'

Kategori

Follow Us!

Istilah Subsidi BBM Menyesatkan. Mengapa Dipakai Untuk Menaikkan Harga Lagi?? (Artikel 1)

Dalam tulisan ini saya membuat beberapa kalkulasi tentang jumlah uang yang masuk karena penjualan BBM dan uang yang harus dikeluarkan untuk memproduksi dan mengadakannya. Hasilnya pemerintah kelebihan uang. Mengapa dikatakan pemerintah harus mengeluarkan uang untuk memberi subsidi, sehingga APBN-nya jebol. Dan karena itu harus menaikkan harga BBM yang sudah pasti akan lebih menyengsarakan rakyat lagi setelah kenaikan luar biasa di tahun 2005 sebesar 126%.

Mari kita segera saja melakukan kalkulasinya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Menteri Ani) memberi keterangan kepada Rakyat Merdeka yang dimuat pada tanggal 24 April 2008.

Angka-angka yang dikemukakannya adalah angka-angka yang terakhir disepakati antara Pemerintah dan DPR, yang sekarang tentunya sudah ketinggalan lagi.

Maka dalam perhitungan yang saya tuangkan ke dalam tiga buah Tabel Kalkulasi saya menggunakan angka-angkanya Menteri Ani yang diperlukan untuk mengetahui berapa persen bagian bangsa Indonesia dari minyak mentah yang dikeluarkan dari perut bumi Indonesia. Berapa jumlah penerimaan Pemerintah dari Migas di luar pajak. Jadi yang saya ambil angka-angka yang masih dapat dipakai walaupun banyak angka yang sudah ketinggalan oleh perkembangan, seperti harga minyak mentahnya sendiri. Angka kesepakatan antara Pemerintah dan Panitia Anggaran harga minyak masih US$ 95 per barrel. Sekarang sudah di atas US$ 120. Saya mengambil US$ 120 per barrel.

Keseluruhan data dan angka yang menjadi landasan kalkulasi saya tercantum dalam tabel-tabel kalkulasi yang bersangkutan.

Setiap Tabel kalkulasi sudah cukup jelas. Untuk memudahkan memahaminya, saya jelaskan sebagai berikut.

Menteri Ani antara lain mengemukakan bahwa lifting (minyak mentah yang disedot dari dalam perut bumi Indonesia) sebanyak 339,28 juta barrel per tahun. Dikatakan bahwa angka ini tidak seluruhnya menjadi bagian Pemerintah. (baca : bagian milik bangsa Indonesia). Kita mengetahui bahwa 90% dari minyak kita dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan minyak asing. Maka mereka berhak atas sebagian minyak mentah yang digali. Berapa bagian mereka? Menteri Ani tidak mengatakannya. Tetapi kita bisa menghitungnya sendiri berdasarkan angka-angka lain yang dikemukakannya, yaitu sebagai berikut.

Menteri Ani memberi angka-angka sebagai berikut.

Lifting : 339,28 juta barrel per tahun
Harga minyak mentah : US$ 95 per barrel
Nilai tukar rupiah : Rp. 9.100 per US$
Penerimaan Migas diluar pajak : Rp. 203,54 trilyun.

Dari angka-angka tersebut dapat dihitung berapa hak bangsa Indonesia dari lifting dan berapa persen haknya perusahaan asing. Perhitungannya sebagai berikut.

Hasil Lifting dalam rupiah : (339.280.000 x 95) x Rp. 9.100 = Rp. 293,31 trilyun.

Penerimaan Migas Indonesia : Rp. 203,54 trilyun. Ini sama dengan (203,54 : 293,31) x 100 % = 69,39%. Untuk mudahnya dalam perhitungan selanjutnya, kita bulatkan menjadi 70% yang menjadi hak bangsa Indonesia.

Jadi dari sini dapat diketahui bahwa hasil lifting yang miliknya bangsa Indonesia sebesar 70%. Kalau lifting seluruhnya 339,28 juta barrel per tahunnya, milik bangsa Indonesia 70% dari 339,28 juta barrel atau 237,5 juta barrel per tahun.

Berapa kebutuhan konsumsi BBM bangsa Indonesia? Banyak yang mengatakan 35,5 juta kiloliter per tahun. Tetapi ada yang mengatakan 60 juta kiloliter. Saya akan mengambil yang paling jelek, yaitu yang 60 juta kiloliter, sehingga konsumsi minyak mentah Indonesia lebih besar dibandingkan dengan produksinya.

Produksi yang haknya bangsa Indonesia : 237,5 juta kiloliter.

Konsumsinya 60 juta kiloliter. 1 barrel = 159 liter. Maka 60 juta kiloliter sama dengan 60.000.000.000 :159 = 377,36 juta barrel.

Walaupun kesepakatan antara Pemerintah dan DPR seperti yang dikatakan Menteri Ani tentang harga minyak mentah US$ 95 per barrel, saya ambil US$ 120 per barrel.

Walaupun kesepakatan antara Pemerintah dan DPR seperti yang diungkapkan Menteri Ani tentang nilai tukar adalah Rp. 9.100 per US$, saya ambil Rp. 10.000 per US$.

Tabel III (click tabel)

Hasilnya seperti yang tertera dalam Tabel III, yaitu Pemerintah kelebihan uang tunai sebesar Rp. 35,71 trilyun, walaupun dihadapkan pada keharusan mengimpor dalam memenuhi kebutuhan konsumsi rakyatnya. Produksi minyak mentah yang menjadi haknya bangsa Indonesia 237,5 juta barrel. Konsumsinya 60 juta kiloliter yang sama dengan 377,36 juta barrel. Terjadi kekurangan sebesar 139,86 juta barrel yang harus dibeli dari pasar internasional dengan harga US$ 120 per barrelnya dan nilai tukar diambil Rp. 10.000 per US$. Toh masih kelebihan uang tunai.

Tabel I (click tabel)

Apalagi kalau kita merangkaikan semua data kesepakatan terakhir antara Pemerintah dengan Panitia Anggaran DPR. Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Ani kepada Rakyat Merdeka tanggal 24 April yang lalu kesepakatannya adalah sebagai berikut.

Lifting : 339,28 juta barrel per tahun
Harga : US$ 95 per barrel
Nilai tukar : Rp. 9.100 per US$
Penerimaan Migas di luar pajak : Rp. 203,54 trilyun.

Kalkulasi tentang uang yang harus dikeluarkan dan uang yang masuk seperti dalam Tabel I.

Kita lihat dalam Tabel I tersebut bahwa kelebihan uang tunainya sebesar Rp. 82,63 trilyun. Ketika itu Pemerintah sudah teriak bahwa kekurangan uang dalam APBN dan minta mandat dari DPR supaya diperbolehkan menggunakan uang APBN sebesar lebih dari Rp. 100 trilyun, yang disetujui oleh DPR.

Tabel II (click tabel)

Dalam Tabel II saya mengakomodir pikiran teoretis dari Pemerintah yang mengatakan bahwa Pertamina harus membeli minyak mentahnya dari Menteri Keuangan dengan harga internasional yang dalam kesepakatan antara Pemerintah dan Panitia Anggaran US$ 95 per barrel dan nilai tukar ditetapkan Rp. 9.100 per US$.

Seperti dapat kita lihat, hasilnya memang Defisit sebesar Rp. 122,69 trilyun. Tetapi uang yang harus dibayar oleh Pertamina kepada Menteri Keuangan yang sebesar Rp. 205,32 trilyun kan milik rakyat Indonesia juga? Maka kalau ini ditambahkan menjadi surplus, kelebihan uang yang jumlahnya Rp. 82,63 trilyun, persis sama dengan angka surplus yang ada dalam Tabel I.

MENGAPA?

Mengapa Pemerintah mempunyai pikiran bahwa subsidi sama dengan pengeluaran uang tunai? Mengapa DPR menyetujuinya? Itulah yang menjadi pertanyaan terbesar buat saya yang sudah saya kemukakan selama 10 tahun dalam bentuk puluhan tulisan di berbagai media massa. Dibantah tidak, digubris tidak.

Sekarang saya mengulanginya lagi, karena masalahnya sudah menjadi kritis dalam dua aspek. Yang pertama, kesengsaraan rakyat sudah sangat parah. Kedua, kenaikan harga BBM lagi bisa memicu kerusuhan sosial. Kali ini jangan main-main. Semoga saya salah.

PIKIRAN BINGUNG YANG ZIG-ZAG

Ketika harga BBM di tahun 2005 dinaikkan dengan 126%, bensin premium menjadi Rp. 4.500 per liter. Ketika itu, harga bensin ini ekivalen dengan harga minyak mentah sebesar US$ 61,5 per barrel.

Pemerintah mengatakan bahwa mulai saat itu sudah tidak ada istilah subsidi lagi, karena harga BBM di dalam negeri sudah sama dengan harga minyak mentah yang setiap beberapa kali sehari ditentukan oleh New York Mercantile Exchange. Memang betul, bahkan lebih tinggi sedikit, karena ketika itu harga minyak mentah US$ 60 per barrel.

Ketika harga minyak mentah turun sampai sekitar US$ 57 dan Wapres JK ditanya wartawan apakah harga BBM akan diturunkan, beliau menjawab “tidak”. Lantas harga minyak meningkat sampai US$ 80. Wartawan bertanya lagi kepadanya, apakah harga BBM akan dinaikkan? Dijawab : “Tidak, dan tidak akan dinaikkan walaupun harga minyak mentah meningkat sampai US$ 100 per barrel.”

Lantas Presiden mengumumkan bahwa kalau harga minyak sudah US$ 120 pemerintah akan kekurangan uang untuk memberikan subsidi kepada rakyatnya dalam jumlah besar, sehingga APBN akan jebol. Maka terpaksa menaikkan harga BBM pada akhir Mei dengan sekitar 30 %. Jadi sangatlah jelas bahwa Presiden menganggap subsidi BBM sama dengan uang tunai yang harus dikeluarkan oleh Pemerintah.

Pada tanggal 13 Mei jam 22.05 Metro TV menayangkan Today’s Dialogue, di mana Wapres Jusuf Kalla mengakui bahwa pemerintah akan kelebihan uang, yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur.

Jadi dalam pengadaan BBM pemerintah kekurangan uang karena harus memberikan subsidi, atau kelebihan uang yang akan dipakai untuk membangun infrastruktur?

Penutup

Tulisan ini baru awal dari sebuah perdebatan publik. Ayo, saya mohon dibantah. Wahai media televisi, selenggarakanlah debat publik tanpa batas waktu siapa yang benar dan siapa yang salah? Buat urusan perut rakyat yang termiskin yang notabene pemilik minyak, janganlah lebih mementingkan iklan – iklan.

Tunggu artikel-artikel berikutnya di KoranInternet ini. Artikel-artikel berikutnya akan membahas masalah penentuan harga BBM untuk rakyatnya ini dari segi disiplin ilmu cost accounting beserta landasan falsafahnya yang nampaknya tidak dikuasai dan tidak dipahami oleh para teknokrat, tetapi selalu bersikap gebrak dulu dengan sikap ”biar bodoh asal sombong”. Pokoknya gebrak dan gertak. Boleh – boleh saja, tetapi kalau lantas menyengsarakan rakyat ya ayolah berdebat keras!

Jika anda menyukai artikel ini, silahkan memberikan komentar atau berlangganan RSS feed untuk menyebarkan ke pembaca feed anda.

41 responses to "Istilah Subsidi BBM Menyesatkan. Mengapa Dipakai Untuk Menaikkan Harga Lagi?? (Artikel 1)"

  1. dea Juli 5th, 2011 14:35 pm Balas

    saya buka orang ekonomi sama sekali pak, tapi saya suka dengan pendapat bapak ini.saya rasa logika sederhana ini bisa diterima orang awam macam saya.jadi, semoga perjuangan bapak dapat didengar seluruh rakyat indonseia.Sehingga rakyat indonesia menjadi tahu apa itu subsidi.

  2. sulaiman Agustus 18th, 2011 01:33 am Balas

    saya menjadi banyak tahu dari tulisan pak kwik, bahwa kami selama ini terlalu bodoh sehingga mudah dibohongi, kenapa kami begitu mengagungkan negara lain padahal mereka merampok kita,

    terimakasih banyak pak.

  3. Andri Novi Februari 13th, 2012 08:58 am Balas

    Tulisan ini semakin relevan saja Pak Kwik, tetapi mengapa sekarang pendapat seperti ini seperti dibungkam?

  4. phirman Februari 25th, 2012 21:37 pm Balas

    bagus skali pak kajiannya dan mudah d cerna secara sederhana…. tolong d genjot terus pa pemerintah, kami mahasiswa siap dukung,. saya dr makassar mohon infonya pak klw ada yg bisa d bantu demi perbaikan bangsa. 085231719771.

  5. Vega Maret 2nd, 2012 17:11 pm Balas

    Jika benar apa yang Bapak tulis, berarti selama ini pemerintah melakukan pembohongan publik?

  6. Langgeng Maret 6th, 2012 13:21 pm Balas

    saya klik tabelnya kok “Has Been Suspended”, pak?

  7. ferry Maret 6th, 2012 20:15 pm Balas

    malam P. Kwik saya nonto di Metro TV hari ini dan saya sedikit menyimak perhitungan anda tentang BBM yang anda jabarkan sehingga kita tau bahwa harga BBM kita sekarang sebenarnya sudah terlalu tinggi

  8. adjie Maret 7th, 2012 05:59 am Balas

    Absolutelly agree Pak Kwik, mereka harus dicerahkan….

  9. cahyo Maret 7th, 2012 15:45 pm Balas

    bagus, pak??? saya saya setuju dengan hitung-hitungan anda pak?? uang kelebihanya itu kemana ea pak???? kenapa pemerintah seperti ini???? saya sangat mendukung bapak untuk memeperjuangkan hak rakyat?
    kenapa realinya seperiti ini, pak????

  10. RWB Maret 8th, 2012 08:38 am Balas

    Pak ada beberapa yang mau saya tanyakan ?
    1. Dari penerimaan migas yang 203.54T itu, kan harus ada lagi yang dibayarkan ke KKKS sebagai cost recovery? Kenapa beban dana cost recovery ini tidak masuk dalam perhitungan anda?
    2. Setau saya, produksi minyak indonesia adalah heavy crude oil, sedangkan minyak yang diproses utk BBM dll adalah sweet oil. Harga heavy crude oil adalah lebih rendah daripada sweet oil. Jadi jgn disamakan antara harga minyak yag kita ekspor (jadi penerimaan negara) dgn harga minyak yang harus kita impor untuk memenuhi konsumsi BBM.

    1. Raja Maret 22nd, 2012 10:46 am Balas

      sodara masak harga impor menyesuaikan harga minyak mentah internasional yang tinggi sedangkan harga ekspor hanya dihargai lebih rendah, jika alasannya kualitas, dimana peran pemerintah dalam negosiasi dan peningkatan pengolahan, saya yakin ketika analisis ini dilengkapi dengan atestasi maka tidak terbantahkan lagi. usulnya pak kwik dapat bekerja dengan membentuk tim agar mendapat jasa assurance dari profesional migassebaiknya juga ditambahkan dengan akuntan publik.

    2. fatra Maret 23rd, 2012 21:40 pm Balas

      Cuplikan, comentar yang saya Seyuju..!!!!!!
      1. Dari penerimaan migas yang 203.54T itu, kan harus ada lagi yang dibayarkan ke KKKS sebagai cost recovery? Kenapa beban dana cost recovery ini tidak masuk dalam perhitungan anda?
      2. Setau saya, produksi minyak indonesia adalah heavy crude oil, sedangkan minyak yang diproses utk BBM dll adalah sweet oil. Harga heavy crude oil adalah lebih rendah daripada sweet oil. Jadi jgn disamakan antara harga minyak yag kita ekspor (jadi penerimaan negara) dgn harga minyak yang harus kita impor untuk memenuhi konsumsi BBM.

      Intinya adalah, Semua yang KONTRA dengan pemerintah apapun yang dilakukan pemerintah akan dianggap salah secara Lisan dan tulisan TAPI entah DI DALAM HATI. Melangkah dengan kaki kiri dulu salah, Melangkah dengan kaki kanan dulu juga salah. Jadi kalau mendengar pendapat, membaca tulisan, comment, dll. dari orang-orang Politik saya anggap hanya banyolan Politik.
      Apapun yang keluar dari pemikiran Para Politisi pasti untuk MERUGIKAN/MENYUDUTKAN LAWAN dan MENGUNTUNGKAN KAWAN/PRIBADI…
      Terima Kasih..

  11. Erick Larunsedu Maret 8th, 2012 10:01 am Balas

    Woowww……artikelnya sangat berguna. Andai ini benar, berarti Pemerintah telah melakukan pembohongan selama ini. Cuma sayang pak, link untuk buka tabelnya sudah tidak bisa dibuka (account suspended). Mohon tabelnya diinput lagi pak, Terima kasih banyak. Semoga bangsa ini lebih banyak orang-orang yang memiliki pemikiran seperti pak Kwik, sehingga bangsa ini akan semakin maju. Bravo Indonesia…….

  12. rakyat jelata Maret 8th, 2012 13:05 pm Balas

    pa, tabelnya ga bisa di liat. Account Suspended. mohon di benerin pa.. pengen liat datanya sayah.

  13. Jackson Maret 9th, 2012 14:58 pm Balas

    Kajian bapak sangat jelas , orang awam seperti saya saja mengerti dengan kajian diatas…….
    cuman mau klik tabelnya kok account suspended….lanjutkan Pak !!!

  14. Angga Maret 12th, 2012 18:40 pm Balas

    Itulah, para pejabat saat ini kan direkrut bukan karena prestasi tapi karena skill yang tinggi. Apa itu? skill tukang tidur, sehingga mereka hanya bisa menghitung dalam mimpi dan seperti inilah jadinya.

  15. Vulgus Maret 12th, 2012 22:09 pm Balas

    Pak Kwik, link table nya dibetulin dong. Keluarnya Account suspended.
    Maaf nih saya bukan ahli ekonomi. Saya cuma pakai itung2an di toko aja deh. Yang saya mau tanya simple aja: Dengan kenaikan harga minyak (sesuai harga NY) dan kita jual BBM tanpa kenaikan harga, apakah Laba BBM kita akan naik atau turun? (Setelah dihitung expor, impor, biaya pengelolaan, distribusi dll). Kalau labanya turun ya jelas pemerintah tekor dong. Kan kita bisa membangun tuh dari Laba itu (anggap pendapatan/laba dari sektor yang lainnya misalnya tetap). Kalau ternyata labanya malah naik, ya pemerintah kurang ajar. Itu baru namanya penipuan publik. Kalau labanya turun kan pemerintah ngga bisa mengorbankan pembangunan yang lainnya (infrastruktur, pendidikan, kesehatan dll, sayangnya termasuk korupsinya hiks). Mungkin analisa simple saya salah juga. Mungkin bisa lebih dicerahkan.

  16. arief rakhman Maret 12th, 2012 22:18 pm Balas

    Kalaupun betul terjadi defisit APBN akibat subsidi yg real (cash), apakah mutlak subsidi minyak harus ditutupi secara paralel dengan menaikan harga minyak (yg harus dibeli rakyat) juga?? apakah tidak bisa berlaku subsidi silang? toh masih sangat banyak komponen ekonomi yg dapat dipungut dari dinamika ekonomi dan kepemilikan rakyat golongan atas saja tanpa ikut menyeret rakyat golongan miskin menjadi tambah susah??

  17. HENDRO SUBEKTI Maret 13th, 2012 07:19 am Balas

    Dear Pak Kwik….Merdeka..!!

    Saya membuka kembali tulisan diweb bapak karena pemerintah kembali menaikkan BBM April 2012. Tulisan bapak mengenai istilah subsidi BBM kembali relevant utk diingat lagi, agar masyarakat tidak mudah dijerumuskan lagi dengan istilah BBM Subsidi.

    selamat berjuang pak Kwik
    Hendro

  18. Bang P M Maret 14th, 2012 14:29 pm Balas

    Lalu minyak mentah yang diambil dari perut bumi Indonesia itu tak ada harganya alias gratis (cuma perlu biaya “ngebor” tok)? Tidakkah (minyak kita sendiri) itu harus pula dihargai sesuai harga pasar dan uang hasil penjualannya digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Rakyat bukan hanya konsumen BBM sekarang, tapi penduduk Indonesia yang akan datang!
    mengikuti jalan pikiran Anda, maka semua SDA (termasuk minyak bumi) boleh kita pake sekarang semaunya (karena harganya nol) tanpa harus menyisakan untuk generasi nanti. apakah ilmu ekonomi yang anda pelajari menyuruh anda berpandangan seperti itu? weleh – weleh…..

    1. David Maret 25th, 2012 04:00 am Balas

      Saya orang awam, tapi saya bisa terima maksud anda. Tapi yang menjadi pertanyaan kan bukan bagaimana harus save untuk generasi ke depan. Untuk menyimpan cadangan untuk generasi ke depan, kita justru harus irit dengan pemakaian BBM.
      Yang dimaksud dengan Pak Kwik, ini lebih ke arah pemerintah melakukan pembohongan publik.
      Anda pikirkan sekarang, uang kelebihan yang masuk ke pemerintah, lalu di korupsi, dipakai oleh pejabat dll, apakah anda mau itu terjadi?? Lebih baik untuk rakyat daripada melihat pejabat pada kaya raya karena kita lalai dan dibohongi.

      Salam

  19. Sudarjanto Maret 15th, 2012 14:28 pm Balas

    Subsidi BBM menurut saya adalah suatu bentuk manipulasi sejak jaman orde baru semakin diperparah pada jaman Reformasi,dimana uang Rakyat yang seharusnya untuk membangun negara dikembalikan kepada Rakyat dalam bentuk sedekah BLT,BLSM oleh Penguasa,Uang Negara/Uang Rakyat digunakan untuk berfoya foya bukan untuk membangun industri dalam negeri,Sumber Daya Alam dan Sumber daya Manusia dikirim keluar negeri dengan harga murah sementara pembangunan menggunakan Hutang Luar Negeri yang nantinya akan menjadi beban Rakyat yang akan datang,inilah hasil sebuah Kontra Revolusi yang menjatuhkan Bung Karno itu

  20. Metta Dharmasaputra Maret 19th, 2012 01:28 am Balas

    Saya mencoba membuka tabel 1 s/d 3, tapi tidak bisa. Hanya bertuliskan: this account has been suspended.

  21. budi Maret 19th, 2012 09:42 am Balas

    pak kwik, ini semua berpangkal pada metode perhitungan pemerintah menggunakan akuntansi accrual basis bukan cash basis. saya condong untuk menggunakan cash basis dalam pengelolaan keuangan negara agar lebih fair.

  22. Abdul Aziz M Maret 21st, 2012 00:56 am Balas

    Pak Kwik yg saya hormati, sejak lama tertarik dan setuju dengan argumentasi pak Kwik, bahwa istilah subsidi BBM adalah tidak benar, pembodohan dan menyesatkan. Saya merasa heran istilah ‘subsidi BBM’ ini terus menerus aja diulang-ulang oleh pihak-pihak yang berkepentingan atau yang tidak mengerti. Malam ini, 20 maret 2012, saya menyimak argumentasi pak Kwik di TV One yang dibenarkan oleh pak Anggito Abimanyu, dan memang selama ini saya belum mendapati argumen yang bisa mematahkan argumen pak kwik tsb. Saya menjadi semakin yakin sepakat dengan argumentasi tsb. Anehnya argumentasi yang demikian clear dan kuat ini, tidak digubris oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab mengambil keputusan. Ada apa sebenarnya dengan semua ini?? Bagi yang ingin membaca tulisan pak kwik bisa dilihat di http://kwikkiangie.com/. Dengan ini menyatakan; Menolak kenaikan BBM!!! Hentikan pembodohan dan pemiskinan rakyat!!!.

  23. Antok Maret 21st, 2012 09:05 am Balas

    Maaf pak kwik, sepertinya perhitungan anda masih kurang sempurna. Saya mengerti kalau anda itu seorang ekonom jadi mungkin kurang mengerti hal yg sifatnya teknis. Perlu diketahui bahwa 1L minyak mentah jika disuling tidak akan menghasilkan 1L premium, secara teori (tergantung kualitas jenis minyak mentahnya) efisiensinya hanya 20-40% yg akan menjadi gasoline (premium).. sisanya adalah kerosene (minyak tanah), solar, avtur, aspal, dll
    jadi menurut saya perhitungan anda terlalu menyederhanakan masalah dengan asumsi 1L minyak mentah akan menghasilkan 1L premium. asumsi ini jelas akan ditolak oleh semua orang yg mengetahui teori penyulingan minyak karena memang bukan seperti itu kenyataannya. akan tetapi akan terlalu kompleks jika anda menghitung dengan memasukkan penerimaan pertamina dr hasil2 penyulingan lainnya dan perlu diingat juga bahwa subsidi bbm bukan hanya untuk premium, tapi juga untuk solar dan minyak tanah. Terima kasih

  24. Irwan Effendi Maret 23rd, 2012 00:31 am Balas

    Ada 3 hal yang pak Kwik tidak masukkan dalam pembahasan ini:

    1. Perjanjian eksplorasi minyak di Indonesia, klausulnya selalu mencantumkan bahwa pihak yang melakukan eksplorasi memiliki opsi antara memberikan hak Indonesia dalam bentuk minyak atau dalam bentuk cash dengan harga sesuai pasar di NY. Silahkan dibantah kalau saya keliru.
    2. Penyelundupan bahan bakar selalu marak setiap perbedaan harga di Indonesia cukup jauh dibandingkan pasaran luar negeri, modus operandinya juga sederhana, hanya mengisi penuh tangki-tangki kapal pengangkut barang yang tidak bermuatan. Silahkan dibantah juga kalau saya keliru

    berdasarkan point 1 dan 2 diatas, pilihannya sederhana, mau ngasih makan penyelundup atau mau ngasih jatah orang-orang di pemerintahan? lah yang milih duduk di pemerintahan masa pake ditanya lagi?

    :)

  25. Sikap Saya Terhadap Kenaikan BBM « Buah Pemikiran Seorang Sarjana Muslim Maret 28th, 2012 21:48 pm Balas

    [...] Lalu muncul analisis ekonom Pak Kwik yang menjelaskan bahwa harga minyak naik, pemerintah masih untung, jadi ga perlu naik. Liat link berikut. [...]

  26. Kenaikan Harga BBM, Hal Tepat di Waktu yang Salah? « salamduajari Maret 29th, 2012 01:54 am Balas

    [...] http://kwikkiangie.com/v1/2011/03/istilah-subsidi-bbm-menyesatkan-mengapa-dipakai-untuk-menaikkan-ha… [...]

  27. rasih Maret 29th, 2012 03:45 am Balas

    ini link tabel yg digunakan pak kwik ketika menghitung kenaikan pada thn 2008

    mungkin tidak sama, tapi bisa jadi acuan bagi teman-teman untuk memperjelas.

    http://ma6ma.wordpress.com/2008/05/24/naiknaik-bbm-naik-tinggitinggi-sekali/

    1. hilmiy Maret 29th, 2012 03:49 am Balas

      ya ini emang tabel yang di maksud om kwik di atas, bukan tabel untuk menghitung kenaikan di thn 2008

  28. Guh Maret 31st, 2012 12:45 pm Balas

    Pak, masih hidup?

    Linknya mati tuh, sudah membusuk. Account Suspended sehingga tabel tak bisa dilihat.

    Mohon upload referensi yang penting-penting di blog gratisan saja macam blogspot, wordpress atau posterous dll, agar tidak ada masalah akun suspended dan isinya lenyap hanya karena pembantu lupa bayar hosting/domain.

    Mohon bapak segera mendengar dan menindaklanjuti aspirasi pemirsa di sini :)

  29. Awie April 1st, 2012 21:49 pm Balas

    Menurut saya, sebagai seorang ahli ekonomi, hitung-hitungan Bapak justru terlalu sederhana untuk menggambarkan keuangan sebuah negara. Perlu diingat, Indonesia saat ini sudah bukan lagi produsen minyak bumi, melainkan konsumen. Minyak bumi yang dipakai negara ini diimport dari negara2 produsen minyak. Kapasitas produksi minyak bumi Indonesia lebih kecil daripada konsumsi rakyat. Sudah sewajarnya jika harga beli mengikuti harga minyak dunia. Arab Saudi sekalipun yang dikategorikan sebagai negara produsen, tidak akan serta merta menggunakan hasil produksinya untuk negaranya sendiri tanpa mempertimbangkan harga minyak dunia.

    Logika lain, jika memang selama ini subsidi BBM itu adalah sebuah kebohongan besar, mengapa tidak ada satupun mantan presiden atau wakilnya yang berani menyampaikan hal ini ke publik?

    Atau, bagaimana jika Anda mencalonkan diri sebagai presiden dan mencoba memimpin negara ini dengan hitung-hitungan Anda diatas? Jaman Anda masih menjabat sebagai Menteri Ekonomi saja tidak membawa dampak apapun bagi Indonesia, sekarang Anda malah menyampaikan sebuah hal yang saya yakin, tidak dapat Anda buktikan. Kenapa tidak Anda buka hal ini sewaktu Anda menjabat? Apa yang Anda sampaikan ini saya kira sebuah pernyataan sesat.

  30. Tri sugito Mei 16th, 2013 11:17 am Balas

    saya sebagai rakyat biasa sgt suka dgn tulisan anda pak ,
    sgt mencerahkan. agar rakyat tahu kebenaran.
    tdk di bodohi trs.

  31. Abong Juni 13th, 2013 07:28 am Balas

    Sangat mencerahkan Pak, harusnya rakyat ditak dijadikan komoditas politik dan dipermainkan dengan cara yang dilakukan pemerintah sekarang. terus maju Pak.

  32. Senin (17 Juni 2013) : Sebuah Aksi, Sebuah Peringatan | My Web Note Juni 22nd, 2013 06:46 am Balas

    [...] Saya rasa sudah tidak perlu penjelasan lagi dari saya terkait hal ini. Kalau mau sumber yang benar-benar valid, buka link ini. [...]

  33. resep masakan Juli 3rd, 2013 01:59 am Balas

    Subsidi BBM kosa kata yang menyesatkan rakyat

  34. deddi rachadhi soepeno Januari 5th, 2014 07:14 am Balas

    secara orang awam pun sudah nampak jelas dari kedudukan sebagai negara penghasilan minnya hanya, kita di bodohi sendiri tidak mau menyisihkan dana untuk mem,buat kilang proses minyak dari hasil minyak tersebut dan pola pikirnya yang sempit, jual bahan mentah tidak mau ripuh mengurus/membangun kilang….karena linglung. jadi semua itu sudah menghianati UUD 45 PASAL 33. PADAHAL SEMUA SUDAH JELAS SAAT KEMERDEKAAN NKRI ini setuju dengan undang2, muka dimah dan seluruh pasal pasalnya yang simpel tapi padat maksud isinya, tidak cuap-cuap tanpa arti dan bobot maksudnya.

  35. resep maskan dan kue Juni 5th, 2014 05:21 am Balas

    terimakasih atas informasi yang sudah dipaparkan di halaman ini semoga adminnya tambah semangan untuk ngurus web ini
    sekalian saya ingin numpang link dibawah ini :

    resep bolu kukus
    resep ayam bakar
    resep opor ayam
    resep ayam goreng
    resep ayam panggang
    resep kue nastar
    resep donat

  36. jesse Juni 8th, 2014 20:28 pm Balas

    Kalaupun kita adakan penyulingan minyak (0il refinery) yg setara dg produksi minyak mentah kita, kita tetap akan berhadapan dg kartel perdagangan minyak dunia yg diatur utk mengatur negara mana yg hrs subur berkuasa dan negara mana yg hrs di bonsai sekerdil-kerdilnya. Subsidi hrs terus ada dg cara arus uang tunai dlm perhitungannya, krn kartel perdagangan minyak dunia membutuhkannya. Jadi dpt disimpulkan jgn berharap bisa surplus neraca dari minyak, jgn juga berharap surplus dr non migas. Jadi dari mana surplusnya ? Kita bermimpi saja, swasembada segala kebutuhan krn semua yg dibutuhkan manusia ada dibumi nusantara ini.

  37. aneka resep Agustus 2nd, 2014 21:03 pm Balas

    Penjelasan yang mantap, jadi tak pernah bosan untuk selalu berkunjung ke situs anda ini.

Leave a Reply