya yang tidak sekolahan, tetapi berpengalaman di lapangan. Oleh komunitas mereka, Mamad dijuluki \u201cprofesor kodok\u201d dan Djadjang dijukuki \u201canak jalanan\u201d.<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Mamad (M)<\/strong> : Djang, ketika ekonomi kita sedang bagus-bagusnya kau sudah ragu. Ketika itu IHSG meningkat terus, nilai tukar rupiah menguat, hutang sudah di bawah 30% dari PDB, cadangan devisa sangat besar, PDB meningkat lumayan. Pendeknya Indonesia sudah di ambang pintu tergolong dalam 10 ekonomi tekuat di dunia. Mengapa kau ketika itu sudah selalu ragu ?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Djajang (Dj)<\/strong> : Karena semua angka yang kausebutkan itu tadi bagian terbesarnya semu, hanya teknik pencatatan dalam statistik yang membuat demikian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Lho, nyatanya PDB kan memang meningkat ?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Memang, tetapi yang dinamakan PDB itu apa ? Kalau ada perusahaan Amerika yang membawa masuk uang sebesar USD 100 milyar dan dipakai untuk mengeduk batu bara, batu bara yang dikeluarkan dari perut bumi ke atas permukaan perut bumi dicatat oleh statistik kita sebagai PDB. PDB bukan milik kita, tetapi milik investor Amerika itu. Bangsa Indonesia memang memperoleh sesuatu, yaitu royalti dan pajak yang sangat kecil. Lihatlah di APBN. Pendapatan dari SDA Non Migas hanya sekitar Rp. 22 trilyun !<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Ekspornya juga meningkat. Bagaimana penjelasanmu ?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Batu bara yang milik investor Amerika itu tadi diekspor. Statistik mencatat ekspor RI meningkat. Ekspor ini tidak mengakibatkan kekayaan bangsa Indonesia bertambah, kecuali royalti dan pajak yang sangat kecil itu tadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Ok, bukankah cadangan devisa kita meningkat terus sampai mencapai rekor dalam sejarah perekonomian Indonesia ?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Betul, tetapi siapa yang memiliki dan mengontrolnya ? Gini lho Mad, perusahaan Amerika itu tadi kan mendapat hasil penjualan batu baranya yang dijual di luar negeri dalam valuta asing ? Nah ini dianggap cadangan devisa kita meningkat. Padahal valas itu milik mereka. Mereka bebas menyimpan di mana saja dan dalam bank apa saja. Makanya Gubernur BI dan Menkeu sedang menyusun peraturan supaya disimpan paksa di bank-bank di Indonesia.<\/p>\n<p>Menurut kamu yang menganut paham liberalisme yang sedang dipraktekkan di Indonesia apakah itu mungkin Mad ?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Ya tidak mungkin, memangnya Gubernur BI dan Menkeu itu lebih pandai dari <em>invisible hands<\/em>-nya mekanisme pasar ? Lagipula, memangnya para eksportir itu tidak membutuhkan valasnya segera untuk mengimpor barang dari luar negeri supaya perusahaannya berputar terus ?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Djang, yang penting bukan uang disimpan di mana ? Yang penting impor kita sangat besar yang menguras valas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Kali ini kamu kok membumi Mad. Kamu sudah mulai bukan profesor kodok lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Mengapa nilai rupiah melemahnya bersama-sama dengan melemahnya IHSG ? Yang satu kan tidak ada hubungannya dengan yang lain ? Nilai rupiah tergantung dari impor dan ekspor, sedangkan IHSG tergantung dari fundamental perusahaan-perusahaan yang saham-sahamnya diperdagangkan di BEI. Memang susah kalau para pelaku bukan orang lulusan FE sekolahan saya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Begini Mad. Banyak sekali investor asing memasukkan dollarnya ke Indonesia untuk membeli saham. Maka harga saham meningkat dan pasokan dollar juga meningkat. Kalau investor asing dengan alasan apapun juga merasa sudah tiba waktunya mengambil untung dari saham, ya dijual dan harga saham turun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Ngerti, tetapi mengapa rupiah melemah ?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Hasil penjualan sahamnya yang dalam rupiah ditukarkan ke dalam dollar untuk dikeluarkan lagi dari Indonesia. Dalam bahasamu, permintaan terhadap dollar meningkat, harga dollar meningkat. Penawaran dari rupiah melimpah, harga rupiah (nilai tukar) melemah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Seluruh dunia memuji Indonesia bahwa fundamental ekonominya kuat, termasuk cadangan devisanya. Ketika itu kamu sudah sinis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj <\/strong>: Begini lho Mad, ketika itu juga Menkeu Sri Mulyani kan menerbitkan obligasi RI dalam dollar yang bunganya 10,5 % ? Di AS, tingkat bunga yang berlaku 0,3%. Ini kan sudah bukti bahwa ketika itu pemerintah RI sebenarnya sangat kekurangan dollar yang bisa dimiliki dan dikontrol olehnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Apakah sekarang masih kesulitan valas ?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Mungkin belum, tetapi sudah ketakutan kalau valasnya dibawa lari dengan cara menjual saham dan menarik dari deposito yang ujung-ujungnya SBI. Maka seperti panik mendadak ingin menguasai valas yang bukan miliknya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>IHSG dan nilai tukar rupiah berguguran pada waktu yang sama. Mamad sebagai seorang sarjana ekonomi dari universitas terkenal di Indonesia berdiskusi dengan sahabatnya yang tidak sekolahan, tetapi berpengalaman di lapangan. Oleh komunitas mereka, Mamad dijuluki \u201cprofesor kodok\u201d dan Djadjang dijukuki \u201canak jalanan\u201d.<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-351","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ekonomi"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/351","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=351"}],"version-history":[{"count":2,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/351\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":353,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/351\/revisions\/353"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=351"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=351"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=351"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}