'

Kategori

Follow Us!

PRODUK DOMESTIK BRUTO MENGANDUNG BANYAK PENYESATAN DAN KOTORAN

Percakapan antara Djadjang dan Mamad

Para pejabat tinggi Indonesia berbesar hati, karena dalam resesi global, kondisi ekonomi Indonesia termasuk yang terbaik. Dikatakan bahwa pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tetap lebih tinggi dibandingkan dengan sangat banyak negara lain.

Seperti biasanya, kalau ada masalah yang sedang hangat menjadi bahan pembicaraan, Djadjang (Dj) dan Mamad (Mad) juga mendiskusikannya.

Mad : Wibawa pasangan SBY-Boediono memang luar biasa. Belum sampai memerintah, begitu dinyatakan sebagai pemenang, semua indikator ekonomi membaik, dan pers Barat sangat memujinya. Bukan hanya itu, dengan penuh keyakinan mereka beserta elit bangsa kita sendiri sudah meramalkan bahwa perekonomian kita akan tumbuh dan berkembang sangat bagus. Bagaimana pendapatmu Djang ?

Dj : Saya kurang paham tentang angka-angka indikatornya dan bagaimana alur pikirnya dengan angka-angka itu sebagai titik tolaknya.

Mad : Kan dijelaskan di mana saja, kapan saja dan kepada siapa saja, bahwa di tahun 2009 ini PDB akan meningkat dengan sekitar 5% sampai 6% dan tahun 2010 lebih meningkat lagi. Pak SBY mengatakan bahwa di tahun 2050 Indonesia termasuk salah satu negara yang ekonominya terbesar di dunia. Dengan meningkatnya PDB, pengangguran dan kemiskinan akan merosot drastis.

Dj : Sejak tahun 1967 sampai tahun 1998 PDB kita memang naik terus sebesar 7% rata-rata yang oleh pers Barat disebut keajaiban ekonomi. Tetapi itu tidak berarti pengangguran dan kemiskinan berkurang. Lebih-lebih lagi tidak benarnya kalau dikatakan kesejahteraan yang berkeadilan meningkat.

PDB adalah produksi barang dan jasa di Indonesia, tidak peduli siapa yang membuat barang dan jasa itu. Jadi kalau ceteris paribus ada satu perusahaan asing berinvestasi di Indonesia dengan 100 milyar dollar AS untuk mengeduk minyak, emas dan batu bara, semua kekayaan mineral yang diangkatnya dari dalam perut bumi Indonesia adalah PDB Indonesia. Semua mineral itu miliknya investor asing yang bersangkutan. Pemerintah Indonesia kebagian pajak dan royalti yang sangat kecil. Mereka juga mempekerjakan para buruh Indonesia, tetapi gajinya sangat rendah dibandingkan dengan perolehan mereka. Terus jumlahnya juga tidak banyak, karena pengedukannya dilakukan dengan alat-alat berat yang padat modal. Bagian terbesar dari perolehan itu miliknya investor asing tadi. Statistik kita mencatatnya sebagai PDB Indonesia. Terus barangnya diekspor. Statistik kita mencatat Ekspor Indonesia meningkat.

Jadi Mad, sebelum ada analisis yang rinci tentang bagaimana pembagian pendapatannya yang untuk pemerintah dan untuk rakyat, peningkatan PDB bisa berarti peningkatan pendapatan sangat besar buat investornya.

Mad : Djang, yang berinvestasi kan bukan hanya asing ? Tengok itu Medco, Bumi Resources dan Adaro. Semuanya kan pengusaha Indonesia ?

Dj : Aku ngerti Mad. Tadi aku mencontohkan asing, karena asing modalnya berlipat-lipat ganda besarnya. Kalau orang Indonesia yang mendapat izin untuk mengeduk kekayaan mineral yang mahal harganya itu, dampaknya sama. Mereka yang menjadi sangat kaya raya. Pemerintah menerima pajak dan royalti yang kecil sekali. Kaum buruhnya menerima upah yang rendah, yang besarnya mungkin hampir mirip dengan kuli-kuli perkebunan zaman penjajahan Belanda dahulu.

Mad : Tentang PDB tadi kamu menggunakan asumsi ceteris paribus atau semua faktor lainnya dianggap konstan. Itu kan tidak benar ? Sangat jelas bahwa UKM mempunyai andil besar dalam pembentukan PDB, bukannya satu investor membawa masuk uang sebesar US$ 100 milyar dan lantas meningkatkan PDB.

Dj : Coba kita lihat angka-angkanya. Setelah PDB tumbuh dengan rata-rata 7% per tahun sejak tahun 1967 selama 32 tahun, pada tahun 2007, jumlah UKM sebanyak 49.840.469 buah perusahaan. Jumlah perusahaan besar sebanyak 4.527 perusahaan. Dalam persentase jumlah UKM 99,99 % dan jumlah perusahaan besar hanya 0,01 %. Tetapi dalam sumbangannya pada PDB, perusahaan besar yang hanya 0,01 % itu menyumbang 46 % dalam pembentukan PDB, sedangkan UKM yang sebanyak 99,99 % perannya dalam pembentukan PDB hanya 54 %.

Kalau kita rata-ratakan, setiap perusahaan besar menyumbang pada PDB sebesar Rp. 406 milyar per tahun, sedangkan setiap perusahaan UKM sumbangannya hanya sebesar Rp. 43 juta per tahun. Ini berarti bahwa sumbangan setiap perusahaan besar pada PDB sebesar 9.400 kali lipat dari sumbangan oleh perusahaan berskala UKM.

Mad : Angka-angka itu kan tidak otomatis mencerminkan pembagian dalam menikmati PDB atau keadilan ?

Dj : Memang, tetapi boleh dikatakan bahwa pengusaha yang membentuk PDB itulah yang juga menikmati bagian terbesar dari PDB yang dibentuk olehnya. Memang ada penciptaan lapangan kerja, tetapi mereka pegawai dengan gaji rendah. Memang ada multiplier effect, tetapi wujudnya sebagian besar dalam bentuk kesempatan perluasan investasi yang dilakukan dan dinikmati oleh usaha berskala besar lagi. Memang ada pendapatan pajak, tetapi karena adanya korupsi tidak sepenuhnya masuk ke kas negara.

Mad : Kamu kan harus mengakui bahwa dibandingkan dengan dahulu, kita sudah sangat banyak mempunyai industri manufaktur dengan andilnya yang besar dalam pembentukan PDB ?

Dj : Memang, tetapi kalau setelah 64 tahun merdeka sifatnya masih didomonasi oleh perakitan dan tukang jahit ya tidak begitu membanggakan, sedangkan negara-negara Asia lainnya yang merdeka pada waktu yang bersamaan sudah jauh lebih mandiri dalam arti full manufacturing.

Kecuali itu, beberapa tahun terakhir perannya dalam pembentukan PDB juga digeser oleh sektor pertambangan.

Angka-angkanya sebegai berikut. Peran atau andil industri manufaktur dalam pembentukan PDB cukup signifikan, yaitu 21,6% di tahun 2006, 27,06% di tahun 2007 dan 27,87% di tahun 2008. Namun pertumbuhan industri manufakturnya sendiri menurun, yaitu 5,27% di tahun 2006 menjadi 5,15% di tahun 2007 dan 4,05% di tahun 2008.

Bahwa PDB masih meningkat karena perannya industri manufaktur yang relatif padat karya diambil alih oleh sektor pertambangan (migas dan non migas) yang sangat padat modal. Angka-angkanya sebagai berikut : 9,91% di tahun 2006, 10% di tahun 2007 dan 9,7% di tahun 2008.

Mad : Sekarang ini, dalam resesi global, negara yang pertumbuhan PDB-nya masih tinggi adalah China. Mereka juga sangat mengandalkan pertumbuhan PDB.

Dj : Pandangan para pemimpin China dalam hal pertumbuhan PDB mereka tidak seperti yang dibanggakan oleh dunia. Mereka sendiri tidak terlampau bangga. Hu Angang, ekonom dari Tsinghua University menyatakan bahwa GDP China yang tumbuh hebat itu pertumbuhan GDP “hitam”. Pertumbuhan ini menyebabkan kerusakan lingkungan yang luar biasa. Kalau dampak kerusakannya dikurangkan, baru diperoleh pertumbuhan GDP “hijau”. Presiden Hu Cintao menambahkan bahwa pertumbuhan GDP itu sangat dikotori oleh korupsi. Kalau ini dikurangkan, pertumbuhan GDP-nya disebut pertumbuhan GDP “putih”. Kepala Badan Perencanaannya, Ma Kay menyatakan bahwa kalau pola pertumbuhannya tidak diubah, pertumbuhan PDB China tidak akan berlanjut.

Jadi Mad, ketika dunia masih memuja-muji pertumbuhan PDB China yang begitu hebat, mereka sendiri tidak merasa bangga, karena merusak lingkungan, mengakibatkan korupsi luar biasa dan ketidak adilan hebat yang akan diperangi atas perintah sidang Kongres Rakyat belum lama berselang.

Paradigmanya Deng Xiaoping bahwa “warna kucing tidak penting, asalkan bisa menangkap tikus” sudah berubah. Mereka sekarang mengatakan kucingnya harus berwarna hijau supaya tidak merusak lingkungan atau berwarna putih supaya bebas korupsi.

Buat para ekonom China, prinsip-prinsip Washington Concensus tidak pernah dipahami. Mereka mengembangkan kebijakannya sendiri seperti yang ditulis oleh Joshua Cooper Ramo dalam bukunya yang berjudul “The Beijing Concensus”.

Jika anda menyukai artikel ini, silahkan memberikan komentar atau berlangganan RSS feed untuk menyebarkan ke pembaca feed anda.

There are no responses so far

Leave a Reply