{"id":228,"date":"2011-03-13T23:53:10","date_gmt":"2011-03-13T16:53:10","guid":{"rendered":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/?p=228"},"modified":"2011-03-14T14:00:41","modified_gmt":"2011-03-14T07:00:41","slug":"pembangunan-gedung-dpr-baru-perlu","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/2011\/03\/pembangunan-gedung-dpr-baru-perlu\/","title":{"rendered":"Pembangunan Gedung DPR Baru Perlu !!"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Pembangunan gedung DPR yang baru perlu kita wujudkan dengan pikiran yang jernih dan terbebas dari korupsi dalam segala bentuknya. Jadi kalau pembangunan itu terbebas dari korupsi dan pikiran yang korup (corrupted mind), pembangunannya patut dilanjutkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu pembangunan gedung baru DPR harus diambil alih oleh sebuah tim independen, yang terdiri atas para ahli dalam segala bidang yang relevan untuk mewujudkan gedung DPR yang fungsional, tetapi juga mencerminkan kebesaran dan kepribadian bangsa Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gedung DPR, seperti halnya dengan istana kepresidenan, musium, gedung teater, perpustakaan nasional dan gedung-gedung sejenisnya tidak hanya mempunyai fungsi sebagai tempat bekerja yang praktis dan efisien, tetapi juga mempunyai fungsi sebagai simbol kebesaran bangsa.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah mereka yang anti pembangunan gedung baru DPR sangat menyesal dengan adanya gedung MPR yang demikian megahnya, yang dibangun di atas tanah yang demikian luasnya atas gagasan Bung Karno? Ketika itu, kita jauh lebih miskin dibandingkan sekarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sudah sejak lama, terutama setiap kali saya memasuki wilayah MPR\/DPR langsung saja terasa betapa timpangnya antara gedung MPR yang demikian megah, menyimbolkan kebesaran, dan gedung DPR berbentuk kotak. Apalagi kalau kita bekerja di dalamnya, terasa benar alangkah kotor dan tidak nyamannya semua fasilitas yang ada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembangunan gedung DPR baru dengan arsitektur khas Indonesia yang megah dengan fungsinya sebagai simbol kebesaran bangsa harus kita sejajarkan dengan pembangunan Istora Senayan, gedung MPR, gedung Bank Indonesia, mesjid Istiqlal, gedung Proklamasi, tugu Proklamasi, dan entah gedung-gedung apa lagi yang ketika dibangun dijiwai oleh faktor-faktor lain yang oleh Bung Karno digambarkan dengan kata-kata \u201cman does not live by bread alone\u201d. Dengan kata lain, karena gedung DPR bukan kantor dagang, namun harus memancarkan aspirasi rakyat, banyak faktor lain yang harus ikut berbicara selain murah dan efisien.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah bangsa Indonesia harus menyesal dan malu mempunyai Borobudur yang dibangun ketika bangsa kita masih demikian miskinnya, atau justru bangga bahwa bangsa yang secara materiil demikian miskinnya ternyata ketika itu sudah mempunyai jiwa yang demikian besarnya, dan yang mampu menyemangati rakyat membangun Borobudur yang sekarang dinyatakan sebagai kekayaan peradaban dan kebudayaan seluruh umat manusia di dunia ?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya paham betul bahwa masyarakat marah karena prestasi DPR yang serendah itu, banyak membolos, korupsi dan sifat-sifat buruk lainnya. Namun apakah kualitas para anggota DPR yang sekarang seperti itu harus menghancurkan nilai-nilai yang lebih tinggi, yang terkandung dalam aspirasi rakyat untuk mempunyai simbol-simbol kebesaran bangsanya? Sering kita dengar, apakah kalau di dalam lumbung padi banyak tikusnya, tikus-tikus itu yang harus kita berantas ataukah lumbung padinya yang harus dimusnahkan?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tantangan kepada para elit bangsa yang marah adalah bagaimana mengenyahkan para anggota DPR yang bejat itu. Tantangan ini tidak ada hubungannya dengan pembangunan gedung DPR. Kalaupun gedungnya seperti ruko, toh para DPR yang bejat harus kita enyahkan. Maka lantas menjadi sangat absurd kalau justru gedung yang akan mempunyai nilai sejarah arsitektur (mungkin seraus tahun dari sekarang), dan kita persiapkan untuk para anggota DPR pada masa datang yang lebih baik, gedungnya dibiarkan seperti ruko.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengkaitkan anti dibangunnya gedung DPR baru yang akan berusia ratusan tahun dengan kualitas banyak anggota DPR sekarang yang bejat, secara implisit yakin bahwa sampai kapanpun mayoritas anggota DPR kita akan bejat terus seperti yang sekarang. Sikap dan pikiran yang demikian berbahaya, karena gara-gara ulah beberapa orang kita melakukan nihilisme pada nilai-nilai yang luhur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya yakin mayoritas elit bangsa kita setuju dengan Bung Karno yang mengatakan bahwa betapapun terpuruknya kita sekarang, kita harus menggantungkan cita-cita kita setinggi bintang-bintang di langit!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka Bung Karno membangun gedung Bank Indonesia dan mesjid Istiqlal, istora Senayan, gedung MPR yang jelas tidak hanya atas pertimbangan fungsional belaka. Jalan-jalan raya sangat lebar dan mulus dibangun yang menghubungkan Jakarta pusat dengan bagian selatan (Jalan Thamrin-Sudirman), yang ketika itu kiri kanannya hanya terdapat beberapa gubug yang kumuh. Banyak jalan raya lainnya dibangun yang pernah kita kenal dengan sebutan jalan \u201cbypass\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika Bung Karno jatuh, elit teknokrat bermental tukang menghujatnya sebagai perusak ekonomi dengan membangun proyek-proyek mercu suar. Apa jadinya dengan \u201cmercua suar\u201d sekarang ? Hotel Indonesia menjadi \u201ckumuh\u201d dibandingkan dengan sekian banyak hotel lainnya. Jalan-jalan raya bebas hambatan dijadikan jalan tol yang toh sangat sering macet. Apakah elit teknokrat tukang yang sekarang menghujat gagasan pembangunan gedung DPR tidak sama piciknya dengan pendahulunya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tentang dihujatnya gagasan bahwa di dalam kompleks DPR perlu ada kolam renang, fasilitas gymnasium, spa, restoran. Apa salahnya? Baru salah kalau dengan adanya semua fasilitas itu para anggota lantas tidak bekerja sama sekali. Bukankah berbagai fasilitas itu meningkatkan efsisiensi, supaya mereka tidak perlu membuang-buang waktu dalam kemacetan untuk berolah-raga di tempat-tempat komersial, bisa bekerja tanpa mengenal waktu dan tanpa mengganggu kebersamaan dengan keluarganya, karena mereka bisa bergabung untuk makan bersama di dalam kompleks DPR.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagaimana dengan biaya yang Rp. 1,6 trilyun ? Gedung ini akan dipakai selama ratusan tahun. Apa arti Rp. 1,6 trilyun ? Bandingkan dengan Capitol Hill di Washington DC dan Palace of Westminster di London. Lebih konyol lagi kalau kita bandingkan dengan dipatuhinya perintah-perintah IMF yang sudah menelan BLBI Rp. 144 trilyun, Obligasi Rekap sebesar Rp. 430 trilyun ditambah dengan bunganya yang Rp. 600 trilyun. Belum lagi sumber daya alam yang dikorup, pajak yang dicuri dan masih sangat banyak lainnya lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Last but not least, para pengritik pembangunan gedung DPR itu ketika menyaksikan Versailles, Schonbrun, istana-istana di Roma, di Russia, di negara-negara Eropa Timur, gedung Wiener Philharmoniker, terkagum-kagum, atau menghujat di dalam batinnya, bahwa semua gedung itu dibangun dengan harga yang sangat mahal dan melampaui fungsi teknisnya?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pembangunan gedung DPR yang baru perlu kita wujudkan dengan pikiran yang jernih dan terbebas dari korupsi dalam segala bentuknya. Jadi kalau pembangunan itu terbebas dari korupsi dan pikiran yang korup (corrupted mind), pembangunannya patut dilanjutkan. Karena itu pembangunan gedung baru DPR harus diambil alih oleh sebuah tim independen, yang terdiri atas para ahli dalam segala &hellip; <a href=\"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/2011\/03\/pembangunan-gedung-dpr-baru-perlu\/\" class=\"more-link\">Lanjutkan membaca <span class=\"screen-reader-text\">Pembangunan Gedung DPR Baru Perlu !!<\/span> <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-228","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ekonomi"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/228","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=228"}],"version-history":[{"count":3,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/228\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":234,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/228\/revisions\/234"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=228"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=228"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=228"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}