{"id":22,"date":"2011-03-08T03:20:23","date_gmt":"2011-03-08T03:20:23","guid":{"rendered":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/?p=22"},"modified":"2011-03-22T10:14:24","modified_gmt":"2011-03-22T03:14:24","slug":"demokrasi-yang-crazy-perbincangan-antara-djadjang-dan-mamad","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/2011\/03\/demokrasi-yang-crazy-perbincangan-antara-djadjang-dan-mamad\/","title":{"rendered":"Demokrasi yang Crazy &#8211; Perbincangan Antara Djadjang dan Mamad"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Setiap kali media massa gaduh tentang suatu hal, Djadjang dan Mamad  selalu terlibat dalam perbincangan yang seru, karena keduanya sama  tinggi IQ-nya, namun berbeda dalam pengalaman hidupnya. Mereka  bersahabat sangat karib sampai dengan SMU. Setelah itu Djadjang belajar  di universitas dan menjadi guru besar dalam ilmu politik. Mamad menjadi  pekerja sosial di tengah-tengah rakyat jelata. Namun dengan bekalnya  dari SMU, dia rajin membaca dan mengamati kehidupan politik yang nyata.  Dia sering nongkrong di panggung publik DPR. Tidak demikian dengan Prof.  Djadjang. Dia hanya membaca buku dan mengkuliahkan yang dibacanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejak tahun 2002 media massa kita gegap gempita dengan pemberitaan  dan opini serta analisis tentang rebutan menjadi Presiden RI, Gubernur,  Walikota dan Bupati. Selanjutnya akan dibahas tentang pemilihan langsung  Presiden saja, tetapi esensinya adalah pemilihan langsung yang membuat  banyak elit Indonesia menjadi aneh perilakunya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Djang, sejak Megawati lengser sebagai Presiden, Presiden  dipilih secara langsung melalui pemilu yang sangat terbuka dan  demokratis. Ini perubahan yang sangat mendasar. Bagaimana menurut  pendapatmu, Djang? Baik atau buruk?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Bagus sekali Mad, kita harus bersyukur bahwa sejak  reformasi, sebuah lembaga yang sangat paham tentang kehidupan berbangsa  dan bernegara secara demokratis bersedia mendampingi bangsa kita.  Lembaga itu namanya <em>National Democratic Institute<\/em> (NDI).  Merekalah yang mendampingi para anggota inti dari MPR kita yang  berkali-kali melakukan amandemen terhadap UUD 1945. Ketika para calon  Presiden sedang melakukan kampanye, mereka juga dipanggil oleh mantan  Presiden Jimmy Carter yang membuka <em>Carter Center<\/em> di Hotel Mulya. Para calon presiden itu diberi petunjuk-petunjuk oleh Jimmy Carter.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Lho, yang keberatan dan marah-marah terhadap perubahan  UUD 1945 begitu banyak kok kamu malahan menganggap ikut campur tangannya  NDI dalam kehidupan politik kita harus disyukuri?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Mereka yang keberatan dan marah-marah itu kan tidak  mengerti persoalan. Kita itu mau demokrasi atau tidak? Kalau mau  demokrasi ya harus belajar dan nurut sama yang paling mengerti dan  paling berpengalaman, yaitu Amerika Serikat (AS).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Bukankah embahnya demokrasi itu para filosof Yunani  seperti Socrates dan Plato? Dan yang sekarang demokrasinya seimbang kan  Eropa, yang merupakan kelanjutan sangat dekat dengan pikiran-pikiran  awal yang lahir di Yunani kuno?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Engkau sendiri menyebutnya Yunani \u201ckuno\u201d. Karena itu  sangat-sangat kuno, sudah ketinggalan zaman. Demokrasi yang modern ya  AS. Di sana Presidennya kan dipilih secara langsung? Maka kita sekarang  mengikutinya. Teman-temanku yang terpelajar, terutama yang lulus dari  Oyoyo University dengan tokohnya Prof. Pil Little semuanya memuji dan  banyak yang hidup dari sistem demokrasi kita yang menjadi contoh buat  dunia. Ada yang mendapat nafkah sebagai konsultan memenangkan pemilu,  ada yang nafkahnya dari <em>survey<\/em>, ada yang dari berhitung cepat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Berhitung cepat bisa memberi nafkah?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Ya, begitu pencoblosan atau pemungutan suara selesai kan  langsung saja ada pentolan-pentolan ahli politik yang melakukan apa  yang mereka sebut <em>quick count<\/em>. Mereka langsung tahu siapa yang  menang dengan akurasi tinggi. Pada awalnya didampingi oleh guru besarnya  Prof. Pil Little yang dari Oyoyo University itu. Itu honornya kan  tinggi?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Aku sih tambah bingung saja, Djang. Yang aku perhatikan  bukan teknik-teknik seperti itu. Yang aku bingung dan sampai  terbengong-bengong menyaksikannya ialah begitu banyaknya tokoh terkenal  ingin rebutan jadi Presiden. Mengapa mereka begitu <em>kepingin<\/em> menjadi Presiden? Lantas yang lebih membuat saya tidak habis pikir ialah  bagaimana mungkin orang Indonesia yang sifat hakikatnya begitu rendah  hati dan cenderung \u201cpemalu\u201d itu mendadak sontak bisa berkeliling seluruh  Indonesia. Di mana-mana mengerahkan massa yang harus mendengarkan  dirinya menyombongkan diri dengan pidato yang intinya : \u201cWahai rakyatku,  aku ini orang hebat. Pilihlah aku menjadi Presidenmu\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Mad, di dunia ini tidak ada yang gratis. Kalau mau  sesuatu harus bekerja keras dan kreatif. Semuanya harus dijual dengan  teknik <em>marketing<\/em>. Bukan hanya menjual pisang goreng saja yang  membutuhkannya, tetapi juga menjual ide, gagasan, kehebatan dirinya  sendiri. Bagaimana rakyat mengetahui bahwa dirinya hebat kalau dia tidak  mengatakannya? Siapa yang mau memuji-mujinya kalau bukan dirinya  sendiri? Diri sendiri saja tidak cukup. Harus ada Tim Sukses yang  terdiri dari para ahli yang pandai dan tinggi pendidikannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Lagi-lagi teknik. Itunya aku <em>ngerti<\/em>, tapi justru  menjadi bingung. Semuanya itu kan makan biaya sangat besar? Membiayai  Tim Sukses, berkeliling ke seluruh Indonesia dengan rombongan besar.  Membiayai pencetakan poster. Konon jumlahnya sampai ratusan milyar  rupiah yang tidak mungkin dimilikinya kalau kita melihat latar belakang  pekerjaannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Ya utang. Seorang calon Presiden yang menjanjikan akan  menang kan didekati banyak orang. Banyak orang kaya biasanya mendekat  supaya kalau nantinya terpilih dia sudah akrab dengan sang Presiden.  Orang-orang kaya yang mendekat itu sangat mau memberi utang yang  dibutuhkan guna pembiayaan kampanyenya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Pengusaha itu orang dagang. Dia mengeluarkan uang sampai  ratusan milyar untuk memenangkan satu calon Presiden. Kalau dia menang  dan menjadi Presiden, dia harus membayarnya kembali.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Memang, di AS kan juga begitu? Kalau calon Presiden  jagoannya menang, penyandang dana akan mendapat berbagai bisnis dan  bahkan duduk dalam pemerintahan. Apa salahnya? Indonesia cepat belajar.  Beberapa Menteri sangat penting kan asalnya pedagang?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Baik, lha Presidennya membayarnya pakai apa?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Mad, engkau ini bagaimana? Presiden kan sangat berkuasa?  Dia tidak perlu membayar uang tunai seperti kamu kalau berutang dari  warungmu tempat kamu makan. Ketika si pengusaha besar itu bersedia  membiayainya, sudah ada perjanjian terlebih dahulu bahwa kalau menang  akan diangkat menjadi Menteri yang \u201cbasah\u201d, supaya dia sendiri yang akan  mencari bisnis dengan untung besar. Bukan hanya terbayar kembali,  untungnya berlipat-lipat ganda. Proyek-proyek besar jatuh ke tangannya  semua. Bahkan bisa juga bahwa agennya sang penyandang dana duduk dalam  kabinet dengan kekuasaan penuh dalam bidang ekonomi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Itu namanya bukan korupsi Djang?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Bisa menjurus ke situ, tapi kan harus dibuktikan? Buktinya mana?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Lagi-lagi teknik. Sekarang malahan debat kusir dan debat  pokrol-pokrolan. Presiden sebelum menjadi Presiden sudah berjanji kepada  pemberi utang akan membiarkannya merebut bisnis besar-besaran dengan  kekuasaan yang melekat pada Pemerintahan. Buat saya, belum apa-apa,  sistem NDI yang kamu puji itu sudah melekatkan korupsi yang terstruktur.  Buat saya itu namanya korupsi melekat atau <em>korkat<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Itu tidak bisa dihindarkan. Di AS juga begitu, bahkan  melibatkan pengusaha dari Indonesia. Ingat tidak skandal pendanaan Bill  Clinton yang mengakibatkan seorang pengusaha Indonesia dihukum?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Djang, kenapa ya, kebanyakan guru besar dan ilmuwan  Indonesia kalau sudah tidak bisa berargumentasi tentang substansinya  lantas mengatakan di sini begitu, di sana begitu. Sering saya tanya dan  tanya terus ingin mengetahui akar permasalahannya sesuatu hal. Ketika  dia mentok terus bilang di UI begitu, di Gajah Mada begitu, di IPB  begitu. Yang ingin saya ketahui \u201cmengapa begitu\u201d, bukan \u201cdi mana saja  yang begitu\u201d. Tapi sudahlah, masalah ini kita tutup sampai di sini.  Sekarang soal lain lagi, yaitu tolong ceriterakan bagaimana Bung Karno  dan pak Harto menjadi Presiden.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Itu kan zaman dulu. Belum banyak orang pandai yang  bersekolah di Oyoyo University dengan Prof. Pil Little sebagai  dedengkotnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Yang kutanyakan prosesnya bagaimana? Bukankah karena Bung  Karno tanpa ingin mau menjadi Presiden berjuang mati-matian tanpa  sedikitpun memikirkan dirinya sendiri? Bung Karno dengan semua pemimpin  seangkatannya berjuang memerdekakan bangsa kita yang sudah lama dijajah  Belanda. Mereka itu para lulusan universitas di Belanda dan di Hindia  Belanda. Waktu itu lulusan perguruan tinggi sangat langka, sehingga  kalau mereka mau menjadi <em>ambtenaar<\/em> (pegawai negeri), gajinya  sangat tinggi, bisa hidup sangat makmur. Tetapi mereka membuang semua  kesempatan ini. Mereka memilih keluar masuk penjara. Karena perbuatannya  yang nyata ini dan luar biasa ini, rakyat menganggap dengan sendirinya  Presidennya ya mesti Bung Karno. Tidak ada pemilihan. Begitu juga yang  terjadi di India dengan Mahatma Gandhi dan Jahawarlal Nehru, dengan Ho  Chi Minh, dengan Sun Yat Sen, Chiang Kai Shek dan Mao Tze Tung, dengan  Lee Kuan Yew dan masih sangat banyak lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Dengan pak Harto bagaimana?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Pak Harto dengan rekan-rekannya, terutama Jenderal  Nasution sebagai seniornya bekerja keras memulihkan ketertiban. Karena  perbuatan kepemimpinannya yang nyata inilah rakyat menganggap dengan  sendirinya yang menjadi Presiden setelah Bung Karno Jenderal Nasution.  Beliau menolak. Karena itu barulah pak Harto diminta, dan beliaupun  menolak karena merasa tidak siap menjadi Presiden. Setelah diminta oleh  rakyat (MPR) di tahun 1968 barulah menerima jabatan yang diterimanya  sebagai tanggung jawab yang maha besar. Jadi, tidak menyombongkan dan  membesar-besarkan diri terlebih dahulu dengan maksud supaya tanpa <em>track record<\/em> yang besar menjadi Presiden. Tidak begitu! Bekerja keras mempertaruhkan  segala-galanya. Mana mungkin berpikir yang lain kecuali memulihkan  ketertiban? Karena <em>track record<\/em> yang nyata dan besar inilah rakyat menganggap dengan sendirinya pak Harto yang menjadi Presiden setelah pak Nas menolak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi Nasution, Soeharto, seperti halnya dengan Bung Karno bekerja  keras dahulu, dikenal oleh rakyat sebagai pemimpin sejati, dan baru  diminta oleh rakyat. Diminta, tidak dipilih dengan membeli suaranya  dalam berbagai bentuk!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Mad, kamu memang tidak mengerti sistem yang dirancang  secara ilmiah dan cermat, yang dibuatnya dengan menggunakan semua ilmu  pengetahuan yang relevan secara multidisipliner. Banyak bakat terpendam  yang tidak mungkin diketahui oleh rakyat banyak. Yang kau kemukakan itu  tadi perkecualian semua. Itupun di zaman dulu yang sekarang sudah  menjadi sejarah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Sebagai anak jalanan aku <em>ngerti<\/em>, Djang. Tapi coba  amati benar-benar. Kecuali beberapa Capres dan pasangannya Cawapres  tertentu saja, apa yang dikatakan dan dilakukan dalam kampanye? Yang  dilakukan selama kampanye tiada lain kecuali membangun citra.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Kau melebih-lebihkan. Capres dan cawapres itu punya  konsep. Masak Tim Sukses yang banyak Doktor dan bahkan Profesor itu  tidak bisa bikin konsep?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Ada, tapi mereka hanya mengemukakan apa yang ingin  dicapai, tidak mampu menjabarkan dalam kebijakan dan tindakan  operasional tentang bagaimana caranya mencapai semua hal yang  bagus-bagus itu. Semua orang ingin yang bagus-bagus, tapi tidak akan  terwujud kalau tidak mengerti bagaimana cara mencapainya. Terus ada yang  lucu sekali. Ketika menjabat, Presiden mempunyai Kementerian yang sudah  menjabarkan konsep tentang menjalankan pemerintahan dan pembangunan.  Tapi yang dikampanyekan lain sama sekali, karena disusun oleh ahli-ahli  sewaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Tidak aneh, karena Presiden sebagai Presiden lain dari  Presiden sebagai Calon Presiden, walaupun orangnya sama. Sebagai  Presiden dia menuruti produk Bappenas, apalagi sudah diadopsi oleh DPR  sehingga menjadi undang-undang. Sebagai Capres dia harus mengemukakan  ide-ide baru dengan Menteri-Menteri baru yang sudah ada dalam benaknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Kau sudah menjadi pokrol lagi. Presiden itu mempunyai hak  prerogatif untuk mengganti setiap Menterinya setiap saat. Mengapa harus  terpaku pada Menteri sekarang?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Karena berutang budi. Kan tadi kita berdiskusi tentang  utang untuk membiayai kampanye yang begitu mahalnya? Dari menteri yang  berjasa menjadikannya Presiden, dia tidak bisa main pecat begitu saja.  Kan sudah ada konsensus dan komitmen sebelumnya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Kecuali beberapa Capres tertentu, keinginannya menjadi  Presiden begitu besarnya bagaikan orang yang keranjingan. Sebenarnya apa  sih yang diinginkan?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Jelas ingin membela dan memakmurkan rakyatnya secara adil dan berdaulat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Apa iya, Djang? Begitu muliakah mereka? Dalam kenyataannya kok banyak yang hanya mengekor saja pada <em>Washington Consensus<\/em> dan mengikuti apa maunya lembaga-lembaga internasional dan negara-negara adikuasa?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dj<\/strong> : Ya itu lain, itu kan taktik?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>M<\/strong> : Ah taktik-taktik. Nanti bertaktik terus sampai negaranya jebol sama sekali. Maka sistem pemilu langsung <em>a la<\/em> AS dalam menentukan pimpinan negara bangsa dalam semua jenjang yang  dirancang oleh NDI harus kita hapus dan diganti dengan yang sudah lama  sekali kita kenal. Yaitu mencari pemimpin terbaik melalui musyawarah  untuk mencapai mufakat yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan. Dengan  sendirinya haruslah oleh orang-orang yang arif bijaksana, atau oleh <em>de wijze mannen van het volk<\/em>.  Di Eropa, pemilu Presiden memang ada. Tetapi kebanyakan Presidennya  hanya simbol. Yang berkuasa adalah Perdana Menteri, dan Perdana Menteri  tidak dipilih secara langsung oleh rakyat. Perdana Menteri dalam sistem  parlementer dipilih oleh parlemen yang dianggap terdiri dari orang-orang  yang menguasai masalah dan bijaksana.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap kali media massa gaduh tentang suatu hal, Djadjang dan Mamad selalu terlibat dalam perbincangan yang seru, karena keduanya sama tinggi IQ-nya, namun berbeda dalam pengalaman hidupnya. Mereka bersahabat sangat karib sampai dengan SMU. Setelah itu Djadjang belajar di universitas dan menjadi guru besar dalam ilmu politik. Mamad menjadi pekerja sosial di tengah-tengah rakyat jelata. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-22","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-politik"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22"}],"version-history":[{"count":4,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":25,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22\/revisions\/25"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/kwikkiangie.com\/v1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}